Saya tergelitik untuk menyaksikan Far From Heaven sebagai malam mengisi ultah (13 nov "bagi yang belum sempat ngucapin selamat ayo sampaikan) dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Pertama saya sangat menyukai Julianne Moore. Doi adalah aktris favoritku sepanjang sejarah aku mengenal Hollywood sebagai sebuah rumah film yang melahirkan bakat bakat luar biasa. You know she's looks beautiful but the important things she's look like my mother. Saya paling gemes ketika ia memerankan ibu rumah tangga. Cara ia mengurus anak anak, cara ia menyapa tetangga dan cara ia menyanjung suami yang baru saja lelah dan penat sepulang kerja. Tidakkah kita mengidam idamkan mempunyai ibu yang sedemikian perhatiannya kepada kita atau membayangkan mendapatkan istri yang sedemikian.Tidakkah ukuran kebahagiaan sebuah keluarga dilatarbelakangi oleh peran ibu yang luar biasa? Julianne Moore sudah sangat melekat dengan karakter tersebut walau terlampau pahit kita harus menghadapi problema problema yang dihadapi karakter tersebut. Tidakkah ibu yang sempurna memiliki kerapuhan dilain sisi?

Yang kedua karena ini filmnya Todd Haynes. Well sutradara ini dapat sanjung puji dari saya lewat I'm Not There sebuah karya antibiopik dari penyanyi legendaris Bob Dylan. Bukan berarti saya penggemar Bob Dylan atau ikut ikutan menggandrunginya, namun keunikan kisahnya dimana terjadi enam kali inkarnasi dirinya. Memakai cast cast super hebat dan dengan penuturan ala film indie.Hehehe i like it..!!

Julianne Moore as Laura Brown

Kita melihat karakter Laura Brown sebagai karakter pendukung, yakni seorang ibu yang sangat sempurna dalam film The Hours arahan Stepehen Daldry namun didera masalah internal dalam seksualitasnya.Namun lepas dari itu ia sangat menyayangi keluarga yang dimilikinya. Menemani putranya membuat cake ulang tahun sang ayah dan melambaikan tangan hangat keluarga ketika sang suami berangkat kerja.


Julianne Moore as Cathy Whitaker

Pada tahun yang sama ia menerima kepercayaan Todd Haynes untuk memerankan karakter CathyWhitaker lewat film yang akan saya ulas ini dan ohh disini dan dapat peran utama.Ajaibnya pada saat yang bersamaan pula ia mengantongi dua nominasi Oscar. Hidup para ibu ibu.


Tidak ada istri yang setegar Cathy ketika ia harus menghadapi kenyataan pahit apa yang selama ini mendera sang suami ditengah tetangga dan orang orang yang mengenalnya menganggap mereka adalah pasangan yang sempurna dan ideal bagi panutan pasangan lain. Sesungguhnya hatinya hancur berantakan namun ia harus menahan semua itu untuk memberikan dukungan penuh kepada sang suami. Namun sang suami malah semakin menyiksa dirinya karena permasalahannya tak kunjung selesai.Pada saat yang sama pula ia bertegur sapa dengan anak tukang kebunnya yang berkulit hitam.Era 50-an pada waktu itu sungguh kental dengan rasisme warna kulit. Mereka diperlakukan sangat sulit. Sulit dapat kerja yang bagus dan anaknya diperlakukan dengan semena mena sehingga tak lama lagi mereka akan pulang kekampung mereka.
Ketika ia ingin mengungkapkan rasa perhatian padanya uhk uhk ada tembok besar yang sangat sulit untuk diruntuhkan.Begitupun scene paling memorable dari film ini adalah scene penutup ketika ia pergi ke stasiun untuk menyampaikan sampai jumpa pada pria lain yang dicintainya itu.Matanya berkaca kaca bak sepasang berlian yang tidak boleh dilunturkan oleh linangan air mata.Bagi saya disitulah titik istimewahnya film ini, Todd haynes tidak hendak mengajak si penonton jadi nangis bombay. And this is what i called drama.Inilah yang saya sebut sebuah drama. Sebuah cerita yang apabila saya kaji memberikan banyak pesan dalam hidup.Menyentuh banyak aspek sensitif bagi si penonton.Pun ketika warna warna pastel didalamnya membingkai keutuhan setting cerita.Ditambah gaya penuturannya yang konvensional Far From Heaven menjadi sebuah drama kehidupan bagi saya yang sangat berkesan mendalam bagi siapa saja.Ah moment ultah yang mengesankan (andai saja saya membawa pacar untuk bersama sama menontonnya..tambah seru tuuh..)

Dan pertanyaan besar kepada Julian Moore "kapan sihh dia dapat Oscar?" padahal dia cukup oscar friendly dengan AMPAS.Di Far From Heaven ini sesungguhnya ia layak menang Oscar, namun saingannya berat berat euuy dan alhasil dimenangin oleh Nicole Kidman sebagai Virginia Wolf lewat The Hours.
Sebenarnya berharap besar padanya ketika membintangi A single Man-nya Tomb Ford tahun lalu namun sayangnya perannya terlampau singkat dan kurang bertenaga memikat kritikus.Dan ditahun ini ia membintangi Kids Are Allright sebagai sepasang kekasih lesbian bareng Anette Bening.Still Hope And Pray

Dan hey thanks buat ucapan selamat nya ya... berikut yang mengirimkannya dari facebook . Well that's important for me








Directed By Todd Haynes Cast Julianne Moore Dennis Quaid Dennis Haybert Screenplay Todd Haynes Running Time 107 Minutes Country USA Distributed By Focus Feauters
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
........................................................................
A+


Apa film terbaiknya Darren Aronofsky boleh saja anda menimbang nimbang antara Requiem For A Dream dan yang satu ini The Fountain. Jika Requiem For A Dream sungguh membuat kepala menjadi gusar The Fountain justru hadir dengan atmosfir yang kompleks bagaimana falsafah falsafah religi dibenturkan dengan filsafat, nuansa sejarah bahkan ilmu kedokteran.Hasilnya? Disinilah ia berhasil menyampaikan semua unsur unsur tersebut didalam keterkaitannya dengan sebuah kisah kehidupan yang real dan sedikit beralur membingungkan.Bagaimana tidak membingungkan film ini bahkan menempatkan Hugh Jackman hidup dalam tiga karater Tomas/Tommy dan Dokter Creo.Ditambah lagi alur ceritanya yang begitu terampilnya menggunakan tiga setting waktu yakni masa masa pengkhianatan kekuasaan Spanyol, masa kini ketika penyakit istrinya kambuh, kemudian masa depan dimana menemukan kehidupan abadi. Dibuka dengan naskah pembuka ketika Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan di Taman Eden , mereka akhirnya diusir karena melanggar titah yang diturunkan kepadanya. Dari sini muncul konsepsi apa yang selanjutnya Tuhan perbuat terhadap Taman Eden yang tidak berpenghuni lagi itu, ternyata pohon yang ada di Taman Eden tidak hanya Pohon Pengetahuan saja namun ada juga pohon lain yang ternyata memiliki tempat dimana manusia dapat mencapai titik keabadiannya kelak bila ia mati nanti. Dr.Creo merupakan salah satu pimpinan tim studi dokter dalam menemukan obat penawar penyakit kanker yang menggerogoti seekor kera bernama Donovan.Tujuan tidak langsungnya adalah agar kiranya istrinya Isabel (Rachel Weisz) yang sudah lama mengidap penyakit yang sama tersembuhkan dengan keberhasilan menemukan formula itu. Hanya saja kalangan tim salah satunya Dr.Lilian (Ellen Burstyn) menganggap Dr Creo terlalu ceroboh dengan berspekulasi menemukan percobaan percobaan yang darurat dan tidak berskala medis.Namun dimasa masa kritis Isabel ia ia harus menyelesaikan bab terakhir novel karangan Isabel berjudul "The Fountain" untuk menuntaskan perjalanan panjang setelah masa kematian menuju dunia akhir suku Maya.

Walau dengan tingkat kerepotan yang cukup banyak namun The Fountain hadir dengan kekuatan visual yang sungguh hidup, sinematografinya sangat menawan ditambah scoring yang ditangani Clint Massel menjelmakan The Fountain adalah film yang bernuansa interpretasi, pesan implisitnya tentu menjadi poin tertinggi dari keseluruhan film ini.

Sebelumnya Di era 90-an ia mendapat sanjungan yang melimpah di pagelaran festival dengan membesut film pi yang menyoroti matematikawan jenius yang ingin membuat revolusi besar dunia komputerisasi, lalu melompat ditahun 2008 ia merekrut seorang Mickey Rourke dalam The Wrestler yang menghadirkan keibaan yang luar biasa bagaimana seorang pegulat menghadapi masa tuanya. Pada intinya seorang Darren Aronofsky boleh dikatakan amat konsisten dalam membuahkan karya dan ia juga dikenal cukup piawai dalam mengarahkan aktor aktornya bermain secara gemilang. Bahkan ini menjadi penampilan terbaiknya Hugh Jackman dimata saya padahal saya selalu berasumsi dia bukanlah aktor yang dari latar belakang aktor serius. Sebagai sajian The Fountain memang bukanlah film yang bisa dikonsumsi publik terlebih untuk mereka yang "minta" dihibur. Seperti halnya film film berkelas lain ia tetap ada unsur pemaksaan agar ia dimengerti dipahami dan disambut dengan tulus sebagai sebuah mahakarya. Bagi saya melakukan hal itu bukanlah perkara yang susahh..


Directed By Darren Aronofsky Cast Hugh Jackman, Rachel Weisz Ellen Burstyn Genre Drama Romance Sci Fi Running Time 96 minutes Country USA Distributed By Warner Bross
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
.......................
A+


Bagaimana menceritakan sejarah penting terbentuknya Amerika dengan memadukan dua unsur yang sangat puitis "cinta dan alam". Cinta yang pada hakikatnya adalah kesempurnaan insani dalam menemukan ilah dalam hidup adalah butir butir yang sungguh gersang tanpa dituntun perlahan lahan dengan eksotika alam.Alam yang memiliki kekhusyukkan suara suara jiwa, deru kesejukan yang tiada tara dan tempat dimana manusia dapat berdampingan dengannya adalah seperangkat kesyahduan bila digenggam dengan hati yang murni. Mereka menjelma menjadi palungan kasih sayang yang begitu estetis dimana keterikatan didalamnya merupakan kebutuhan yang kekal dan manusiawi. Mereka memberi kehidupan satu sama lain, segalanya mereka miliki dan segalanya telah tercukupi. Tidak ada keinginan daging, rasa kepemilikan dan tidak ada kepalsuan hidup. Segalanya menceritakan ritme yang jernih, hidup dalam kebersamaan dan melebur dalam refleksi perenungan yang mendalam.

Cinta adalah falsafah hidup yang begitu kelam bila seseorang kehilangan kehadirannya. Melalui potret potret meditatif, cinta adalah kasih sayang yang begitu besar jabarannya dan begitu agung kekuatan yang telah Ia berikan kepada seseorang. Kehilangannya adalah kekosongan yang begitu menyedihkan yang tidak diberikan sang sutradara secara eksplisit seperti menangis meraung raung, ia hadir sebagai mahkota hidup yang memiliki tempat lain untuk dihayati, ia memiliki tempat lain untuk diceritakan dan butuh tempat lain untuk diperlihatkan sebagai tiang hidup yang hampir terlepas. Melalui "The Naturals'' suku Indian asli penghuni daratan Amerika kita diperlihatkan betapa alam dan manusia yang merupakan populasi yang hadir secara berdampingan dan bersinergi satu sama lain adalah sebuah keintiman indah dan meneduhkan. Mereka dilindungi oleh roh ibu mereka sebagaimana ibu yang melindungi putra putri mereka dalam gangguan dunia luar. Mereka berlari lari kedalam pelukan Bunda melalui kepercayaan yang mereka miliki yang merupakan ajaran alamiah disuku mereka. Mereka adalah kabut yang mampu hinggap dan berteman dengan pepohonan yang memiliki perlindungan.
Hingga pada akhirnya sampailah orang orang Inggris di daratan yang diberi nama Virginia dari sebuah ekspedisi panjang perjalanan menemukan "dunia baru" . Ada konteks pergesekan diantara persinggungan orang orang Inggris dengan alam yang begitu misterius. Kehadiran mereka seperti sebuah perjalanan menuju penghakiman dari bangsa The Naturals yang melihat mereka adalah sebuah ancaman.Lantas apakah ancaman memang benar benar datang dan dimiliki The Naturals?

Terreance Malick yang sebelumnya membuatku terhenyak begitu dalam dengan naskah paling puitik sepanjang sejarah "Thin Red Line" memberikan pemandangan yang teramat mempesona dan melibatkan unsur unsur alam sebagai metoda yang paling ampuh untuk menterjemahkan roda cerita. Walau sebenarnya cerita sama sekali tidak menjurus kesana ia begitu memahami adanya pergulatan seni dan aspek meditatif yang kentara didalamnya agar kiranya mampu menebus sebuah konklusi yang memiliki sarat sarat alamiah dan sekali lagi "perenungan". Inilah yang menjadi ciri khasnya yang merupakan arena paling gemilang yang akhirnya mampu membawa ia sebagai sineas didunia yang monumental.

Ada kalanya sebelum menonton The New World, kita hendaknya menyiapkan pikiran yang murni dan menghilangkan keegoan yang selama ini ada dalam diri kita. Hal ini sangat menjadi prasyarat yang amatlah penting bagaimana mempersiapkan diri kita untuk meleburkan diri dengan dunia yang tampak sangat menyesakkan dan membosankan.Ia hadir membutuhkan proses mencerna yang alami dari para nomaters. Ia memiliki unsur unsur yang akan kita sadari secara perlahan lahan, yang tanpa dengan sengaja tercium aroma kesejukan dan ketentraman yang begitu khidmat. Dari situlah klimaks pengelanaan sinema akan mencapai tiitik yang sangat gemilang dan tidaklah terlalu berlebihan seluruh dunia menganggap New World adalah film terbaik selama satu dekade ini.

Directed by Terreance Malick Cast Colin Farrel Q'orianka Kilcher Christopher Plummer Christian Bale Country USA/ UK Running Time 135 minutes Distributed By New Line Cinema
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
.......................
A+


Pasca penyutradaraannya lewat "Bronson" yang menghasilkan sentuhan absurditas, sutradara eksentrik asal negeri Denmark Nicolas Winding Refn memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya mengarahkan kisah berbau kolosal dari tanah skotlandia "Vallhalla Rising".Nicolas Winding Refn mengakui proses pembuatan film yang bertitik tumpu pada kematangan akting Mad Mikklesen(well kita mengenalnya sebagai lawan judi Bond di Casino Royale) ini membutuhkan waktu selama empat tahun sehingga imajinasi yang ia harapkan sesuai dengan hasil akhir yang tercipta.Film independent yang sempat menjadi bahan diskusi banyak kalangan lantaran kesadisan scene scene didalamnya ini sukses menjadi 13 Most Anticipated Movie Toronto International Film Festival 2010. Sebenarnya Nicolas Winding Refn bukanlah penghasil film film laku dan komersil paling tidak namanya sudah cukup dikenal dengan film Push yang mengambil setting setting di Copenhagen. Harus diakui juga bahwa masa masa kejayaan film film indpenden tahun ini sedang melambung. Dibanjiri oleh ragam tema, ragam asal negarayang memproduksi dan satu lagi ragam style. Sudah tidak dapat dibantah lagi style seorang sutradara sangat dibutuhkan dalam memberikan kesan yang kuat dimata audiencenya. Apakah Valhalla Rising memenuhi kriteria tersebut. Jawabannya "sangat".

Alkisah seorang bekas pejuang suku Viking bernama One Eye ditawan dan dipaksa berkelahi habis habisan untuk memenangkan perjudian atasannya. Dari hasil perjudian itulah ia bisa bertahan hidup dan mendapatkan makanan. Seorang anak dekil bernama Are secara rutin ditugaskan mengantarkan makanan dan air kepadanya yang tinggal disebuah kerengkeng kayu. Didalam kerengkeng tersebut ia tetap dijaga ketat oleh beberapa penjaga yang mengitarinya.
One Eye yang ternyata bisu disepanjang alur cerita diperlihatkan memiliki kemampuan lebih dalam menerawang kejadian kejadian yang akan terjadi kedepan. Dengan visualisasi yang sangat kental berwarna merah pekat, ia merencanakan meloloskan diri dengan sisa sebuah mata panah yang terletak didalam sebuah kolam tempat dia berendam.Dengan perencanaan yang sangat rapi dan menegangkan One Eye berhasil memutuskan tali yang melilit lehernya selama digiring dipendakian dan membunuh semua serdadu serdadu tersebut (jangan lupakan adegan merobek isi perut yang membuat tubuh mual) kecuali Are yang lantas mau mengikutinya kearah mana ia berjalan. Ditengah pengelanaan merekaberdua menuju jalan pulang mereka bertemu dengan rombongan suku Viking lain yang sedang beristirahat. Suku Viking tersebut akan mengadakan perjalanan jauh menuju Yerusallem, Tanah Suci mereka yang telah dikuasai oleh pihak lain.Mereka akan mengadakan perang besar sesuai dengan apa yang mereka percayai bahwa dengan mengorbankan darah dan daging mereka, dosa dosa yang telah mereka perbuat akan diampuni. Pemimpin kaum Viking itu membujuk One Eye untuk bergabung dengan mereka. Mereka berdua akhirnya mengikut kaum tersebut menuju tanah Yerussalem.

Perjalanan yang menggunakan kapal kayu tersebut membutuhkan waktu yang teramat lama. Kelaparan,rasa haus dan penderitaan melanda mereka. Tidak ada yang bisa dikonsumsi. Pun demikian salah satu dari mereka nekat meminum air laut yang memiliki kadar garam yang meracuni tubuh dan mati seketika.Mereka pun bertanya tanya dalam hati apakah yang akan terjadi selanjutnya? apakah mereka sampai di tanah Suci tersebut? atau mereka salah haluan...
Apakah ketersesatan mereka disebabkan membonceng sibisu yang misterius yang sempat dikatakan Are , One Eye "
datang dari neraka...."

"kelam, sadis namun indah" menyaksikan Valhalla Rising kita seperti menyimak potret potret khas Terreance Malick dengan nuansa horor.Ya kita kenal beliau adalah sutradara yang paling lihai dalam urusan ini. Dan olahan Winding Refn dengan jalinan naskah yang tidak memadai ditambah referensi yang rumit ia mengajak kita untuk mengambil esensi bernilai sebuah sinema berupa gambar gambar yang teruntai dari satu frame ke frame lain. Kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang begitu panjang dan tidak terselesaikan yakni "siapa Valhalla yang dimaksud?" begitu juga dengan karakter One Eye yang misterius tentang asal usul dan tujuannya didalam. Ada gagasan gagasan yang sangat filosofis yang dibangun sang sutradara dalam menghadirkan konflik didalamnya. Sebuah sajian yang begitu tinggi pemahamannya. Walau bagi saya setting dan waktu film ini tampak tidak begitu akurat, Valhalla Rising tampak menjanjikan sebagai karya yang pantas diapresiasi walau dengan tanda kutip tidak semua bisa dengan mudah menyukainya.

Film ini juga dihadirkan dalam enam chapter dengan maksud mendongkrak keintensan ceritanya yang dinilai tidak biasa , apalagi durasinya yang hanya sembilan puluh menit serasa begitu berharga setiap gambar yang ditake.Adegan sadis didalamnya tampil begitu indah dan dengan memamfaatkan pebukitan Eropa yang menjulang, sang sinematogapher dengan jeli tidak mensiasiakan begitu saja scene tersebut.

Valhalla Rising adalah sebuah pencapaian yang sangat mengagumkan selama saya menyaksikan kehadiran film film paruh awal ini, ia tampil dengan luar biasa. Andai durasinya diperpanjang dan dijadikan sebuah
epic movie tidak bisa disangkal lagi film ini akan diingat sebagai karya yang monumental.


Directed by Nicolas Winding Refn, Cast Mad Mikelssen, Maarten Stevenson, Grodon Brown, Andrew Flanagan, Gary Lewis,Alexandre Morton Screenplay Ray Jacobsen, Nicolas Winding Refn Running Time 93 menit Company BBC Films Country Denmark,UK
.................................
New Line Cinema Score
A-




Sebelum saya mereview film yang sangat nikmat ini, saya mau mengungkapkan rasa kekesalan,penyesalan dan rasa bersalah saya yang teramat dalam dimana seorang moviegers sejati dengan teganya menyewa There Will Be Blood yang bajakan. Bayangkan saja, ini masih menyewa, bukannya mangkir dan membeli di warung warung pinggir jalan.Mengapa sih film tidak mendapatkan tempat yang nyaman dan tanpa masalah layaknya novel dan majalah yang bebas dari pembajakan. Dan mengapa belum ada formulasi yang mutakhir untuk urusan yang satu ini? Terkadang saya meringis,dengki dan mencaci maki melihat film film yang saya sukai dibajak dan diperjual belikan , belum lagi yang tersedia dalam paket collection. Ya sudah, sayapun bukan berarti tidak pernah nonton dvd bajakan, ya kalau ada alasan yang mendasar seperti sudah kebelet pengen nonton, dan tidak sampai ketahap mengedarkan dan menjualnya yang jelas pelanggaran hak cipta. Ini Indonesia Bung..! Negara yang amat prima dalam urusan ini. Arsip negara aja udah bisa kebobolan. Contohnya aja naskah UN. Idiih.., pinter banget kan?

Sungguh sebagai budak sinema (lebay..) saya bagai ditampar dan diaduk aduk oleh perasaan dan hati kecil saya yang selama ini selalu saya tempatkan dan pergunakan dalam menilik refleksi kehidupan didalam film tersebut. Entahnya itu penuh tawaan, memori kehidupan dan macam lainnya.
Ternyata There Will Be Blood bahkan sanggup menjaring urat nadi saya.

Betapa tidak, logam keegoan dan kesombongan yang tertanam dalam diri semua orang termasuk didalam diri saya seakan akan ditusuk ngak karuan oleh alur cerita yang sangat ferocious,memancarkan wahyu dan hendak melumatku dalam sebuah dentang kehidupan yang sangar dan mencekam.

There will Be Blood adalah sebuah film yang sangat utuh dan sangat buas.It's breathing, mengendus endus naluri dan skema skema kehitaman yang disajikan reveals,excites,disturbing dan provokes yang dipadukan dengan score musik yang kelam,thrilling dan eksperimental ( ya..menurut telingaku).


There Will Be Blood menceritakan seorang Daniel Plainview (Lewis) yang pada awalnya bekerja sebagai penambang emas yang melawat kearah barat mencari minyak bersama anak angkatnya H.W.
Anda tidak akan pernah melupakan resonansi watak Daniel Plainview yang bebal dan tamak dan mungkin hanya bisa dimainkan oleh satu satunya aktor watak terbaik sejagat raya Daniel D Lewis.

Lantas dia menemukan ladang minyak tak bertuan, ia akhirnya mengambil alih kepemilikan tanah tersebut dengan menyakinkan kepada warga dan oposisi agama disana.Semua warga menjual tanahnya kepada Plainview, kecuali Brandy. Ia harus meminta izin kepada Brandy untuk mendapatkan persetujuan dirinya agar dapat menanamkan pipa melewati areal tanahnya.

Eli Sunday (Paul Dano), salah satu penduduk dan pendeta setempat menyarankan Daniel agar mengadakan pemberkatan sebelum diadakan pengeboran. Tapi Daniel yang bebal tidak mengindahkan saran tersebut. Alhasil, muncullah kejadian kejadian yang sangat tidak diharapkan.

"akan ada darah yang tertumpah..."

ya..,korban mulai berjatuhan dan anaknya yang mengalami kecelakaan disaat sumur meledak mengalami disfungsi telinga alias tuli. Tapi Lewis tetap mempertahankan anaknya tersebut walau sempat ia buang kepada orang lain.

Daniel kini menjadi orang sukses, anaknya menikah dengan adiknya Eli Sunday. Eli pun baru saja selesai dari misinya dalam menyebarkan kotbah. Eli meminta pertolongan kepada Plainview dan mengatakan bahwa tanah Brandy dapat dipakai untuk pengeboran. Tapi Plainview telah mengerjakannya dan menyuruh Eli Sunday untuk mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia Adaalah Nabi Palsu dan mengakui bahwa Tuhan hanyalah khayalan.

Di scene terakhir adu akting antara Paul Dano dan Daniel Day Lewis amat memikat. Masih teringat bagaimana Plainview mengatakan "I Drink Your Milkshake" dengan sangat menyeramkan menjadikan Quote ini adalah yang paling mencengangkan selama satu dekade.Paul Dano yang kita kenal nyaris tak pernah ngomong sebagai Dwayne di Little Miss Sunshine, berbeda jauh sebagai karakter Eli yang mulutnya macam "ember".

Film yang diadaptasi dari novel Upton Sinclair berjudul OIL! adalah sebuah karya yang sangat cemerlang. Bahkan kalau dikatakan dalam bahasa matematikanya "limit x menuju 100".

Inilah Masterpiece yang sesungguhnya yang melampaui batas keinginan saya.

Dan percaya atau tidak, film ini akan sulit tergoyahkan dipuncak teratas pengakuan film film terbaik satu dekade.

Score: 4.5/5


Diberdayakan oleh Blogger.