Certified Copy Kita mulai dari karya Abbas Kiarostami ini yang membawa Juliette Binoche menjadi best actress di Cannes.Melihat "Trailer dan Poster" nya jelas sumbu api tahun ini hampir dipastikan sangat marak.Kalau AMPAS tidak konservatif lagi dalam menyeleksi nominator Oscar dari wilayah independen, Juliette Binoche pasti tidak merasa sesial Charlotte Gainsbourg yang berakting habis habisan.



Uncle Bonmee who Can Recall His Past Lives Garis besar post ini sebenarnya digagaskan oleh kehadiran poster Uncle Bonmee yang akhirnya kelar juga. Melihatnya sepintas terutama aspek saturasi warnanya seperti mengingatkan poster filmnya Julian Schnabel.

Blue Valentine Michelle Willams sudah cukup lama tidak terdengar kabarnya , terakhir saya melihatnya di Deception sebagai gadis penggoda sayangnya tidak begitu berarti sebagai obat rindu. Melalui film yang di berikan review positive dari beberapa situs ternama ini,tidak khayal lagi film ini hadir membawa kerinduan tersendiri kepada istri almarhum Ledger ini.


Map Of The Sound Of Tokyo Jelas yang membuat film ini tampak menarik yakni dibintangi oleh "Rinko Kikuchi" ya mudah mudahan tidak sulit mendapatkan dvd nya.



Like You Know It All (Jal aljido mothamyeonseo) Salah Satu daftar dari film Korea yang boleh saya pertimbangkan mengingat saya tahu cara mereka menggarap film sangat manis bahkan eksekusinya bisa berbalik terlalu kejam.



Never Let Me Go film yang tidak pernah saya duga bertema thriller tentang perdagangan organ manusia dari tiga orang karakternya yang memiliki kaitan emosional sebagai sahabat. Hmm teringat Sympathy For Mr.Vengeance-nya Chan Wook



127 Hours Film yang sepertinya mengingatkan kita pada Into The Wild nya Sean Penn tampil dengan Poster dan Trailer yang menawarkan jiwa adventoures. Pantas jadi bahan bibir pergunjingan Oscar.


SOMEWHERE Sofia Coppola yang memboyong Golden Lion diajang Venice kemarin mendapat puja puji dari ketua dewan juri Tarantino "Film ini memang mempesona kami sejak awal," tutur Tarantino.
Film ini (spoiler alert!!) menampilkan kisah Johnny Marco, aktor Hollywood yang hidupnya berantakan. Namun, pada akhirnya, ia bisa memperbaikinya berkat bantuan Cleo, anak perempuannya yang masih berusia 11 tahun.


Winters Bone memiliki harapan besar memang menjadi inti dari kegiatan ini. Winters Bone yang sejak awal sudah lari super kencang dikancah festival Sundance tetap pantas dinanti sebagai kandidat perhelatan akbar nanti.Kalau Precious saja yang sama sama meraih Grand Jury Price kebagian tempat sebagai nominator best pictures Oscar.., kenapa Winter's Bone tidak?


Black Swan Aronofsky yang begitu terampil mengarahkan Mickey Rourke tahun 2008 lalu jelas menjadi label yang sangat dibutuhkan Portman untuk unjuk kemampuan ditahun ini.Aku mendukungmu Portman

The Grand Master Kehadiran Wong Kar Wai tahun ini mentasbihkan tahun ini sangat sangat ramai dibanjiri film film yang dilabeli sutradara kenamaan.Kita lihat saja akankah Wong Kar Wai mampu berbicara banyak disini.

Nantikan 11 Poster Film Parade lain yang akan diposting tidak lama lagi. Intinya tahun ini begitu meriah hanya saja cara me list daftar seperti ini ada kurangnya juga siih. Apa itu? Lum tentu posternya keluar, contohnya Tree Of Life, In The Qing Dynasty dan Turin Horse.
So What Movie that You Are Waiting???


Dua pagelaran Film Festival ternama didunia akhirnya diumumkan. Cannes yang sudah lebih dahulu digelar memberikan kemenangan yang sangat menggembirakan buat sutradara serumpun kita "Apichatpong Weerasethakul" yang memang sudah familiar dimata international. Sutradara yang sudah berlalu lalang dalam membuahkan karya art house itu disambut meriah oleh juri juri Cannes yang diketuai oleh sutradara gotik Tim Burton.Tahun inilah saatnya beliau sudah harus dipertimbangkan oleh juri Hollywood khususnya Ampas yang juga tersiar kabar mendaftarkan "Uncle Bonmee Who Can Recall His Past Lives" masuk dalam Oscar Entries.

Nah untuk Venice Film Festival sendiri yang dikomandani Quentine Tarantino dimenangkan oleh "Somewhere"by Sofia Coppola. Kemenangan tersebut jelas membuka jalan film yang paling saya nanti ini semakin mantap.

Hasil lain yang ternyata diluar dugaan Black Swan yang diarahkan oleh Darren Aronofsky tidak berhasil mengantarkan Natalie Portman menjadi best actress.Padahal untuk seorang Aronofsky ia begitu paham bagaimana membuat aktornya tampil diatas rata rata. Lihat saja Mickey Rourke dan Ellen Burstyn yang tidak begitu sulit meraih atensi. Well walau masih terlalu awal menduga duga Natalie Portman tetap saya unggulkan tidak hanya meraih puja puji tapi berbuah piala bergengsi.
Inilah daftar pemenang Cannes dan Venice Film Festival. Harap maklum bila daftar Cannes sudah tidak update lagi lantaran saya berkeinginan menunggu hasil Venice dan mempostnya secara bersamaan.

CANNES FILM FESTIVAL LIST OF WINNERS

PALME d'OR
Uncle Bonmee Who Can Recall his PAst Lives,
Thailand

Grand Prize
Of Gods Of Men ,
France

Jury Prize A Screaming Man, Chad

Best Director
Mathieu Amalric "On Tour",
France

Best Actor (tie)
Javier Bardem "Beautiful"
Mexico, Elio Germano "La Nostra Vita" Italia

Best Actress
Juliette Binoche "Certified Copy"
Iran

Best Screenplay
Lee Chand Dong "Poetry"
South Korea

Camera d'Or
Michael Rowe "Ano Bisiesto" Mexico

Best Short Film
Chienne d'Histoire

IN COMPETITION

“Another Year,” U.K., Mike Leigh
“Biutiful,” Spain-Mexico, Alejandro Gonzalez Inarritu
“Burnt by the Sun 2,” Germany-France-Russia, Nikita Mikhalkov
“Certified Copy,” France-Italy-Iran, Abbas Kiarostami
“Fair Game,” U.S., Doug Liman
“Hors-la-loi,” France-Belgium-Algeria, Rachid Bouchareb
“The Housemaid,” South Korea, Im Sang-soo
“La nostra vita,” Italy-France, Daniele Luchetti
“La Princesse de Montpensier,” France, Bertrand Tavernier
“Of Gods and Men,” France, Xavier Beauvois
“Outrage,” Japan, Takeshi Kitano
“Poetry,” South Korea, Lee Chang-dong
“A Screaming Man,” France-Belgium-Chad, Mahamat-Saleh Haroun
“Tournee,” France, Mathieu Amalric
“Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives,” Spain-Thailand-Germany-U.K.-France, Apichatpong Weerasethakul
“You, My Joy,” Ukraine-Germany, Sergey Loznitsa

UN CERTAIN REGARD

“Adrienn Pal,” Hungary-Netherlands-France-Austria, Agnes Kocsis
“Aurora,” Romania, Cristi Puiu
“Blue Valentine,” U.S., Derek Cianfrance
“Chatroom,” U.K., Hideo Nakata
“Chongqing Blues,” China, Wang Xiaoshuai
“The City Below,” Germany-France, Christoph Hochhausler
“Film Socialisme,” Switzerland-France, Jean-Luc Godard
“Ha Ha Ha,” South Korea, Hong Sang-soo
“Les Amours imaginaires,” Canada, Xavier Dolan
“Life Above All,” France, Oliver Schmitz
“Los labios,” Argentina, Ivan Fund, Santiago Loza
“Octubre,” Peru, Daniel Vega
“Qu’est-il arrive a Simon Werner?,” France, Fabrice Gobert
“Rebecca H.,” France, Lodge Kerrigan
“R U There,” Taiwan, David Verbeek
“The Strange Case of Angelica,” Portugal, Manoel de Oliveira
“Tuesday, After Christmas,” Romania, Radu Muntean
“Udaan,” India, Vikramaditya Motwane

OUT OF COMPETITION

“Robin Hood,” U.S.-U.K., Ridley Scott
“Tamara Drewe,” U.K., Stephen Frears
“Wall Street 2: Money Never Sleeps,” U.S., Oliver Stone
“You Will Meet a Tall Dark Stranger,” U.K.-Spain, Woody Allen

MIDNIGHT SCREENINGS

“Kaboom,” U.S.-France, Gregg Araki
“L’autre monde,” France, Gilles Marchand

SPECIAL SCREENINGS

“Abel,” Mexico, Diego Luna
“Chantrapas,” France, Otar Iosseliani
“Draquila — L’Italia che trema,” Italy, Sabina Guzzanti
“Inside Job,” U.S., Charles Ferguson
“Nostalgia de la luz,” France, Patricio Guzman
“Over Your Cities Grass Will Grow,” Netherlands, Sophie Fiennes



VENICE FILM FESTIVAL LIST OF WINNERS

BEST FILM GOLDEN LION

- "Somewhere" directed by Sofia Coppola (United States)

SPECIAL LION (CAREER AWARD)

- Monte Hellman for "Road to Nowhere" (United States)

BEST DIRECTOR SILVER LION

- Alex de la Iglesia for "Balada Triste de Trompeta" (Spain)

SPECIAL JURY PRIZE

- "Essential Killing" directed by Jerzy Skolimowski (Poland)

BEST FIRST FEATURE

- "Cogunluk" by Seren Yuce (Turkey)

BEST ACTRESS

- Ariane Labed in "Attenberg" (Greece)

BEST ACTOR

- Vincent Gallo in "Essential Killing" (Poland)

EMERGING PERFORMER

- Mila Kunis in "Black Swan" (United States)

BEST SCREENPLAY

- "Balada Triste de Trompeta" (The Last Circus), written and directed by Alex de la Iglesia (Spain)

(Editing by Michael Roddy)



Pasca penyutradaraannya lewat "Bronson" yang menghasilkan sentuhan absurditas, sutradara eksentrik asal negeri Denmark Nicolas Winding Refn memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya mengarahkan kisah berbau kolosal dari tanah skotlandia "Vallhalla Rising".Nicolas Winding Refn mengakui proses pembuatan film yang bertitik tumpu pada kematangan akting Mad Mikklesen(well kita mengenalnya sebagai lawan judi Bond di Casino Royale) ini membutuhkan waktu selama empat tahun sehingga imajinasi yang ia harapkan sesuai dengan hasil akhir yang tercipta.Film independent yang sempat menjadi bahan diskusi banyak kalangan lantaran kesadisan scene scene didalamnya ini sukses menjadi 13 Most Anticipated Movie Toronto International Film Festival 2010. Sebenarnya Nicolas Winding Refn bukanlah penghasil film film laku dan komersil paling tidak namanya sudah cukup dikenal dengan film Push yang mengambil setting setting di Copenhagen. Harus diakui juga bahwa masa masa kejayaan film film indpenden tahun ini sedang melambung. Dibanjiri oleh ragam tema, ragam asal negarayang memproduksi dan satu lagi ragam style. Sudah tidak dapat dibantah lagi style seorang sutradara sangat dibutuhkan dalam memberikan kesan yang kuat dimata audiencenya. Apakah Valhalla Rising memenuhi kriteria tersebut. Jawabannya "sangat".

Alkisah seorang bekas pejuang suku Viking bernama One Eye ditawan dan dipaksa berkelahi habis habisan untuk memenangkan perjudian atasannya. Dari hasil perjudian itulah ia bisa bertahan hidup dan mendapatkan makanan. Seorang anak dekil bernama Are secara rutin ditugaskan mengantarkan makanan dan air kepadanya yang tinggal disebuah kerengkeng kayu. Didalam kerengkeng tersebut ia tetap dijaga ketat oleh beberapa penjaga yang mengitarinya.
One Eye yang ternyata bisu disepanjang alur cerita diperlihatkan memiliki kemampuan lebih dalam menerawang kejadian kejadian yang akan terjadi kedepan. Dengan visualisasi yang sangat kental berwarna merah pekat, ia merencanakan meloloskan diri dengan sisa sebuah mata panah yang terletak didalam sebuah kolam tempat dia berendam.Dengan perencanaan yang sangat rapi dan menegangkan One Eye berhasil memutuskan tali yang melilit lehernya selama digiring dipendakian dan membunuh semua serdadu serdadu tersebut (jangan lupakan adegan merobek isi perut yang membuat tubuh mual) kecuali Are yang lantas mau mengikutinya kearah mana ia berjalan. Ditengah pengelanaan merekaberdua menuju jalan pulang mereka bertemu dengan rombongan suku Viking lain yang sedang beristirahat. Suku Viking tersebut akan mengadakan perjalanan jauh menuju Yerusallem, Tanah Suci mereka yang telah dikuasai oleh pihak lain.Mereka akan mengadakan perang besar sesuai dengan apa yang mereka percayai bahwa dengan mengorbankan darah dan daging mereka, dosa dosa yang telah mereka perbuat akan diampuni. Pemimpin kaum Viking itu membujuk One Eye untuk bergabung dengan mereka. Mereka berdua akhirnya mengikut kaum tersebut menuju tanah Yerussalem.

Perjalanan yang menggunakan kapal kayu tersebut membutuhkan waktu yang teramat lama. Kelaparan,rasa haus dan penderitaan melanda mereka. Tidak ada yang bisa dikonsumsi. Pun demikian salah satu dari mereka nekat meminum air laut yang memiliki kadar garam yang meracuni tubuh dan mati seketika.Mereka pun bertanya tanya dalam hati apakah yang akan terjadi selanjutnya? apakah mereka sampai di tanah Suci tersebut? atau mereka salah haluan...
Apakah ketersesatan mereka disebabkan membonceng sibisu yang misterius yang sempat dikatakan Are , One Eye "
datang dari neraka...."

"kelam, sadis namun indah" menyaksikan Valhalla Rising kita seperti menyimak potret potret khas Terreance Malick dengan nuansa horor.Ya kita kenal beliau adalah sutradara yang paling lihai dalam urusan ini. Dan olahan Winding Refn dengan jalinan naskah yang tidak memadai ditambah referensi yang rumit ia mengajak kita untuk mengambil esensi bernilai sebuah sinema berupa gambar gambar yang teruntai dari satu frame ke frame lain. Kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang begitu panjang dan tidak terselesaikan yakni "siapa Valhalla yang dimaksud?" begitu juga dengan karakter One Eye yang misterius tentang asal usul dan tujuannya didalam. Ada gagasan gagasan yang sangat filosofis yang dibangun sang sutradara dalam menghadirkan konflik didalamnya. Sebuah sajian yang begitu tinggi pemahamannya. Walau bagi saya setting dan waktu film ini tampak tidak begitu akurat, Valhalla Rising tampak menjanjikan sebagai karya yang pantas diapresiasi walau dengan tanda kutip tidak semua bisa dengan mudah menyukainya.

Film ini juga dihadirkan dalam enam chapter dengan maksud mendongkrak keintensan ceritanya yang dinilai tidak biasa , apalagi durasinya yang hanya sembilan puluh menit serasa begitu berharga setiap gambar yang ditake.Adegan sadis didalamnya tampil begitu indah dan dengan memamfaatkan pebukitan Eropa yang menjulang, sang sinematogapher dengan jeli tidak mensiasiakan begitu saja scene tersebut.

Valhalla Rising adalah sebuah pencapaian yang sangat mengagumkan selama saya menyaksikan kehadiran film film paruh awal ini, ia tampil dengan luar biasa. Andai durasinya diperpanjang dan dijadikan sebuah
epic movie tidak bisa disangkal lagi film ini akan diingat sebagai karya yang monumental.


Directed by Nicolas Winding Refn, Cast Mad Mikelssen, Maarten Stevenson, Grodon Brown, Andrew Flanagan, Gary Lewis,Alexandre Morton Screenplay Ray Jacobsen, Nicolas Winding Refn Running Time 93 menit Company BBC Films Country Denmark,UK
.................................
New Line Cinema Score
A-




Tidak banyak yang tahu Jepang yang berjuluk negeri Sakura menyimpan suatu tradisi kuno yang bahkan masih dijadikan profesi dari sebagian kecil masyarakatnya. Ditengah era dimana profesi tidak hanya dijadikan sebagai sumber menafkahi diri namun juga dijadikan alat mencari gengsi dimata sahabat dan rekan terdekat, dapatkah profesi ini dijadikan sebagai suatu pilihan?

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) adalah seorang pemain cellist disebuah grup di Tokyo. Karena Kecintaan dan keseriusannya dalam mendalami profesi tersebut ia rela membeli harga cello berkualitas tinggi dan sangat mahal seharga 18 juta yen tanpa sepengetahuan istrinya Mika (Ryoko Hirosue). Namun sayangnya karena peminat dan anggota grup tersebut semakin berkurang, sang pemilik grup dengan berat hati harus menutup grup tersebut. Daigo kalang kabut mendengar kabar tersebut. Sementara kemampuannya hanya sepenuhnya tercurah kepada seorang cellist, ia sangat putus asa dan bersama sang istri akhirnya pindah ke rumah orang tuanya di Yamagata.Disana Mika mendukung ia sepenuhnya mencari pekerjaan yang baru walau Daigo sepertinya tidak begitu yakin ia akan mampu bekerja maksimal untuk itu.
Daigo akhirnya mendapatkan sebuah lowongan pekerjaan disebuah iklan yang memakai nama NK Agency dimana terletak kata Departures yang tidak begitu jelas maksudnya. Daigo menganggap iklan tersebut barangkali adalah agen perjalanan, hanya saja tampak aneh karena tidak dibutuhkan pengalaman dan keahlian yang cukup berarti untuk memasukinya. Daigo akhirnya meyakinkan diri untuk melamar pekerjaan tersebut. Sesampainya disana alangkah kagetnya Daigo Kobayashi mengetahui iklan yang mengatasnamakan NK tersebut adalah salah ketik yang seharusnya diketik nōkan. Dan tahukah anda pekerjaan nōkan tersebut? Ya tidak lain adalah pemandian jenasah sebelum dimasukkan kedalam peti kubur. Daigo kaget dan menolak pekerjaan tersebut, hanya saja boss yang ia temui sudah menyodorkan gaji bulanan cukup tinggi seharga 500 ribu yen. Dengan tidak adanya lagi pilihan yang Daigo miliki ia dengan hati terpaksa menerimanya.

Daigo pulang dan bertemu dengan Mika yang langsung menanyai seputar tes wawancara tersebut. Daigo awalnya menyembunyikan kebenaran profesi yang ia terima, bukan rahasia lagi kalau pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang tampak sangat memalukan dan memegang mayat adalah hal yang sangat menjijikkan.Terlebih ketika Mika mengetahui semuanya dan tidak bisa menerima hal tersebut dan memutuskan untuk pulang kerumah orangtuanya. Lantas apakah Daigo berhenti disitu saja?


Melihat Departures kita akan melihat perkembangan diri dari seorang Daigo yang mendapatkkan pengalaman baru yang dipenuhi warna warna kesedihan tentang kepergian seseorang yang dicintai.Lambat laun ia mulai meresapi setiap gerakan gerakan sakral itu, juga dengan riasan yang mengoles diwajah sang jenasah, sehingga jenasah tampak cantik dan anggun. Jenasah tersebut akan tampak dengan sangat bahagia untuk diberangkatkan kepemakaman, begitu juga dengan keluarga yang ditinggalkan. Dari pengalaman yang sangat menggugah itulah Daigo akhirnya sadar akan sisi kehidupan lain yang selama ini tidak begitu ia miliki, terlebih terhadap kekeliruannya terhadap sang ayah yang telah meninggalkan ia dan ibunya selama puluhan tahun.Kita akan mengetahui seberapa buruknya hubungan ia dengan sang ayah melalui sebuah batu yang dijabarkan secara implisit dan filosofis.


Kita akan mempelajari banyak hal disini tentang ritual nokan yang sangat indah tersebut. Sebuah ritual yang sangat menghromati datangnya sebuah kematian, tidak hanya untuk sekadar memandikan mayat namun lebih dari itu. Sebuah tradisi yang sangat saya kagumi yang pernah Jepang miliki. Priceless.



Melalui Departures kita akan memaknai sebuah profesi dari segi mana kita memandangnya sebagai sebuah pekerjaan yang memiliki artian tersendiri, sehingga ada penghormatan yang dibarengi dengan penghargaan didalamnya.Sejauh mana hal itu akan berarti buat diri anda maka sejauh itu pula Anda akan menghargai kehadirannya sebagai suatu penghargaan dalam diri anda.Untuk itu bagi seseorang yang masih belum dapat menerima sebuah pekerjaan yang dilaluinya atau bahkan cenderung membosankan, kita dituntut untuk membuka jalan kita sendiri dalam sebuah pengamatan lain. dengan pengamatan yang lain itulah maka jalan menuju kesuksesan akan hadir secara utuh dan menyeluruh.

Directed by : Yojiro Takita
Cast : Masahiro Motoki, Tsutomu Yamazaki, Ryoko Hirosue
Score : 3.5/5






Bagaimanakah ketika manusia dengan kemajuan teknologi komputerisasinya menciptakan sebuah robot yang di stel memiliki indera perasaan? Akankah manusia dapat memperlakukan secara adil sebuah penciptaan sebagaimana Tuhan dapat memperlakukan Adam sebagai karya-Nya yang paling mulia.Dari legendaris Stanley Kubrick kepada Steven Spielberg diangkatlah sebuah desain futuristik yang diadaptasi dari cerita pendek "Supertoys Last All Summer Long" karya Brian Aldiss berjudul Artifisial Intelligence.


Diawali dengan naskah pembukaan ketika ancaman pemanasan global bukan isapan jempol belaka dan kekacauan kekacauan besar melanda negara negara miskin didunia. Kota Venice, New York dan kota lainnya telah tenggelam dengan kenaikan air laut. Pasokan makanan dari lumbung padi dunia semakin menipis disertai dengan bencana kelaparan. Peniliti peneliti didunia bersikeras untuk menciptakan sebuah solusi futuristis yakni bagaimana robot dilibatkan sebagai mesin pekerja yang mendobrak dengan efisiensinya. Robot tidak membutuhkan makanan sebagaimana manusia sebagai makhluk organik yang membutuhkan food supply setiap hari. Digagaskan oleh perusahaan Cybertronics dimana sang pemilik Professor Allen Hobby (William Hurt) mendamba dambakan Meca (aka robotic) yang memiliki perasaan dan cinta seperti halnya manusia.

Ketika diadakan studi tentang cinta seperti apakah yang dimaksudkan Dr.Hobby, Ia menjawab cinta yang tidak bernaluri terhadap psikis namun cinta yang berasaskan emosi seperti kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Begitulah film ini menceritakan sebuah keluarga yang menerima robot untuk digantikan oleh seorang putra yang hampir dipastikan meninggal karena penyakit yang menggerogotinya. Sang istri ,Monica(Frances O'Connor) awalnya marah kepada Henry (Sam Robards), sang suami karena merasa anaknya tidak bisa digantikan oleh meca yang mirip manusia sekalipun. Namun karena menganggap pemberian sang suami tersebut dapat mengobati luka mendalamnya, akhrinya ia menerima Meca yang bernama David tersebut.
Melalui pemrograman yang permanen dan tidak dapat diubah lagi, David (Halley Joel Osment) akan selamanya menganggap Monica sebagai ibunya. Lantas apabila Monica salah memutuskan tentang kesiapan dan pertanggungjawabannya tersebut David mau tidak mau harus dihancurkan sebagai Meca yang ilegal dan tidak memiliki status kepemilikan.

Artifisial Intelligence secara perlahan lahan menunjukkan perkembangan diri David yang hidup dalam dunia sehari hari manusia. Ia sangat suka memperhatikan Monica bila menyediakan segelas teh, melihat cara mereka makan dan memasukkan makanan kedalam mulut, begitu juga ketika ia dengan sangat senang mendengarkan Monica menceritakan dongeng anak anak berjudul Pinokio yang mengubah hidupnya.Tetapi ketika Monica terpancing dengan kesalahan kesalahan mendasar sebuah Meca yang malah dirasa semakin merumitkan hidupnya , kedua pasangan itu sepakat membuang David bersama tedy, boneka beruang kedalam hutan. David yang awalnya menganggap mereka sedang bermain petak umpet malah tersadar dan menangis tersedu sedu meminta Monica untuk memaafkan kesalahannya dan tidak membuangnya. Ia terus merangkul Monica dan mengatakan kalau seorang Pinokio dapat berubah menjadi seorang anak laki laki seutuhnya , "maukah Monica kembali menerimanya?"


Steven Spielberg pantas kita puja puji dalam menempatkan sebuah cerita yang otentik dan dibarengi dengan visual effect yang menghipnotis. Dengan pendekatan yang sangat dramatis Steven Spielberg hendak memperolok olok serba serbi teknologi yang kita miliki namun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Lihatlah David yang sangat menginginkan menjadi seorang anak laki laki dan memohon mohon kepada manusia yang merasa terancam dengan cinta mereka yang begitu tulus. Sampai ia berjuang mencari Peri biru yang ia dengar sebagai sosok yang dapat mengabulkan permintaannya , membawa ia berpetualang memperjuangkan takdir dan masa depannya.Dan narasi ending ini adalah hal yang sulit dilupakan dan itu semua akan membuatmu berubah terhadap penghargaan diri kita sebagai manusia.



Menyaksikan A.I kita diajak untuk mempersiapkan diri untuk hidup berdampingan bersama robot yang memiliki perasaan murni. Dan ketika ia sangat menyayangi diri kita apa adanya, perlukah kita membalasnya?



Film ini mempertemukanku kembali dengan aktor muda paling multi talented yang pernah saya temui, Hally Joel Osment. Pasca penampilan dinginnya di The Sixth Sense yang mensejajarkan dirinya sebagai aktor dalam perebutan piala Oscar, ia tampil sangat cemerlang sebagai David, Si robot Meca yang tidak bisa makan dan buang air. Melihat gerak geriknya, bola matanya dan apa yang dipikirkannya kita pasti percaya bahwa ia memang robot betulan.Luar biasa. Dan anda bisa lihat foto disamping ini ketika ia masih kecil dan sekarang berusia 22 tahun. Kini ia lebih sering membintangi film diluar produksi Hollywood sehingga belakangan namanya redup walau mustahil sampai tenggelam. Kita nantikan saja kiprahnya kedepan akankah ia kembali menghangatkan Hollywood sebagai suatu tempat yang dibanjiri orang orang jenius seperti dirinya.




Directed by : Steven Spileberg
cAst : Halley Joel Osment,Frances O' Connor,Sam Robards, William Hurt, Jude Law.
Score : 4.5/5


Diberdayakan oleh Blogger.