Cinta adalah sebuah kata yang tak berkesudahan untuk dibahas, tidak dalam puisi,novel,roman, opera sabun atau bahkan sinetron, cinta dieksplorasi dalam tiap lini sudut keinginan dan kedalaman imajinasi sang kreator.Apakah cinta itu tampak sangat menggetarkan dan menggairahkan? atau malah cinta diumbar sebagai skenario yang terlampau dipaksakan dan terlihat palsu. Luca Guadagnino dalam kesempatan kali ini dengan sangat tegas menggaungkan kalimat "I AM LOVE" sebagai kalimat yang tampak begitu agung dan dahsyat sebagai garis besar tema yang hendak dituturkan. Melalui potret karakter Emma yang diperankan dengan sangat apik oleh Tilda Swinton, cinta meletup menjadi sebongkah rasa yang begitu menggugah. Diceritakan Emma yang berasal dari Rusia menikahi Trancedi Recchi seorang industrialis Italia.Walau Emma terlihat tampak begitu bahagia dengan keluarga yang dibangunnya , Emma merasakan ada keterkungkungan yang selalu melanda hati dan jiwanya, ketika ia menyadari ada aspek kebebasan yang tidak ia dapatkan selama ini.Oleh karena itu ia begitu memahami putrinya Betta yang menyukai sesama jenis,ketika semua anggota keluarganya tidak ada yang akan mau mendengarkan kecuali dirinya, Emma benar benar menghargai cinta yang dimiliki putrinya tersebut.Cinta juga tampak begitu bijaksana, ketika kapitalisme masih membedakan siapa orang orang besar dan siapa kelompok kecil, cinta seorang Emma meleburkan semua batasan itu dengan sangat manusiawi.Tampak ketika pembantu setianya Ida diajak oleh Emma makan bersama, secara halus Emma mengatakan kepada kita cinta itu melepaskan atribut yang kita miliki.

Cerita semakin tajam ketika ia diperkenalkan oleh teman putranya Eduardo,Antonio seorang koki muda yang pada suatu kesempatan menghidangkan sebuah sajian istimewah dikeluarga Recchi.Ketika Emma mencicipi masakan dari Antonio , gairah yang selama ini tak ia dapatkan lagi tergugah dengan rasa yang memanjakan rongga mulut Emma dan diperlihatkan dengan shoot shoot fantasi yang membuat jiwa melayang layang. Emma pun sadar dari lubuk hati terdalam bahwa bumbu bumbu masakan Antonio membuat ia jatuh cinta kepadanya.terjalinlah hubungan gelap diantara keduanya.
Kenikmatan itu memuncak ketika cinta diantara keduanya adalah sebuah erotisme yang mendebarkan.Penonton diajak menyelami kenikmatan itu dengan atmosfir yang lepas dan menggairahkan, bercumbu dihamparan rumput yang hijau, ditemani aroma udara yang menyegarkan dan ditingkahi suara suara serangga nan alami.

Cerita terbongkar oleh Eduardo sang putra yang mengetahui perbuatan tabu sang ibu.Pun ia merasakan hal itu karena ia begitu mencintai keluarga yang ia miliki dan ditengah itu, Eduardo ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam.Didalam "I Am Love" cinta menjadi sebuah aspek kehidupan yang terlihat sangat jujur,ketika hembusannya menghempas dada seseorang, ia ingin direnggut,dimiliki dan diraih sebagai bagian dari kebebasan diri.Ia adalah detak jantung yang menggebu dan begitu rumit untuk dijelaskan secara terperinci, melalui Emma cinta dapat dijelaskan dalam tataran yang sesungguhnya.

kehadiran I Am Love tentu menawarkan suatu hasil yang mengejutkan bagi saya yang selama ini sedikit skeptis dengannya.I Am Love menawarkan cita rasa yang begitu kompleks dengan aroma Italia yang menawan dengan balutan score yang terdengar begitu empuk.Lihatlah arsitektur rumah keluarga Recchi ini begitu mempesona begitu juga dengan adegan menggebu gebu Emma membuntuti Antonio yang sampai membawa ia ke lanskape pegunungan yang hijau dan menyejukkan, dan saya senang warna orange yang ia kenakan melengkapi nuansa seksi film ini.

Directed by Luca Guadagnino Cast Tilda Swinton Falvio parenti Eduardo Gabbriellini Pippo Delbono Maria Paiato Genre Drama Romance Country Italy Running Time 12o minutes
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...............................................
A+











Elegi sebuah drama kehidupan, disaat seseorang yang teramat berarti bagi diri kita pergi bagai tertiup angin, ada sebuah ketakutan ketika hidup akan terasa jauh lebih berat.Entah seseorang tersebut adalah istri,suami,anak ataupun sahabat dekat, luka itu terpintas dalam bayang bayang ingatan yang tersingkap dalam bilik kerapuhan.Perhatikan baik baik bagaimana elegi itu dikemas oleh sang sutradara bernama Tom Ford. Bagi yang sudah merasa familiar dengan kiprahnya didunia perancang busana pasti akan bertanya tanya mau apa sih dia masuk ke dunia sinematography? Jika kita menilai hal ini dianggap sebagai sebuah project debutan yang asal asalan maka kita pantas merasa bersalah. Biarkan seorang designer berkarya.Biarkan Tom Ford mengangkat novel yang diakuinya adalah novel kesayangannya itu.Toh pada kenyataanya kita harus mengakui sebuah profesi adalah afirmasi talent dan talent bukan sekedar gaya gayaan.Kembali pada statement "paket yang telah saya singgung tadi apa sih yang menjadi sumbu peletup seorang Tom Ford sehingga merasa sanggup menangani film dari home studio Weinstein Company ini? Tak usah berpikir jauh jauh mari saya antar anda melihat kepiawaian dia mempermainkan "warna" didunia sinema seperti halnya ia mempermainkan kombinasi warna dibusana.

Warna adalah ilustrasi yang paling tepat mengungkapkan secara melankolis beban seperti apa yang sedang ditanggung oleh George Falconer (Collin Firth) Si Profesor sastra inggris maskulin yang sering dipanggil Old Man oleh orang orang terdekatnya. Oh ia sedang ditinggal mati kekasihnya Jim.


Kepergiaan Jim adalah kegundahan.Kepergian Jim adalah kesenduan.Kepergian Jim adalah alasan terbukanya suatu tanda tanya "adakah harga hidup selepas itu"? Dan haruskah ia menuruti kata hatinya untuk segera mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol kedalam mulutnya setelah kehampaan menjalani delapan bulan itu, membuat para nomaters merasa dipanggil panggil "hey hey bantu dong dia.?!''.
Mungkin banyak yang jengkel haruskah kehilangan kekasih semacam itu harus didramatisir dengan porsi porsi yang kelewatan dan terlebih tidak adanya scene scene yang memperkuat arah mengapa ia harus mengakhiri hidup dan sekuat apakah hubungan diantara keduanya?

Jika dianggap mengakhiri hidup dengan cara cara seperti itu dianggap malah sangat romantis ada kalanya ruang didalam cerita ini hendaknya sedikit diperlebar sehingga penontonpun merasa lumrah jika kondisi psikologisnya harus mengatakan demikian.Disaat saat terakhir itulah George menghampiri orang orang terdekatnya, seperti keseharian keluarga Strunk, memberi sedikit uang kedalam amplop kepada pembantunya sebagai ungkapan terima kasih dan terakhir mengunjungi Charly mantan kekasihnya dulu sewaktu mereka di London dulu.


Pola pola warna yang sarat sarat penafsiran menjadi jembatan transmital menghubungkan apa yang dialami George, apa yang terjadi disekitarnya dan apa yang coba dikenangnya. Biru adalah unsur religi dan merah adalah amarah. Begitu juga ketika kita melihat masa lalu George dan Jim ketika mereka bercengkrama disebuah pebukitan berbatu , layar berpindah drastis menjadi grayscale yang begitu kontras. Ketika ia tersadar dari lamunannya atau masa kini warna layar menjadi sephia dan muram, mengingat masa masa ia masih terkungkung didalam kedukaannya. Berpindah ketika ia keluar ruangan dan melihat keluarga Strunk dan keceriaan anak anak mereka bemain main ditaman warna berubah menjadi amat kontras.

Menyaksikan A Single Man tentu yang menjadi apresiasi yang tinggi pantas disematkan kepada seorang Collin Firth bagaimana ia dapat menterjemahkan karakter metroseksual yang modern,rapi dan sopan.Hampir sedikit ragu juga akankah ia bisa melepaskan image aristokrat inggris yang kaku didalam serial tivi Pride And Prejudice yang sangat kesulitan mengungkapkan perasaannya akan cinta. Ajaibnya pencapaian itu malah ditangani oleh seorang debutan bernama Tom Ford.
Khusus untuk Julian Moore walau dalam porsi peran yang sempit kehadirannya bak sebuah penyegaran bagi saya, lihatlah bagaimana ia mendalami karakter Charly yang bertahan lama hidup tanpa kehadiran suami dan anaknya. Bagaimana ia begitu merasa terhibur dengan dansaannya walaupun tampak begitu ada kegetiran yang teramat dalam diguratan wajahnya. Saya juga mau mengingatkan adegan didepan rumah Charly pada saat George berkunjung , tampak mawar begitu elegannya di shoot dengan warna merah yang kontras. Sebenarnya ada pesan yang begitu halus pengungkapannya ketika George bertemu lagi dengan Charly mantannya yang paling memahami bagaimana dirinya dan kedekatannya dengan Jim.
Namun ketika George sendiri lagi didalam rumahnya warna warna yang cerah itu hilang, bahkan kalau dipikir pikir terlalu menyakitkan jika kita membandingkan warna warna kelam George dengan warna warnanya keluarga Strunk.

Disisi lain Tom Ford memberi gambar gambar shot shot photo seperti yang biasanya tampak di majalah majalah designer yang sangat memperhatikan saturasi warna dan sudut sudut penangkapannya. Seperti ketika George melalui sudut pandangnya melihat seorang pria bermain tennis yang memperlihatkan sudut sudut artistik keindahan tubuh pria, atau ketika sekretaris yang dijumpainya dikampus pengambilan sudut sudut kelopak mata begitu jelas dan cerah.

Menyaksikan A Single Man perubahan dalam hidup itu memang terjadi seperti mengajak kita mengambil asumsi bahwa warna adalah aura hidup. Ia mengajak bahwa setiap interpretasi itu ada maknanya dan setiap makna ada dalam hidup kita jika kita mau mengambil dan bangkit keluar dari itu. Tidakkah hidup terasa sangat menyesakkan ketika warna warna kelabu kita anggap sebagai kebahagiaan dan masa depan yang benar adalah hidup dimasa lampau. Kehadiran Kenny Potter salah satu mahasiswa yang dididiknya menjadi kunci penting disini. Walau seolah olah gerak geriknya mencurigakan dan seperti sedang kerasukan ia seperti metafora yang hadir dihadapan George yang menyadarkan George secara tidak langsung pilihan yang telah ia pilih dicegah olehnya.Dan hey apakah eksekusi kematian George adalah pilihan yang setimpal? Simak saja sendiri...

Directed By Tom Ford Cast Collin Firth Nicholas Hault Julianne Moore Matthew Goode Running Time 99 minutes Country UK Distributed By Weinstein Company & Fade To Black
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
.................
A-








Jika ditanya apa sih cita cita Anda ? Seorang dokterkah dengan stetoskop menggantung ditelinga? Atau seorang jurnalis yang setiap harinya meliput kejadian kejadian terbaru dengan membawa kamera dan catatan kecil ?
Namun jika ditanya apa alasannya memilih cita cita tersebut Anda malah menjawab untuk menyenangkan orang tua semata benarkah anda akan mendapatkan kebahagiaan dalam menjalankannya ? Sedikit cerita tentang pengalaman saya mengenai hal ini, ketika orang tua saya menganggap saya pintar dalam belajar dan berharap penuh agar kelak anaknya menjadi dokter, mereka menyekolahkan saya jauh jauh ke sekolah favorit se "Indonesia". Dalam prosesnya memang sangat jauh dari harapan, ketika pola pola belajar saya sudah mulai tidak disiplin dan kegemaran alamiah saya mulai diprioritasin , saya mulai sadar dengan apa dan siapa diri saya. Tidaklah mudah mengungkapkan apa cita cita saya ketika hal itu "berseberangan" dengan keinginan orangtua saya.
"Apa ?Komunikasi ..?Percuma kau kusekolahkan jauh jauh hanya untuk jurusan yang tidak kuinginkan itu..!!" Saya memang sulit untuk meyakinkan hal ini kepada orang tua saya. Namun ketika ia mengizinkan saya dengan rasa pesimisme, ada beban moral yang saya tanggung terhadap pilihan saya. Disinilah saya akan membuktikan kalau saya mampu berjalan dengan itu, paling tidak saya bahagia dengan itu..
....................................................................................
Begitulah Billy Elliot seorang anak dari sebuah keluarga rapuh di desa Durnham memilih mengenyam sekolah "tari balet". What's??!! Orang orang tentu akan bertanya dengan nada menggunjing bila mendengar hal itu. Sudah gilakah Si Billy itu? Gimana sih didikan orangtuanya? tidak malukah mereka punya anak seperti itu?

Jackie Elliot (Gery Lewis) sang ayah dirundung duka pasca ditinggal sang istri. Bersama dua orang putra Tony (Jamie Graven) dan Billy dan ibunya yang renta mereka hidup berdampingan menghadapi kerasnya perekonomian bahkan dengan jalan riskan untuk mogok kerja. Dengan begitu berambisinya Jackie mendapatkan uang sekecil mungkin ia memasukkan Billy untuk berlatih tinju. Billy yang merasa tidak ngeh dengan kegiatan itu memilih kegiatan ballet punyanya Mrs.Willkinson (Julie Walters) yang menumpang diruang tinju. Dari sinilah ia berlatih dengan begitu bersungguh sungguh walau ada perang didalam dirinya bahwa seorang pria harus berada dalam koridor pria.

Dari Billy Elliot kita belajar dan memahami alangkah indahnya mencintai kegiatan yang berasal dari lubuk hati yang tulus didalam diri kita ketimbang memilih cita cita yang hanya beralaskan membahagiakan orang tua kita semata.Melihat Billy kita tidak hanya perlu tahu keberhasilan seperti apa yang ia capai,namun Stephen Daldry sang sutradara tidak memaksakan tongkat keberhasilan itu dihumbar. Ia lebih menekankan bahwa ketulusan itu punya caranya sendiri untuk diproses didalam hidup dan ia sangat yakin bahwa keberhasilan itu juga tidak lantas kta terima mentah mentah tanpa perjuangan yang besar. Tidakkah perjuangan yang besar menghasilkan sebuah keberhasilan yang sama besar pula?Tanpa melihat Billy yang sudah dewasa sekalipun dengan tarian baletnya kita sudah memahami apa yang membuat film ini terasa begitu berharga didalam kehidupan. Sebuah pencapaian yang begitu menggugah dari Jamie Bell yang begitu luar biasanya memberi arti mendalam apa itu cita cita.
Dan satu lagi lagu penutup dari Stephen Gately- i believe merupakan lagu yang sangat klop dalam menutup film ini. Ada hati besar berupa optimisme yang ingin diselipkan kedalam kantung kantung pikiran penontonnya.Rasakan dan lakukan.....

Title Billy Elliot Cast Jamie Bell, Julie Walters, Gary Lewis & Jamie Draven Country UK Written By Lee Hall Runtime 110 minutes
New Line Cinema Scores
........
B+



Bagaimanakah ketika manusia dengan kemajuan teknologi komputerisasinya menciptakan sebuah robot yang di stel memiliki indera perasaan? Akankah manusia dapat memperlakukan secara adil sebuah penciptaan sebagaimana Tuhan dapat memperlakukan Adam sebagai karya-Nya yang paling mulia.Dari legendaris Stanley Kubrick kepada Steven Spielberg diangkatlah sebuah desain futuristik yang diadaptasi dari cerita pendek "Supertoys Last All Summer Long" karya Brian Aldiss berjudul Artifisial Intelligence.


Diawali dengan naskah pembukaan ketika ancaman pemanasan global bukan isapan jempol belaka dan kekacauan kekacauan besar melanda negara negara miskin didunia. Kota Venice, New York dan kota lainnya telah tenggelam dengan kenaikan air laut. Pasokan makanan dari lumbung padi dunia semakin menipis disertai dengan bencana kelaparan. Peniliti peneliti didunia bersikeras untuk menciptakan sebuah solusi futuristis yakni bagaimana robot dilibatkan sebagai mesin pekerja yang mendobrak dengan efisiensinya. Robot tidak membutuhkan makanan sebagaimana manusia sebagai makhluk organik yang membutuhkan food supply setiap hari. Digagaskan oleh perusahaan Cybertronics dimana sang pemilik Professor Allen Hobby (William Hurt) mendamba dambakan Meca (aka robotic) yang memiliki perasaan dan cinta seperti halnya manusia.

Ketika diadakan studi tentang cinta seperti apakah yang dimaksudkan Dr.Hobby, Ia menjawab cinta yang tidak bernaluri terhadap psikis namun cinta yang berasaskan emosi seperti kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Begitulah film ini menceritakan sebuah keluarga yang menerima robot untuk digantikan oleh seorang putra yang hampir dipastikan meninggal karena penyakit yang menggerogotinya. Sang istri ,Monica(Frances O'Connor) awalnya marah kepada Henry (Sam Robards), sang suami karena merasa anaknya tidak bisa digantikan oleh meca yang mirip manusia sekalipun. Namun karena menganggap pemberian sang suami tersebut dapat mengobati luka mendalamnya, akhrinya ia menerima Meca yang bernama David tersebut.
Melalui pemrograman yang permanen dan tidak dapat diubah lagi, David (Halley Joel Osment) akan selamanya menganggap Monica sebagai ibunya. Lantas apabila Monica salah memutuskan tentang kesiapan dan pertanggungjawabannya tersebut David mau tidak mau harus dihancurkan sebagai Meca yang ilegal dan tidak memiliki status kepemilikan.

Artifisial Intelligence secara perlahan lahan menunjukkan perkembangan diri David yang hidup dalam dunia sehari hari manusia. Ia sangat suka memperhatikan Monica bila menyediakan segelas teh, melihat cara mereka makan dan memasukkan makanan kedalam mulut, begitu juga ketika ia dengan sangat senang mendengarkan Monica menceritakan dongeng anak anak berjudul Pinokio yang mengubah hidupnya.Tetapi ketika Monica terpancing dengan kesalahan kesalahan mendasar sebuah Meca yang malah dirasa semakin merumitkan hidupnya , kedua pasangan itu sepakat membuang David bersama tedy, boneka beruang kedalam hutan. David yang awalnya menganggap mereka sedang bermain petak umpet malah tersadar dan menangis tersedu sedu meminta Monica untuk memaafkan kesalahannya dan tidak membuangnya. Ia terus merangkul Monica dan mengatakan kalau seorang Pinokio dapat berubah menjadi seorang anak laki laki seutuhnya , "maukah Monica kembali menerimanya?"


Steven Spielberg pantas kita puja puji dalam menempatkan sebuah cerita yang otentik dan dibarengi dengan visual effect yang menghipnotis. Dengan pendekatan yang sangat dramatis Steven Spielberg hendak memperolok olok serba serbi teknologi yang kita miliki namun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Lihatlah David yang sangat menginginkan menjadi seorang anak laki laki dan memohon mohon kepada manusia yang merasa terancam dengan cinta mereka yang begitu tulus. Sampai ia berjuang mencari Peri biru yang ia dengar sebagai sosok yang dapat mengabulkan permintaannya , membawa ia berpetualang memperjuangkan takdir dan masa depannya.Dan narasi ending ini adalah hal yang sulit dilupakan dan itu semua akan membuatmu berubah terhadap penghargaan diri kita sebagai manusia.



Menyaksikan A.I kita diajak untuk mempersiapkan diri untuk hidup berdampingan bersama robot yang memiliki perasaan murni. Dan ketika ia sangat menyayangi diri kita apa adanya, perlukah kita membalasnya?



Film ini mempertemukanku kembali dengan aktor muda paling multi talented yang pernah saya temui, Hally Joel Osment. Pasca penampilan dinginnya di The Sixth Sense yang mensejajarkan dirinya sebagai aktor dalam perebutan piala Oscar, ia tampil sangat cemerlang sebagai David, Si robot Meca yang tidak bisa makan dan buang air. Melihat gerak geriknya, bola matanya dan apa yang dipikirkannya kita pasti percaya bahwa ia memang robot betulan.Luar biasa. Dan anda bisa lihat foto disamping ini ketika ia masih kecil dan sekarang berusia 22 tahun. Kini ia lebih sering membintangi film diluar produksi Hollywood sehingga belakangan namanya redup walau mustahil sampai tenggelam. Kita nantikan saja kiprahnya kedepan akankah ia kembali menghangatkan Hollywood sebagai suatu tempat yang dibanjiri orang orang jenius seperti dirinya.




Directed by : Steven Spileberg
cAst : Halley Joel Osment,Frances O' Connor,Sam Robards, William Hurt, Jude Law.
Score : 4.5/5




Reinkarnasi dalam penafsirannya dikalangan umum adalah suatu hal yang belum dapat diterima secara menyeluruh. Seperti halnya dalam paradigma yang saya miliki, reinkarnasi hanya berlaku kepada orang orang pilihan dan tertentu saja yang dengan Kuasa Sang Khalik ia dilahirkan kembali membawa misi misi khusus yang diemban padanya. Apalagi kalau kita menerobos akar masa lalu suatu kepercayaan atau boleh dibilang agama sekalipun, reinkarnasi adalah hal yang sangat dekat dengan sistem tersebut. Tentu saja reinkarnasi memiliki sketsa sketsa tersendiri yang tidak terurai oleh ruas pemikiran yang biasa.Banyak studi studi yang mencoba membongkar kebenaran dan tujuan reinkarnasi, tidak ketinggalan juga dari dunia perfilman yang mencoba menyingkap reinkarnasi dari sisi drama yang kental.

Birth karya Jonathan Glazer menyuguhkan sepenggal drama seorang anak manusia yang mengaku ngaku lahir kedunia adalah reinkarnasi dari seorang suami. Dibuka dengan adegan dimusim salju ketika seorang pria berlari lari disepanjang jalan dan ditangkap oleh kamera long shoot dari arah belakang. Tanpa naskah sama sekali. Ketika tiba didalam sebuah terowongan basah dan gelap, si pria bermantel tersebut tampak terengah engah, menahan rasa sakit ditubuhnya dan mendadak tersungkur. Hening.

Sepuluh tahun telah berlalu, seorang wanita yang telah sekian lama dirundung duka mendalam memutuskan untuk melupakan semua kenangan,cinta dan kebersamaan terhadap mendiang suami dan bersedia menerima pinangan pria lain dalam meniti kehidupan yang baru. Anna (Nicole Kidman) dan Joseph (Danny Huston) akan segera merayakan pesta pernikahan mereka. Namun kebahagiaan itu pecah setelah kedatangan seorang bocah misterius. Si Bocah mengaku ngaku adalah Shawn sang mendiang suami yang telah bereinkarnasi. Si Bocah juga mengatakan kalau Ana harus membatalkan pernikahannya kepada Jospeh. Seluruh anggota keluarga berdebat perkara Bocah tersebut. Anna pun mencari informasi lewat orang tua Shawn. Pun semakin kuat bukti bukti yang dimiliki Si Bocah tersebut,tentang semua kejadian kejadian indah diantara mereka juga orang orang yang berada disekitar mereka, Anna pun percaya bulat bulat dia memang Shawn.

Ketika dirilis film ini mendapat cacian dari beberapa kalangan namun tetap saja beberapa diantaranya memuji dengan riuh. Memang film ini menuai kontroversi karena satu adegan bath tub tanpa busana Nicole kidman dengan anak kecil tersebut. Padahal dalam mengambil gambar mereka tidak berada dalam ruangan dan waktu yang sama. Begitu juga dengan hal hal yang sangat menggaggu lainnya ketika Kidman mencium bibir si anak.Sangat mengganggu.

Film ini memberikan ruang yang baik sekali kepada Nicole Kidman untuk menunjukkan kualitas akting terbaik yang dimilikinya. Bagaimana ia harus tampil dengan sangat intens tampil sebagai wanita rapuh yang merindukan banyak hal hal penting didalam dirinya.Begitu juga ketika ia dihadapkan pada hal hal mustahil yang akan mempengaruhi keputusan terhadap pilihan pilihan kedepannya kelak. Nicole Kidman pun juga sangat memperhatikan transformasi dirinya sebagai aktris yang siap tampil berbeda, termasuk masalah rambut.
Di Cold Mountain Kidman tampil anggun dengan rambur pirang panjang,berambut gelap dan lurus dalam Birthday Girl dan berambut merah menyala di Moulin Rouge.Nah kali ini ia tampil mengenakan wig berambut pendek. Nah ia menjelma menjadi Anna yang luar biasa.
Adegan yang menjadikan film ini sangat kental dengan drama penghayatan bagi saya adalah ketika Anna dan Joseph duduk menonton diruangan teater. Kamera merekam mimik seolah tak percaya Anna diiringi musik orkestra dalam durasi yang cukup panjang. Cool.


Dari sini kita mencoba menggubris kehadiran "kemustahilan" didepan sebuah kehidupan keluarga Anna.Ada rahasia yang ditutup tutupi walau pada akhirnya secara gradual terkuak dan kita akan mengerti bahwa sebuah pembenaran yang kita terima begitu saja menjadi hal terbodoh selama kita memutuskannya.Walaupun tidak mencoba mengupas reinkarnasi dalam skala yang lebih luas dan hanya berkutat pada drama drama eksperimental kesemua karakter karakternya, Birth memberikan pemahaman yang sangat riskan ambiguitas tentang nilai sebuah kelahiran. Terlebih terhadap ending dimana Joseph menghampiri Anna dipinggir pantai, dihadirkan keibaan yang mendalam terhadap kepahitan yang dihadapi Anna, bahwa suatu kesalahan yang jauh lebih besar telah terjadi.

Film yang dinominasikan memperebutkan Golden Lion ini memang layak untuk disimak, apalagi statusnya yang underrated yang jarang dilihat khalayak umum. Sebuah pencapaian yang bagus sekali dari Kidman.


Directed By : Jonathan Glazer
Cast : Nicole Kidman, Cameron Bright,Danny Huston
Score : 4.0/5



Wes Anderson , seperti kata kebanyakan orang yang mengamatinya, dia adalah sutradara yang paling stylish. Ya, bisa dibilang seperti itu mengingat wacana yang seperti itulah yang membuatku mau menonton filmnya sekaligus menjadi fans fanatiknya. Teringat "Fantastic Mr Fox" karyanya yang pertama kali kutonton. Ada semacam semerbak aroma aroma keunikan ketika menyaksikan film film arahannya. Tidak hanya itu saja, aspek keluarga beserta karakter karakter aneh didalamnya menjadi unsur unsur yang begitu enak ditertawai dan dikasihani. Dari point itulah Wes Anderson menempatkan semua itu menjadi paket cerita yang bagus sekali untuk diresapi. Melalui "The Darjeeling Limited" ia seperti tidak kehabisan akal untuk membuat karya karyanya harus beda dengan film lain. Mengambil lokasi di "Udaipur India" suatu tempat yang indah sekali, suatu tempat yang memang menjadi impian kebanyakan orang untuk mengunjunginya dalam rangka kegiatan spritual.
Film ini dibuka dengan adegan berlari lari seorang bisnisman yang ketinggalan kereta api Darjeeling Limited. Bayangin saja hanya untuk mengambil satu scene tersebut Wes Anderson harus memakai nama aktor senior Bill Murray. Saya garuk garuk kepala melihatnya yang ternyata tidaklah ikut terjun kedalam cerita.
Bercerita tentang Francis (Owen Wilson) yang ingin mempertemukan keluarga mereka kembali yang telah lama berpisah pasca kematian ayah mereka Peter (Adrien Brody) dan Jack (Jason Schwartzman). Francis ingin membuat kejutan kepada dua adiknya tersebut dengan mempertemukan mereka dengan sang ibu. Sang ibu ternyata menjadi seorang biarawati disuatu desa terpencil disana.


Lama tidak mendapat kabar maka dibuatlah cerita cerita yang dinarasikan dengan ama detail selama didalam kereta api tersebut. Jason mendapat kecelakaan sehingga kepalanya harus dibalut perban. Peter sedang menyembunyikan kabar kehamilan istrinya dari mereka berdua. Sedangkan Jack lagi mempersiapkan ending karya tulisnya. Karakter karakter itu dihidupkan dengan sebuah kesepakatan diantara mereka bertiga bahwa mereka harus saling mempercayai dan saling menyayangi. Ada kejutan kejutan yang sangat lucu yang akan terjadi, ketika Peter tidak menyangka ular yang ia beli keluar dari sangkar sehingga mereka mendapat masalah kepada seorang petugas masinis yang galak dan berkumis tebal. Begitu juga ketika Jack yang diam diam bercinta dengan seorang petugas wanita didalam kereta. Sampai pada hal sepele masalah ikat pinggang yang dikenakan Peter adalah warisan ayahnya yang dirasa Francis adalah haknya.

Pergerakan film gambar film ini memang tidak biasa, bahkan mampu menjelmakan film ini menjadi sangat indah dan dikagumi. Begitu juga dengan naskah film ini yang sangat bagus, tidak menyangka Wes Anderson selalu konsisten dalam urusan ini. Ia menjadikan naskah naskah yang bergulir dengan lancar dan mengasyikkan. Begitu juga dengan lagu lagu yang mengiringinya menjadikan film ini memang sarat penyegaran.
Saya sangat merekomendasikan film ini pada kalian yang ingin dimanja gambar gambar bagus seperti gambar gambar sliding yang memperlihatkan suasana karakter antara ruangan yang satu dengan ruangan yang lainnya.
Begitu juga dengan pengembangan konflik yang mengharukan bila dilihat dari beberapa sisi namun sangat lucu jika ditinjau dari sudut sudut yang lain.Walau tidak mencoba lebih satir seperti halnya Little Miss Sunshine film ini punya pesan moral yang sangat dekat sekali dengan kehidupan sebenarnya.

Anderson juga tidak ketinggalan menyajikan ending yang sangat bagus dan berpotensi menghadirkan suka cita di wajah penontonnya.Ending yang saya rasa mirip seperti Fantastic Mr Fox yang membutuhkan titik titik apresiasi penafsiran dari penontonnya.

Nah satu lagi nih film Wes Anderson yang belum saya review berjudul ROYAL TENENBAUMS. Well, seperti apakah filmnya? Tunggu saja. Wes Anderson adalah sutradara yang patut diperhitungkan atas konsistensinya. Good Job.

Judul : Darjeeling Limited
Cast : Owen Wilson, Adrien Brody, Jason Schwartzman
Related Option : Fantastic Mr Fox, Little Miss Sunhine
Score : 4.0/5



Christopher Noland, sepanjang karier penyutradaraannya dalam mengorbitkan karya karyanya ke tengah publik selalu saja mendapatkan atensi yang sangat riuh bergemuruh. Entah menanti dua atau tiga bulan, setahun atau dua tahun lebihpun menjelang tanggal perilisan, tetap saja gaung yang melekat kepadanya meletup letup seantero dunia. Bahkan untuk mendramatisasi, kru kru yang terlibat didalamnya tutup mulut perihal Inception. Apakah plot dan set film ini mengarah pada disaster movie seolah olah Noland ingin memperluas jangkauan genre nya, ataukah seperti Avatar yang mengadposi karya karya besar lain agar mendapatkan naungan pencitraan visual hebat yang bernama inspirasi. Belum lagi dengan kehadiran ensemble cast yang dicintai publik karena sudah memiliki jaminan kualitas akting, menjadikan Inception adalah summer movie High Profile dalam merambah pangsa pasar.

Inilah yang menyebabkan rasa cemas yang saya miliki tidak bisa terkontrol sebagaimana mestinya lantaran bioskop terdekat didaerahku menunda jadwal pemutaraan perdananya. Seakan akan kehilangan aura hidup lantaran ekspektasi yang teramat tinggi dan berestimasi cuman dapat nonton dengan menunggu dvd dari lapak lapak di seberang rumah.

Well, mari mengenang masa masa film TDK yang melorot jatuh dalam kancah perebutan film terbaik dibeberapa ajang penting. Dimulai dari tidak tembusnya TDK dikategori utama Golden Globe. Disusul dengan kegagalan yang sama di BAFTA Oscarnya Inggris, menimbulkan Afiliasi fans fanatiknya . Akankah AMPAS berpotensi membalikkan keadaan atau tetap pada kekolotannya menjaring film film yang mengusung materi yang dicari?

Nah, dari landasan titik itulah ada semacam keharuan yang terlontarkan kepada sebuah gebrakan dahsyat dan sebuah pencapaian. Walau sebenarnya pencapaian tidak dinarasikan sebagai "kemenangan anugerah disana sini" sudah saatnya Om Noland merasakan kenikmatan menjadi nominator Oscar as best director.
Sepakat?

Inception kehadirannya bak sebuah mata air di gurun pasir Kalahari yang panasnya bukan main. Ketika banyak film film yang hanya ber fatamorgana di arena kualitas, Inception hadir mencucurkan air penyegaran kepada kita kembali betapa menyenangkannya kegiatan yang disebut menonton itu.

Ya, Inception dalam jabarannya adalah sebuah prodak yang mengusung profil Christopher Noland sebagai merk dagang yang sangat lekat dengan kata "konsistensi". Ada pertanggung jawaban yang tak terpisahkan dari dirinya terhadap karya karyanya dimata saya. Contohnya apakah persamaan "Batman Begins, The Prestige dan The Dark Knight"? Ya, bukankah ketiga film itu diganjar dua nominasi Oscar kategori Best Art Direction dan Best Cinematography..? Nah Christopher Noland menempatkan art dan balutan cinematography yang amat kental dan khas sebagai aset yang paling penting. Tepuk tangan.
Inception memperkenalkan kita pada Dom Cobb (Leonardo Dicaprio) sosok yang memiliki perangai sebagai seorang spesialis dalam mencuri rahasia orang dengan menyelusup ke alam mimpi korban, tidak untuk mengambil atau memberi informasi namun untuk mempengaruhi alam bawah sadar sang korban agar mengungkap rahasia besar yang diinginkan Cobb. Nah dari situlah kita akan dihadapkan pada problematika sang spesialis yang memiliki kerumitan hidup terhadap istrinya Mal (Marion Cottilard) yang melanda gejala psikis Cobb menyebabkan dia tidak dapat pulang kealam realita. Kemudian Cobb ditawarkan sebuah misi oleh Saito (Ken Watanabe) agar dapat pulang ke Amerika tanpa terkuaknya tuduhan apapun yang menimpanya. Dibutuhkan ahli perancang mimpi untuk itu semua yakni Ariadne (Ellen Page) juga dengan bantuan Arthur (Joseph Gordon Levitt) dan Eames (Tom Hardy) untuk mengobrak abrik alam pikiran sang korban Robert Fishcer (diperankan oleh Cillian Murphy).Percobaan inilah yang diistilahkan Insepsi.
Sekilas Inception mengingatkan kita pada The Matrix , namun mentransformasikan komputer kekonteks mimpi dimana mimpi adalah alam yang bisa kita injaki. Perumusannya sendiri sangat futuristik yakni mimpi didalam mimpi dan mimpi di luar mimpi. Setiap mimpi memiliki ikatan grafitasi yang berbeda ( ada scene dimana mimpi hanya ber grafitasi nol) begitu juga dengan dimensi waktunya.

Film ini amat detail dalam menebarkan jala ceritanya sehingga bisa saja nomaters salah sedikit tidak berkonsentrasi akan kebingungan sedang menyimak lapisan mimpi yang dimana. Untuk itu sebagai salah satu nomaters yang disebutkan tadi (hehe malu) dibutuhkan
repeated viewing bila kita mau mengatakan film ini masterpiece. Karena saya yakin satu hal "The Greatest Movie Never Finished" untuk diulang ulang.Ya.. diulang ulang.

Selain ceritanya yang sangat menarik Noland tetap menampilkan Inception dalam wadah yang sangat memukau. Aksi kejar kejaran dengan ledakan disana sini ditampilkan dengan sangat kelam dan artsy. Begitu juga dengan visual effect yang dipakai menjadikan kesan futuristiknya dicapai dengan taraf yang tinggi. Begitu juga dengan drama percintaan Cobb dan Mall yang disajikan dengan memakai kepintaran kepintaran kita. Inception telah menjawab semua rahasia rahasia itu dengan tepuk tangan . Bahkan tidak sulit memberi Standing Applouse.

Sebagai sebuah sajian yang dibanjiri cast cast mumpuni, peran peran didalamnya berakting cukup bagus hanya saja Ellen Page yang paling saya idolakan terasa tidak nyaman bermain di film serius. Seperti hendak melepaskan kecerdasan cara bicaranya sebagai si "Juno" Ellen Page tetap berusaha mendalami mimik seorang aristek yang diposisikan sebagai saksi kekacauan jiwa Cobb. Leonardo sendiri sebagai central character disini bermain sesuai dengan porsinya begitu juga dengan nyai Cottilard yang sangat matang dalam mengolah emosi sebagai istri Cobb yang malang.

Nah bagaimanakah nasib Inception kedepannya? Apakah mendapatkan tempat dari juri juri dan kritikus? Kabarnya Inception disambut baik oleh BAFTA/LA. Kabar kabar tersebutlah yang pasti selalu dinanti nanti dan menarik disimak.
Terrific........

Directed By : Christopher Noland
Cast : Leonardo Dicaprio, Marion Cottilard, Ellen PAge, Ken Watanabe
Score : 4.5/5


Mari kita mulai mengenal terlebih dahulu Tarsem Singh salah satu sutradara berbakat dari negeri India. Pada awalnya saya lebih familiar dengan M Night Shyamalan sebagai salah satu sineas asal negri tersebut yang mampu berbicara ditangga Hollywood. Namun kali ini saya harus mulai memperluas jangkauan saya terhadap profil sineas asia lain yang memang menelurkan karya yang bagus namun kurang dijamah publik. Tarsem Singh memulai karier penyutradaraannya dalam film The Cell pada tahun 2000 kemudian memproduseri The Fall pada tahun 2006 dan terakhir sebagai second unit director pada film percintaan ageless The Curious Case Of Benjamin Button. The Fall adalah film arahan beliau yang belakangan menjadi bahan perbincangan saya. Mengapa film yang begitu memukau ini luput dari jangkauan pengetahuan sinema saya. Mengapa juga film yang mendapat nilai 100 dari Roger Ebert kritikus paling dinanti ini malah tidak mendapat tempat yang istimewah diladang perebutan piala perfilman. Dan mengapa juga pihak Academy Award melewatkan Colin Watkinson sang sinematograper yang mampu menampilkan gambar gambar yang indah nan memukau padahal Austin Film Critics mengakuinya. Semua hal ini saya utarakan bukan semata mata saya menyukai dan mengapresiasi film ini saja namun saya sangat tidak menduga ada film yang jauh dari perkiraan saya. Ada sebuah film yang bahkan meletakkan nilai nilai keeksotisan tari kecak dalam tingkat yang sangat mengagumkan. Siapa juga yang menyangka bahwa setelah menonton film ini kemurnian imajinasi dalam diri saya begitu mengalir sejuk dan serasa dibuai buai eksekusi keindahan.

Sebuah paket penceritaan yang menyajikan gelombang imajinasi artistik seorang pemuda lumpuh dan seorang gadis kecil yang patah tangan. Pria lumpuh itu bernama Roy(Lee Pace), seorang aktor komedian yang didiagnosis tidak memiliki hasrat bertahan hidup lantaran sang kekasih pujaannya direbut orang lain. Ia bertemu Alexandria
(Catinca Untaru) disebuah rumah sakit bersetting Los Angeles. Alexandria juga menderita patah tulang akibat kejadian ia terjatuh saat memetik buah jeruk. Alhasil dokter memutuskan agar tangannya diberi gips.



Cerita dimulai ketika Roy menceritakan sebuah epik tentang pembalasan dan cinta kepada Si kecil Alexandria. Diceritakan enam orang karakter dari latar belakang berbeda bersatu dalam misi balas dendam membunuh Gubernur Odious. Mereka antara lain Otta Benga, Charles Darwin, Mistik, Luigi, India dan Bandit bertopeng. Gubernur Odious yang bengis akan segera mengeksekusi saudara Bandit Bertopeng. Alexandria sangat menyukai jalinan karakter tersebut .Namun arah cerita semakin depresif karena Roy ingin mengakhiri misi besar tersebut dengan kegagalan perjuangan keenam karakter tersebut. Kegagalan yang mencerminkan betapa sikap kepasrahan dan keputusasaan berdigdaya merasuki dirinya untuk segera mengakhiri hidup dengan meminum banyak obat obatan diluar dosis yang dianjurkan. Ia dengan sikap lemah tak berdaya mengelabui Alexandria agar mengambil sebotol morphine diruang kapel. Tapi Alexandria dengan lugunya menafsirkan permintaan m-o-r-p-h-i-n-three menjadi sebotol obat morphine dengan tiga butir obat saja, sisanya ia buang kedalam toilet. Sebuah penyelamatan jiwa.. Tidak hanya itu saja Alexandria memberikan Ekaristi kepada Roy walau ia tidak perlu merasa bersalah telah mencurinya dari kapel. Ikatan mereka sangat kuat dalam mempertahankan sisi lemah masing masing. Sisi dimana dalam sebuah eksekusi Odious membunuh Bandit bertopeng Roy malah membunuh Bandit Bertopeng. Namun bagaimana keharubiruan seorang Alexandre untuk meminta pada Roy agar Bandit bertopeng yang ia anggap penjelmaan mendiang ayahnya tidak mati sia sia begitu saja.




The Fall menyajikan lembaran lembaran gambar filosofis didalamnya. Bagaimana saturasi warna yang indah seolah diajak bermain main didalam imajinasi mereka berdua. Bagaimana sebuah gurun berpasir ataupun gurun berbatu dapat dengan cepat bergerak kelokasi tropis dengan bantuan spesial efek yang sederhana. Begitu juga dengan scene dimana karakter Mistik mati dan burung burung keluar dari mulutnya menyiratkan perenungan yang teramat dahsyat dalam pengalaman panjang saya berkelana disebuah sajian bernama sinema. Tak lupa juga dengan konklusi indah dan hangat ketika adegan melompat kesungai si Roy tersebut dipotong dan diedit sampai ke punggung kuda. Bagaimana sebuah keharuan begitu adilnya dalam mengakhiri sebuah roda kepincangan menjadi pembelajaran yang tidak akan lekang oleh waktu apabila kita pelajari.

Dalam urusan akting Catinca Utaru boleh dibilang memiliki masa depan yang cerah apabila ia ingin meroketkan namanya untuk sejajar dengan aktris cilik lain seperti Dakota Fanning dan Abigail Breslin.Malah saya berharap ia lebih banyak mendapat tawaran untuk berakting lagi.
Begitu juga dengan Lee Pace yang tidak ada habisnya membuatku heran bagaimana ia bisa berakting senatural ini.

Untuk tambahan saja, didalam credit title dihadirkan negara negara yang diambil lokasi setnya. Ada China,India,Perancis dan sebagainya. Saya kaget pihak produksi memakai Bali didalamnya bukan memakai nama Indonesia. Ini berarti ada sikap skeptis yang sangat besar diluar negri sana dalam mencermati keeksotisan budaya nusantara.mereka menganggap Bali ya Bali, Indonesia ya Indonesia. Walau begitu tetaplah saya sangat berterima kasih ama Tarsem Singh mengambil syuting di Bali. Itulah pelajaran yang paling bisa saya petik kedepannya.

Score : 4.5/5






Apakah anda pernah menyaksikan film "American Beauty". Ya..,kalau sudah pernah "Apa yang anda rasakan?"Satir,dark dan anda tidak akan pernah berhenti mengelus elus dada anda melihat sikap anggota keluarga Lester Burnham ini. Sudah sebelas tahun berlalu, jika ditonton berulang kali tetap mengingatkan pengalaman pertama kali melihatnya. Lantas adakah film yang mampu mengulang kembali kesatiran yang sudah lama saya rindukan itu? Jawabannya "Ada".
Ditahun 2006 Fox meluncurkan sebuah drama komedi berjudul Little Miss Sunshine. Diajang kompetisi Internasional sekelas Sundance Film Festival , film ini mempesona para penonton dan jurinya. Walau diserempet oleh dominasi Dreamgirls di Academy Award, film ini tak terduga menyalip semua pesertanya dan menjadi Underdog alias Biang Kerok paling menggemaskan saat itu.
Dengan kemenangan dua Oscar ditangannya mari bersama sama kita baca re-view film tersebut.


"Ada sebuah keluarga kelas ekonomi menengah tinggal di Albuquerque yang sedang menghadapi situasi yang rumit dan diujung tanduk.Kepala keluarga tersebut bernama Richard Hoover, seorang penulis buku 9 langkah menuju kesuksesan yang perfeksionis dan sedang mengurus kontrak bukunya dengan penerbit.Ia memiliki seorang istri bernama Shyerril dan dua anak Olive dan Dwayne.
Olive tergila gila dengan kontes kecantikan yang ia ikuti.Ia meraih tempat kedua didalam kompetisi lokal setempat.
Dwayne yang lebih aneh, ia puasa bicara selama berbulan bulan dalam kaul usahanya memasuki kelas penerbangan.
Kemudian ada kakek Olive dan Dwayne bernama Edwin Hoover seorang pecandu narkoba yang kesibukannya ikut melatih penampilan Olive, cucunya tersebut.
Dan satu lagi paman mereka Frank yang hendak bunuh diri lantaran ia diputuskan oleh kekasihnya yang berpaling kepada koleganya.

Scene paling seru akan kita dapatkan pada saat makan siang.Si kecil Olive menanyakan mengapa tangan pamannya dibebat.Ibunya Sherryl protes karena merasa pertanyaan itu akan menjurus pada aksi bunuh diri Frank. Tapi Richard malah membuat Olive penasaran.
Perdebatan seru terus terjadi sampai pada akhirnya Olive dengan cerdas hanya mengatakan "That's Silly" membuatku tertawa terbahak bahak tak karuan.



konflik terus terjadi dengan pembawaan komedi dan dengan tiba tiba datang telepon yang mengatakan juara pertama kompetisi lokal setempat di Diskualifikasi dan Olive berhak ikut kontes Little Miss sunshine di California.Semua keluarga ikut ber bondong bondong mengantarkan Olive seakan akan ada angin surga yang datang ditengah tengah kehancuran mereka.

Maka mereka pun pergi dengan mobil tua dan dengan kejutan kejutan dan kekocakan yang lucu sekali dan jauh dari kesan slapstick. Dengarkan saja sang kakek dengan mulut kotornya tersebut yang menyarankan Frank yang putus cinta agar tidur dengan banyak wanita sebelum pada akhirnya menyesal seperti dirinya yang tidur dengan satu wanita sampai masa tuanya.Kemudian aksi saling sindir antara Frank dan Richard (siapa yang ngak geram ama si Richard ini.sombongnya bukan main).


Kejutan datang dari Richard dimana bukunya ditolak penerbit,Dwayne yang rahasianya terkuak, keharuan pun melanda sang kakek, sampai pada perjuangan mereka menghantarkan Olive yang minder. Dan pada akhirnya apa yang mereka tidak dapatkan bukanlah masalah, melainkan ada hal lain yang "melebihi segala galanya."

Semua pemain bermain sangat gemilang dan naskahnya yang agak kotor dan intens menjadi senjata utama setiap scene scene didalamnya.
Saya suka penampilan Greg Kinnear disini yang bebalnya bukan main tetapi menyiratkan rasa kasihan sebagai kepala rumah tangga yang gagal.kemudian Paul Dano yang selama dua pertiga penampilannya hanya menggunakan bahasa tubuh dan isyarat.Tidak ketinggalan tony collette yang satu satunya berperan sebagai tokoh yang "normal" di film ini mampu memukau saya.




Abigail Breslin seakan akan aktris cilik yang sudah hampir pasti menggantikan aktris cerdas cate Blanchett bersanding Dakota Fanning ( abis keduanya agak mirip ..) dengan perut buncitnya tampil lugu dan kocak (lihat bagaimana dia menari Streaptease). Oscar dijatuhkan pada sang kakek yang diperankan dengan kotor,mesum dan amat iba oleh Alan Arkin.


Little Miss Sunshine memang pantas meraih 2 piala utama Oscar. walau bukan konsumsi anak anak, betapa film ini layak diputar dan rasa ketika menontonnya sangat komplit. terkadang manis, asam dan pahit diiringi kegetiran dark komedi didalmnya.

Tidak ketinggalan soundtrack didalamnya yang sangat Amerika dimainkan oleh Devotcsha dan Sufjan Stevans dengan alunan layaknya marching band. "Till The End of Time, How It Ends, The Winner Is,chicago '' adalah track rekomendasi dari saya.


Silahkan mencobanya....

Score : 4.25/5



Martin scorsese kembali lagi menghasilkan karya luar biasa yang diadaptasi dari drama mafia terlaris Hongkong( Infernal Affairs) berjudul The Departed. Infernal Affairs sendiri dirilis pada tahun 2002 dan merupakan garapan duo sutradara Wai - keung Lau dan Alan Mak. Infernal Affairs sendiri bisa dikatakan film produksi Asia yang bisa dibanggakan didunia internasional dan merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa bersanding Hero, In Mood For Love, Old Boy & Syndrom Of A Century.( walau belum semuanya ditonton..).

Pada saat yang sama ketika Hollywood seakan akan kehabisan ide, maka bersama penulis naskah kondang William Monahan Martin Scorsese menggarap kembali lagi drama tersebut dan didanai oleh Warner Bross.


Tak tanggung tanggung, The Departed kebanjiran bintang kelas atas,di antaranya "aktor yang tinggal menanti piala Oscar ditangannya LEONARDO DICAPRIO, kemudian salah satu sejarah perfilman dunia JACK NICHOLSON yang mengambil peran super antagonis, bintang muda MATT DAMON dan MARK WAHLEBRG. Di tengah kesuraman dan ketegangan alur cerita didalamnya, ada aktris pendatang baru VEra Farmiaga yang memaniskan suasana.

The Departed memusatkan ceritanya pada tiga karakter utama dalam cerita ini. Masing-masing adalah Billy Costigan, Colin Sullivan, dan Frank Costello.

Frank Costello adalah seorang mafia kelas kakap di kota Boston. Semua orang berada di bawah kekuasaannya layaknya villain paling sentral.
Dalam peburuannya, kepolisian Boston kesulitan untuk mengelupas sepak terjangnya. Dan akhirnya, kepolisian Boston menerima Billy Costigan (Leonardo Dicaprio) dan memasukkannya sebagai agen penyamaran. Dengan aksen anak jalanan Boston yang kental dengan keliarannya, Frank Costello akhirnya dapat menjadikannya sebagai orang kepercayaannya.


Ternyata ada alasan lain mengapa Frank Costello sulit ditangkap karena ia mempercayai pengawalan anak asuhnya Collin Sullivan dibawah FBI. Dengan tempo yang cerdas dan cepat, kita akan dihadapkan pada hilangnya ruang batas antara siapa mata mata dan siapa orang kepercayaan yang sesungguhnya.

Billy Costigan digambarkan memiliki perangai yang liar dan kerap menghadapi kesulitan dalam mempertahankan identitasnya.Collin Sullivan yang memiliki wajah yang baik budi,rupawan, berpendidikan tinggi dan berprestasi nyatanya membela mafia mafia kelas wahid tersebut.


Film ini secara total dan sangat prima dalam banyak lini. Penyutradaraanya, Naskahnya , Aktingnya, Endingnya dan Totalitasnya sebagai sebuah hiburan tingkat tinggi. Walau sesungguhnya bukan karya terbaik seorang Martin Scorsese, ia sudah sepantasnya mendapatkan piala Oscar ( awalnya aku mendukung Clint Eastwood lewat Letters From Iwo JIma, ternyata kalah beberapa tingkat ).

Makanya tak heran, header blog saya "dijatuhkan" pada film Departed ini sebagai salah satu film terbaik yang pernah saya lihat sekaligus saya sukai.
Mudah mudahan perusahaan perusahaan hollywood mulai membuka mata untuk mengadaptasi ide ide cemerlang yang datang dari produk Asia.
Saya rasa sebagai anak bangsa kita perlu mempromosikan karya karya kita di tingkat global, siapa tahu dapat atensi yang besar..

Score : 4.25/5


Diberdayakan oleh Blogger.