Praktik berpidato adalah kegiatan strategis yang dilakukan oleh banyak petinggi negara didunia- selain memberikan orasi dan menciptakan ruang kondusif bagi rakyat terhadap peristiwa kenegaraan yang genting, pidato secara tidak langsung akan memberikan kesan positif dari rakyat yang mendengarkan pidato tersebut.


Duke Of York (Collin Firth) putra kedua dari keluarga bangsawan King George V yang pada saat itu memegang tahta pemerintahan Inggris tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang raja menggantikan sang ayah untuk berpidato.Lihatlah dirinya dan seabrek kekurangan yang dimilikinya.Albert begitu nama asli dirinya tersebut sejak kecil didera cacat dalam hal berbicara alias gagap.Kita diseret pada adegan pembuka yang menggambarkan point utama tersebut.Albert dilorong tangga berlatih dengan mimik was was dan gestur tubuh tanda cemas menyimak naskah pidato yang akan segera dibacakannya pada banyak orang.Ia tidak sendirian, melainkan bersama Queen Elizabeth (Helena Bonham Carter) sang istri yang setia mendampingi dirinya.Ia akhirnya naik dan tampil kepodium.Semua orang berdiri serempak.Ia menatap jauh.Semua mata dan telinga mengarah kepadanya.Suasana begitu hening.Ia mulai membaca sepenggal kalimat pertama,suaranya mendengung keseluruh penjuru arah, lidahnya mulai kelu, tenggorokannya seperti terlilit,semua orang mulai cemas, suaranya terbata bata, beberapa menundukkan kepala, sang istri tetap memandangnya dari arah belakang,matanya mulai berkaca kaca melihat dilema besar yang dihadapi sang suami.

Albert tidak pernah menginginkan dirinya menjadi seorang raja, sepenggal studi keterbelakangan tadi rasa rasanya sudah cukup menjelaskan bahwa dirinya adalah pertolakbelakangan sebagaimana seseorang yang harusnya menyandang gelar raja.Terlebih ia hanya melahirkan dua orang putri dan tidak melahirkan seorang putra. Tapi kenyataan berkehendak lain, abangnya Raja Edward VII yang juga dimahkotai "Prince Of Wales" tidak serta merta menginginkan gelar tersebut.Padahal dialah alternatif pertama untuk menggantikan posisi sang ayah.Edward lebih tertarik kepada hal hal pribadi yang sudah ia inginkan sejak lama, yakni hendak menimang Wallis Simpson (Eva Best) yang sudah dua kali menikah.Edward VIII sepertinya sudah gelap mata melihat keinginannya tersebut dan sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan ia terima yakni turun tahta.
Duke Of York cemas, ia tidak pernah menginginkan dirinya menjadi seorang alternatif kerajaan, ia berusaha menekan keputusan sang abang,tapi ia tidak berhasil,parlemen di Inggris selaku badan legislatif mencari penguasa baru dan sepertinya Duke Of York tidak punya pilihan lain selain mengambil tahta dan tongkat estafet kerajaan.


Sudah lama Duke of York mencari dokter dengan segala metode medistik dalam menyembuhkan penyakit gagap berbicaranya.Semuanya tidak pernah berhasil,tetapi ia tetap harus sembuh.Sang istri meyakinkannya penuh dan ia akan berusaha mencari dokter terapis keseluruh negeri.Alhasil Queen Elizabeth akhirnya berhasil menemukan seorang dokter bernama Lionel Louge (Geoffrey Rush).Louge memiliki caranya sendiri dalam memberikan pengobatan dan terapi kepada pasiennya, yang lebih diperlihatkan sebagai sebuah bentuk konsultasi sederhana saja.Ketika Lionelpun menyadari bahwa pasiennya kali ini adalah seorang raja,ia tetap menginginkan Duke Of York menanggalkan segala macam status kebangsawanannya dan menstratakan dirinya sebagai sahabat dari seorang rakyat biasa.Drama yang dihadirkan dari dua orang inipun terasa sangat menentramkan, terkadang diselipkan humor humor menggelitik dan mengalir dengan manis.

Ada saat saat dimana hubungan keduanya teramat dekat,seperti bagaimana Albert menceritakan banyak cerita dimasa kecilnya dan seputar keluarganya dan penyakit yang menggerogotinya.Albertpun mengakui bahwa dirinya tidak pernah berbicara seterbuka itu pada banyak orang terlebih kepada orang yang berstatus rakyat biasa.Tidah hanya itu kekonsistensian Albert kepada dokter yang menanganinya kerap diuji, seperti Lionel yang terus mendorong Albert untuk meraih tahta kerajaan tersebut, namun Albert bergejolak dan masih bergelimang ketidakpercayadirian - ia tetap memikirkan bagaimana Edward berubah pikiran untuk menurunkan tahta.Perkataan yang dilontarkan Albert mungkin sudah cukup memperlihatkan masih adanya jurang pemisah dari seorang raja kepada rakyatnya.Disinilah adegan yang boleh dibilang yang paling saya ingat karena menghadirkan tata sinematik yang begitu indah, long shoot panjang berlatarkan sebuah taman yang ditaburi kabut putih.

King's Speech memberikan sisi lain dan background pemegang jabatan dan seperti apa pembicaraan pembicaraan pejabat di Inggris terkait pecahnya perang dunia ke dua.Ada rasa ketidaknyamanan ketika ketegangan yang selama ini hadir dari dua kubu tersebut yang akhirnya pecah.Banyak pejabat yang pada akhirnya memilih mundur karena merasa tidak kompeten mengayomi rakyatnya.Karena yang dilawan kali ini datang dari nazi yang dikomandani Adolf Hitler.Dengan mengelupas permukaan sejarah tadi,King's Speech tampak juga memperlihatkan sebuah perjalanan yang teramat besar dan kiprah dari Duke Of York.Dan itu semua dimulai dari bagaimana ia belajar menghilangkan penyakit gagapnya yang sangat inspiratif.


directed by Tom Hooper cast Collin Firth,Geofrey Rush,Helena Bonham Carter Home Production The Weinstein Company Written By David Seidler Runtime 118 Minutes Country UK/AUSTRALIA/USA
Moan And New Line Cinema Score
....................................................
B


Cinta adalah sebuah kata yang tak berkesudahan untuk dibahas, tidak dalam puisi,novel,roman, opera sabun atau bahkan sinetron, cinta dieksplorasi dalam tiap lini sudut keinginan dan kedalaman imajinasi sang kreator.Apakah cinta itu tampak sangat menggetarkan dan menggairahkan? atau malah cinta diumbar sebagai skenario yang terlampau dipaksakan dan terlihat palsu. Luca Guadagnino dalam kesempatan kali ini dengan sangat tegas menggaungkan kalimat "I AM LOVE" sebagai kalimat yang tampak begitu agung dan dahsyat sebagai garis besar tema yang hendak dituturkan. Melalui potret karakter Emma yang diperankan dengan sangat apik oleh Tilda Swinton, cinta meletup menjadi sebongkah rasa yang begitu menggugah. Diceritakan Emma yang berasal dari Rusia menikahi Trancedi Recchi seorang industrialis Italia.Walau Emma terlihat tampak begitu bahagia dengan keluarga yang dibangunnya , Emma merasakan ada keterkungkungan yang selalu melanda hati dan jiwanya, ketika ia menyadari ada aspek kebebasan yang tidak ia dapatkan selama ini.Oleh karena itu ia begitu memahami putrinya Betta yang menyukai sesama jenis,ketika semua anggota keluarganya tidak ada yang akan mau mendengarkan kecuali dirinya, Emma benar benar menghargai cinta yang dimiliki putrinya tersebut.Cinta juga tampak begitu bijaksana, ketika kapitalisme masih membedakan siapa orang orang besar dan siapa kelompok kecil, cinta seorang Emma meleburkan semua batasan itu dengan sangat manusiawi.Tampak ketika pembantu setianya Ida diajak oleh Emma makan bersama, secara halus Emma mengatakan kepada kita cinta itu melepaskan atribut yang kita miliki.

Cerita semakin tajam ketika ia diperkenalkan oleh teman putranya Eduardo,Antonio seorang koki muda yang pada suatu kesempatan menghidangkan sebuah sajian istimewah dikeluarga Recchi.Ketika Emma mencicipi masakan dari Antonio , gairah yang selama ini tak ia dapatkan lagi tergugah dengan rasa yang memanjakan rongga mulut Emma dan diperlihatkan dengan shoot shoot fantasi yang membuat jiwa melayang layang. Emma pun sadar dari lubuk hati terdalam bahwa bumbu bumbu masakan Antonio membuat ia jatuh cinta kepadanya.terjalinlah hubungan gelap diantara keduanya.
Kenikmatan itu memuncak ketika cinta diantara keduanya adalah sebuah erotisme yang mendebarkan.Penonton diajak menyelami kenikmatan itu dengan atmosfir yang lepas dan menggairahkan, bercumbu dihamparan rumput yang hijau, ditemani aroma udara yang menyegarkan dan ditingkahi suara suara serangga nan alami.

Cerita terbongkar oleh Eduardo sang putra yang mengetahui perbuatan tabu sang ibu.Pun ia merasakan hal itu karena ia begitu mencintai keluarga yang ia miliki dan ditengah itu, Eduardo ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam.Didalam "I Am Love" cinta menjadi sebuah aspek kehidupan yang terlihat sangat jujur,ketika hembusannya menghempas dada seseorang, ia ingin direnggut,dimiliki dan diraih sebagai bagian dari kebebasan diri.Ia adalah detak jantung yang menggebu dan begitu rumit untuk dijelaskan secara terperinci, melalui Emma cinta dapat dijelaskan dalam tataran yang sesungguhnya.

kehadiran I Am Love tentu menawarkan suatu hasil yang mengejutkan bagi saya yang selama ini sedikit skeptis dengannya.I Am Love menawarkan cita rasa yang begitu kompleks dengan aroma Italia yang menawan dengan balutan score yang terdengar begitu empuk.Lihatlah arsitektur rumah keluarga Recchi ini begitu mempesona begitu juga dengan adegan menggebu gebu Emma membuntuti Antonio yang sampai membawa ia ke lanskape pegunungan yang hijau dan menyejukkan, dan saya senang warna orange yang ia kenakan melengkapi nuansa seksi film ini.

Directed by Luca Guadagnino Cast Tilda Swinton Falvio parenti Eduardo Gabbriellini Pippo Delbono Maria Paiato Genre Drama Romance Country Italy Running Time 12o minutes
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...............................................
A+











Tidak pernah menyangka sebuah home production sebesar Hollywood yang belakangan di cap sudah kehabisan bensin untuk membuahkan karya bagus dan sukses ,ternyata eh ternyata masih mampu menggarap sebuah drama keluarga dengan pendekatan yang fresh dan cukup memuaskan.Namun dibalik itu semua ternyata drama keluarga yang hendak disajikan tidaklah seperti yang ada didalam benak kita, tidaklah seperti drama drama keluarga yang seperti biasa seperti seorang anak dengan segala kerewelannya bertingkah dengan pola pola lucu nan menggemaskan, atau seorang suami yang sangat mencintai sang istri namun ajal memisahkan keduanya,Atau film film yang memperlihatkan ayah sebagai figur bagi seorang anak dan kehadirannya merupakan hal terpenting, atau...apalaah pikirin sendiri.
Yang ada adalah dua orang wanita lesbian yang mencintai satu sama lain dan membesarkan dua orang anak.(Bagi yang konservatif barangkali akan tidak lagi tertarik dengan ulasan ini.)
Kedua pasangan ini sepakat untuk menggunakan bantuan dari pria lain sebagai pendonor sperma.
Keluarga wanita lesbian memang terasa asing didengar di telinga kita orang timur-an bahkan dianggap tabu , namun ternyata keberadaan mereka bukanlah hal yang baru di Amerika sana.Keberadaan mereka sudah diterima dengan akal sehat oleh keluarga lain yang normal.


duet bintang besar Bening dan Moore

Kepala keluarga mereka bernama Nic (diperankan teramat apik oleh Anette Bening) dan pasangannya Jules (Julianne Moore). Nic adalah seorang dokter yang amat perfeksionis, banyak omong,banyak tanya,melarang anaknya menaiki kendaraan sepeda motor dan menjadi tauladan penting bagi kedua anak mereka Joni (Mia Wasikowska) dan Laser (John Hutcherson).Joni adalah putri pertama mereka dan karakternya teramat pemalu.Namun ia berprestasi bagus disekolah dan mendapat grade A dan beasiswa. Sedangkan Laser, anak baru gede berumur empat belas tahun yang sedikit sensitif, salah dalam pergaulan dan juga seperti halnya dengan Joni, mereka sama sama ingin dianggap tidak lagi seperti anak kecil yang terus diatur dan diperintah.
Sedangkan Jules adalah seorang lulusan arsitek namun belum dapat mewujudkan keahliannya dalam merancang sebuah desain taman impiannya karena waktunya habis tersita menjaga kedua anaknya.

Ke empat anggota keluarga tadi sangat solid, saling menyayangi, tidak merasa kekurangan satupun, saling memberi dan menasehati dan saling mendukung satu sama lain.Pun ketika sikecil Laser (maaf dia memang masih kecil bagi saya) sedikit bingung mengapa kedua orang tuanya menonton film gay keduanya berusaha untuk memperjelas hal itu. Dengarlah jawaban yang dituturkan oleh Jules tentang semua itu dengan naskah yang teoritis.Bagi saya itu terlihat sangat aneh dan lucu.
Tapi sebenarnya kedua anak ini pada akhirnya akan bertanya tanya siapa sih orang yang mendonor sperma kepada kedua orang tuanya dan hendak merencanakan pencarian ini tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.Akhirnya mereka menjumpai ayah biologis mereka yang ternyata adalah Paul (Mark Ruffalo) seorang petani tanaman organik yang juga membuka restaurant.

Dengan sendirinya perhatian kedua anak tersebut selalu tertuju pada Paul dan ketika kedua ibu mereka akhirnya mengetahui hal tersebut mereka dengan senang hati mengundangnya berjamu makan siang dikediaman mereka.Perbincangan hangat pun bertebaran disepanjang cerita, mulai dari bagaimana pertemuan Nic dan Jules lengkap dengan kekocakan lidahnya Jules, begitu juga dengan Paul yang menganggap sekolah tinggi tinggi tidaklah terlalu penting yang ditangkap keluarga itu pertanda kebanggaan diri yang berlebihan, sampai pada Joni yang masih malu malu disepanjang cerita.Dihidangkan dengan kebiasaan mereka meminum anggur dan mengobrol satu sama lain, timbullah perasaan dari Paul bahwa ia ada ikatan diantara merekaPun semakin tampak menyenangkan ketika Jules bisa bereksperiman terhadap cita citanya selama ini untuk membangun sebuah konstruksi taman milik Paul yang tidak terurus. Perhatian Jules dan kedua anak anaknya sudah tertuju pada Paul, dari poin inilah muncullah problema problema keluarga yang cukup menyentuh, ketika figur kedua ibu ini sudah retak dimata kedua anaknya yang begitu lugu dan diliputi perselingkuhan yang tidak mengenakkan.

Pada prosesnya sebuah gulir cerita menghadirkan suatu konsepsi baru terhadap stigma terhadap keluarga lesbian ini.Siapa bilang keluarga seperti ini tidak harmonis? Siapa bilang keluarga seperti ini kekurangan figur seorang ayah? Walaupun besar yang anggapan bahwa sang sutradara seperti hendak memperlihatkan landscape eksistensi keluarga lesbian ini menjadi tampak meyakinkan, namun film ini terasa sangat universal.Terlebih Anette Bening yang menjadi karakter paling memorable disini dimana sikap perfeksionis yang ia telah bangun dianggap lain oleh Jules, Jules yang mengatakan itulah senjata Nic untuk mengekang ia bak sebuah boneka yang terus mengurus rumah. Juga ketika Nic menyanyi lagu kesukaannya dengan Paul dengan sangat menghayati sekali.Ini adalah performa yang cukup tepat untuk obat rindu pasca American Beauty.Surprisee...
Directed By Lisa Cholodenko Cast Annete Bening Julianne Moore Mark Ruffalo Mia Wasikowska John Hutcherson Running Time 106 minutes Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA
.......................................
B+









Pohon adalah salah satu unsur yang begitu dekat dengan kehidupan kita manusia, dimana masing masing keberadaannya merupakan elemen pelengkap keutuhan sebuah komunitas bernama alam. Pohon begitu berguna bagi diri kita, begitu dekatnya sehingga manusia manusia didalamnya terpecah menjadi dua sisi, berusaha untuk melestarikannya atau berlomba lomba untuk menebangnya.Seandainya kita membayangkan bahwa pohon juga memiliki rasa seperti halnya manusia, tentu kita tidak akan tega melakukan hal yang buruk terhadapnya. Namun kalau hal itu benar bahwa pohon memiliki sifat dasar manusia bahkan memiliki nafsu birahi yang begitu kuat melampiaskan nafsunya, pohon itu sendirilah yang dengan konsep mistik menjadikan manusia sebagai objek pelampiasannya dan tak ada ubahnya menjadi makhluk yang menyeramkan, bahkan saking kuatnya manusia yang datang menatapnya juga menangkap sisi kecantikan lekukan pohon tersebut dan tanpa sadar melampiaskan birahi *terhadapnya. (baca : pohon).
Kita akan menyaksikan pohon itu begitu cantik dan memiliki daya tarik orgasmik yang begitu aneh namun memiliki aura yang kuat. Akar akar yang besar, daun daun yang rindang, gulma yang menempel nempel , lekukan yang halus,batang yang coklat dan besar seakan akan ingin memperlihatkan itulah sisi sensual sebuah pohon.
Namun anehnya didalam Nymph pohon itu malah diwakili oleh sosok manusia, yakni wanita tanpa busana dengan rambut arak arakan yang mengincar manusia. Dan diperlihatkan manusia yang bersenggama dengan manusia, bukan pohon dengan manusia.Ya mungkin tampak absurd dari satu sisi namun sepertinya jelas diungkapkan dari sisi lain, kalau wanita itulah wujud sebuah pohon.Walau bagi saya ada yang mengganjal siapa sebenarnya perempuan itu.Perempuan yang diperlihatkan pada tahap pembukaan diperkosa oleh dua orang pria bertelanjang dada, namun tiba tiba kedua pria itu malah mati mengapung dipermukaan sungai tanpa sebab musabab yang jelas.

Nymph adalah karya terbaru dari sutradara serumpun kita Pen-Ek Ratanaruang, sutradara yang berasal dari negeri paling maju dan bergeliat ketika berbicara tentang sinema. Negeri Thailand. Sudah tidak dapat dibantah lagi Thailand sudah banyak melahirkan putra lokal yang memiliki jiwa sinema yang terlihat begitu sederhana namun manis, mistis namun tidak murahan, dan tema tema yang digarap begitu empuk bak roti bakar. Entah dimulai dari film film kacang yang mengangkat tema tema kelas b sampai pada yang begitu kental dengan sisi seni , semuanya bahkan terlihat tampak maju bila hendak dibandingkan dengan produk lokal. Pun ketika Ong Bak yang ketika saya tonton tidak ada bedanya dengan cara penggarapan film film action lokal,namun ada satu sisi yang mempercantik kemasannya disepanjang cerita , yakni sinematography yang cukup membuat menganga menyaksikan kemajuan mereka.

Banyak sutradara yang tertarik untuk mengkaitkan pohon sebagai objek premis utama mereka, mulai dari yang gampangan seperti The Happening garapan M.Night Shyamalan dengan virus aneh yang disebarkannya keseluruh Amerika sampai pada film yang memperlihatkan pohon sebagai ibu yang melindungi putra putri mereka di Under The Tree karya terbaik bangsa kita.Namun pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pohon memiliki kekayaan sisi untuk dieksplorasi, bukan berarti sesuatu yang diam dan tak dapat berpindah sepertinya tidak memiliki sisi yang menarik. Tidakkah orang yang memiliki mata seni dapat menangkap alangkah indahnya daun yang berjatuhan dari sebuah pohon, atau alangkah seramnya ketika pohon dihadirkan terlalu dekat sebagai konsep mistik *rumah hantu.Semuanya dapat dibuka dari banyak sudut.

Sebagaimana biasa film art house, Nymph adalah sebuah film yang harus dicermati dengan pemikiran seni, seni yang membutuhkan rasa yang begitu besar sehingga kita bisa menangkap betapa sensualnya pohon tersebut sebagai sebuah kerumunan atau populasi di alam.Walaupun ada unsur unsur yang sayangnya tidak terselesaikan dan ada beberapa frame yang tidak mau dituturkan kembali ada apa gerangan, Ratanaruang memberikan pengalaman yang berbeda pun terus mengukuhkan eksistensi negara Thailand sebagai negara yang punya reputasi besar diperfilman dunia.

Directed By Pen-Ek Ratanaruang Cast Jayanama Nopachai Porntip Papanai Wanida Terthanaporn Country Thailand Running Time 109 Minutes
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
....................
B



Sebuah drama kelam yang sudah cukup lama dinanti nanti publik lokal mengingat film ini mengikuti jejak film Precious memenangkan predikat film terbaik di Sundance Festival. Meskipun jika diperhatikan lagi, track record film film terbaik pilihan juri Sundance tersebut bukanlah film yang istimewah dimata saya. Sepertinya tidaklah terlalu masalah apabila hot isu film ini untuk mendapatkan 10 tempat film terbaik di Academy Award semakin menurun,mengingat memang sudah menjadi pengetahuan umum bila film film yang diluncurkan dipertengahan tahun kans nya perlahan lahan berkurang oleh dominasi film musim dingin yang lebih cerdik dan masih dalam ingatan yang fresh.Lihat saja 127 Hours nya Danny Boyle yang sampai saat ini masih ditutup tutupi; True Grit-nya Coen Brothers atau Tree Of Lifenya Malick (tapi jangan samakan dengan Inception dan Toy Story 3, dua film ini sudah dipastikan dalam status lock di best pictures "well menurut pengamatanku..)
Namun hal apa yang membuat saya cukup yakin film arahan Debra Granik ini bisa berbicara banyak diperebutan piala bergengsi nanti atau paling tidak masuk 10 film favorit saya untuk tahun ini, tak lain adalah materi cerita film ini yang sepertinya sangat cocok dengan apa yang dicari Oscar. Well tentunya apa yang dicari Om Oscar dengan apa yang saya cari tentu berbeda. Bagi saya untuk film ini, tidak akan pernah terlintas untuk menyaksikan untuk keduakalinya, namun ada unsur yang mungkin mematahkan hal itu yakni penampilan Jennifer Lawrence yang menurutku cukup cemerlang memerankan Ree Dolly dan satu lagi yakni nuansa country yang begitu tentram dan akrab ditelinga saya (hey lagu di credit titlenya sudah ku hunting).

Ree Dolly adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang tinggal bersama seorang ayah dan ibu dan dua orang adiknya disebuah desa terpencil di Amerika (tampak jelas dari jenis mobil yang dipakai disana). Kegiatan sehari harinya adalah berperan ganda terhadap kedua adiknya Sonny dan Aslee , sebagai kakak yang menemani mereka bermain atau sebagai ibu yang mencari nafkah untuk kelangsungan hidup mereka. Ibunya Connie sudah lama depresi dan sakit sakitan sehingga Ree tampak begitu rutin menemaninya. Ree juga berkeinginan untuk mencari nafkah tambahan dari sebuah wajib militer yang diselenggarakan didaerah dimana ia tinggal, namun tidak segera terwujud karena perhatian pada keluarga. Musim dingin yang begitu meremukkan tulang tulang diperlihatkan disepanjang setting film sehingga setiap orang yang tinggal didesa itu memakai mantel bulu yang tebal dan membutuhkan pasokan makanan yang banyak. Namun keluarga Dolly sedang krisis keuangan dan pangan, terlebih ayahnya sebagai kepala rumah tangga sudah berbulan bulan tidak pulang kerumah.Masalah mulai muncul ketika seorang sherrif memburu ayahnya Jessup Dolly karena tidak menghadiri sidang yang harus dihadirinya.Bila ia tidak dapat hadir maka sebagaimana perjanjian yang telah dibuat mereka akan didepak dari rumah yang mereka tinggali.

Dimulailah pencarian ayahnya dengan mencari informasi dari orang orang terdekat ayahnya, mulai dari adiknya Teardrop si penghisap bubuk heroin dan sepupunya Little Arthur. Namun tidak ada yang berani memberi kesaksian terlebih mereka malah melarang Ree untuk mencari ayahnya yang entah hilang kemana..,dan ketika ia mulai melangkah lebih jauh dan dirasa mengganggu ketenangan orang orang yang berkenalan erat dengan Jessup , hidup Ree menjadi jauh lebih sulit dan terancam.

Jennifer Lawrence memerankan karakter Ree Dolly dengan sangat prima sebagai seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang diperlihatkan sangat matang dalam menempuh kerasnya alam dan tindak tanduk orang orang disekitarnya namun dilain sisi begitu rapuh jika berhadapan dengan kondisi ibu dan adiknya yang terancam digusur.Seperti melihat potret potret kejadian kejadian era kini yang marak dengan penggusuran disana sini dan terjadinya kemarahan dan kesedihan bagi orang yang akan digusur. Namun Winter's Bone tidaklah hadir untuk materi tersebut, ia hadir dalam memperlihatkan bagaimana kerasnya jiwa jiwa orang yang tinggal didaerahnya seperti tidak merasa mau tahu ada sebuah sindikat pembunuhan yang telah terjadi tidak peduli ada hubungan darah sekalipun juga kepolisian yang malah tidak mau tahu dengan masalah tersebut (yang mereka mau adalah mencoba mencurangi bukti persidangan yang disengaja tidak lengkap untuk menjarah harta orang lain.) Sepertinya cukup cocok untuk penonton yang berjiwa dan berpikir sosial.

Winter's Bone paling tidak berhasil menawarkan nuansa Country yang memang mengakrabkan saya dengan kampung halaman saya (hei Tanah Batak juga sangat klop loh jika dipadukan dengan country) walau memang sekali lagi sedikit sulit untuk menerima apa yang ingin dihadirkan secara keseluruhan disini. Ending di film ini ketika adiknya Ashlee memetik metik gitar dengan aksen seolah olah sudah piawai dan keheningan diwajah Ree selepas itu bagi saya paling tidak esensinya mirip ending dari film A History Of Violence yang mengambil unsur noir yang kental, ya hening namun menghadirkan kelegaan bagi semuanya...

Directed By Debra Granik Cast Jennifer Lawrence John Hawkez Kevin Berznahan Shaley Waggener Running Time 100 minutes Country USA Genre Drama,Thriller,Mystery
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...................
B+






Elegi sebuah drama kehidupan, disaat seseorang yang teramat berarti bagi diri kita pergi bagai tertiup angin, ada sebuah ketakutan ketika hidup akan terasa jauh lebih berat.Entah seseorang tersebut adalah istri,suami,anak ataupun sahabat dekat, luka itu terpintas dalam bayang bayang ingatan yang tersingkap dalam bilik kerapuhan.Perhatikan baik baik bagaimana elegi itu dikemas oleh sang sutradara bernama Tom Ford. Bagi yang sudah merasa familiar dengan kiprahnya didunia perancang busana pasti akan bertanya tanya mau apa sih dia masuk ke dunia sinematography? Jika kita menilai hal ini dianggap sebagai sebuah project debutan yang asal asalan maka kita pantas merasa bersalah. Biarkan seorang designer berkarya.Biarkan Tom Ford mengangkat novel yang diakuinya adalah novel kesayangannya itu.Toh pada kenyataanya kita harus mengakui sebuah profesi adalah afirmasi talent dan talent bukan sekedar gaya gayaan.Kembali pada statement "paket yang telah saya singgung tadi apa sih yang menjadi sumbu peletup seorang Tom Ford sehingga merasa sanggup menangani film dari home studio Weinstein Company ini? Tak usah berpikir jauh jauh mari saya antar anda melihat kepiawaian dia mempermainkan "warna" didunia sinema seperti halnya ia mempermainkan kombinasi warna dibusana.

Warna adalah ilustrasi yang paling tepat mengungkapkan secara melankolis beban seperti apa yang sedang ditanggung oleh George Falconer (Collin Firth) Si Profesor sastra inggris maskulin yang sering dipanggil Old Man oleh orang orang terdekatnya. Oh ia sedang ditinggal mati kekasihnya Jim.


Kepergiaan Jim adalah kegundahan.Kepergian Jim adalah kesenduan.Kepergian Jim adalah alasan terbukanya suatu tanda tanya "adakah harga hidup selepas itu"? Dan haruskah ia menuruti kata hatinya untuk segera mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol kedalam mulutnya setelah kehampaan menjalani delapan bulan itu, membuat para nomaters merasa dipanggil panggil "hey hey bantu dong dia.?!''.
Mungkin banyak yang jengkel haruskah kehilangan kekasih semacam itu harus didramatisir dengan porsi porsi yang kelewatan dan terlebih tidak adanya scene scene yang memperkuat arah mengapa ia harus mengakhiri hidup dan sekuat apakah hubungan diantara keduanya?

Jika dianggap mengakhiri hidup dengan cara cara seperti itu dianggap malah sangat romantis ada kalanya ruang didalam cerita ini hendaknya sedikit diperlebar sehingga penontonpun merasa lumrah jika kondisi psikologisnya harus mengatakan demikian.Disaat saat terakhir itulah George menghampiri orang orang terdekatnya, seperti keseharian keluarga Strunk, memberi sedikit uang kedalam amplop kepada pembantunya sebagai ungkapan terima kasih dan terakhir mengunjungi Charly mantan kekasihnya dulu sewaktu mereka di London dulu.


Pola pola warna yang sarat sarat penafsiran menjadi jembatan transmital menghubungkan apa yang dialami George, apa yang terjadi disekitarnya dan apa yang coba dikenangnya. Biru adalah unsur religi dan merah adalah amarah. Begitu juga ketika kita melihat masa lalu George dan Jim ketika mereka bercengkrama disebuah pebukitan berbatu , layar berpindah drastis menjadi grayscale yang begitu kontras. Ketika ia tersadar dari lamunannya atau masa kini warna layar menjadi sephia dan muram, mengingat masa masa ia masih terkungkung didalam kedukaannya. Berpindah ketika ia keluar ruangan dan melihat keluarga Strunk dan keceriaan anak anak mereka bemain main ditaman warna berubah menjadi amat kontras.

Menyaksikan A Single Man tentu yang menjadi apresiasi yang tinggi pantas disematkan kepada seorang Collin Firth bagaimana ia dapat menterjemahkan karakter metroseksual yang modern,rapi dan sopan.Hampir sedikit ragu juga akankah ia bisa melepaskan image aristokrat inggris yang kaku didalam serial tivi Pride And Prejudice yang sangat kesulitan mengungkapkan perasaannya akan cinta. Ajaibnya pencapaian itu malah ditangani oleh seorang debutan bernama Tom Ford.
Khusus untuk Julian Moore walau dalam porsi peran yang sempit kehadirannya bak sebuah penyegaran bagi saya, lihatlah bagaimana ia mendalami karakter Charly yang bertahan lama hidup tanpa kehadiran suami dan anaknya. Bagaimana ia begitu merasa terhibur dengan dansaannya walaupun tampak begitu ada kegetiran yang teramat dalam diguratan wajahnya. Saya juga mau mengingatkan adegan didepan rumah Charly pada saat George berkunjung , tampak mawar begitu elegannya di shoot dengan warna merah yang kontras. Sebenarnya ada pesan yang begitu halus pengungkapannya ketika George bertemu lagi dengan Charly mantannya yang paling memahami bagaimana dirinya dan kedekatannya dengan Jim.
Namun ketika George sendiri lagi didalam rumahnya warna warna yang cerah itu hilang, bahkan kalau dipikir pikir terlalu menyakitkan jika kita membandingkan warna warna kelam George dengan warna warnanya keluarga Strunk.

Disisi lain Tom Ford memberi gambar gambar shot shot photo seperti yang biasanya tampak di majalah majalah designer yang sangat memperhatikan saturasi warna dan sudut sudut penangkapannya. Seperti ketika George melalui sudut pandangnya melihat seorang pria bermain tennis yang memperlihatkan sudut sudut artistik keindahan tubuh pria, atau ketika sekretaris yang dijumpainya dikampus pengambilan sudut sudut kelopak mata begitu jelas dan cerah.

Menyaksikan A Single Man perubahan dalam hidup itu memang terjadi seperti mengajak kita mengambil asumsi bahwa warna adalah aura hidup. Ia mengajak bahwa setiap interpretasi itu ada maknanya dan setiap makna ada dalam hidup kita jika kita mau mengambil dan bangkit keluar dari itu. Tidakkah hidup terasa sangat menyesakkan ketika warna warna kelabu kita anggap sebagai kebahagiaan dan masa depan yang benar adalah hidup dimasa lampau. Kehadiran Kenny Potter salah satu mahasiswa yang dididiknya menjadi kunci penting disini. Walau seolah olah gerak geriknya mencurigakan dan seperti sedang kerasukan ia seperti metafora yang hadir dihadapan George yang menyadarkan George secara tidak langsung pilihan yang telah ia pilih dicegah olehnya.Dan hey apakah eksekusi kematian George adalah pilihan yang setimpal? Simak saja sendiri...

Directed By Tom Ford Cast Collin Firth Nicholas Hault Julianne Moore Matthew Goode Running Time 99 minutes Country UK Distributed By Weinstein Company & Fade To Black
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
.................
A-








Diberdayakan oleh Blogger.