Yups ini dia pengumuman National Board Of Review sebagai pembuka pesta penghargaan insan perfilman yang datang dari sebuah organisasi tertua di Amerika dan selalu memulainya lebih awal untuk pengumuman.Kalau tahun lalu Up In The Air-nya Jason Reitman sukses memboyong kategori utama sebagai film terbaik, kini giliran Social Network yang ditasbihkan sebagai yang terbaik versi mereka, pun tidak luput David Fincher dianugrahi sutradara terbaik lewat film yang lagi nge-tred ini.Sebenarnya sedikit miris ketika hati ini ingin berpihak pada True Grit nya Coen Brohers yang masih terlalu dini untuk menilai seperti apa persaingan kedepannya, karena rasa ketidaksabaran itu sudah memuncak untuk mengetahui akan sepanas apa aura Oscar 2011 nanti.
Sedikit gatal melihat Buried film yang tidak lama ini baru saya saksikan menang dikategori naskah asli terbaik(?) dan hey sangat senang Christian Bale menang sebagai aktor pendukung lewat The Fighter..hmm, selama ini kita khan tahu kalau penghargaan penting dan bergengsi tidak pernah mampir di tangannya.
Dan terakhir pada kemana niih kontender utama 127 Hours-nya Danny Boyle? Kog sepuluh besar saja tidak masuk?

Best Film

The Social Network


Best Director: David Fincher, The Social Network

Best Actor: Jesse Eisenberg, The Social Network

Best Actress: Lesley Manville, Another Year

Best Supporting Actor: Christian Bale, The Fighter

Best Supporting Actress: Jacki Weaver, Animal Kingdom

Best Foreign Film: Of Gods and Men

Best Documentary: Waiting For “Superman”

Best Animated Feature: Toy Story 3

Best Ensemble Cast: The Town

Breakthrough Performance: Jennifer Lawrence, Winter’s Bone

Spotlight Award for Best Directorial Debut: Sebastian Junger and Tim Hetherington, Restrepo

Best Original Screenplay: Chris Sparling, Buried

Best Adapted Screenplay: Aaron Sorkin, The Social Network

Special Filmmaking Achievement Award: Sofia Coppola, for writing, directing, and producing Somewhere

William K. Everson Film History Award: Leonard Maltin

NBR Freedom of Expression: Fair Game, Conviction, Howl

Top Eleven Films (In alphabetical order):

Another Year
The Fighter
Hereafter
Inception
The King’s Speech
Shutter Island
The Social Network
The Town
Toy Story 3
True Grit
Winter’s Bone

Top Ten Independent Films (In alphabetical order):

Animal Kingdom
Buried
Fish Tank
The Ghost Writer
Greenberg
Let Me In
Monsters
Please Give
Somewhere
Youth in Revolt

Top Six Foreign Films (In alphabetical order):I Am Love
Incendies
Life, Above All
Of Gods And Men
Soul Kitchen
White Material
Top Six Documentary Films (In alphabetical order):

A Film Unfinished
Inside Job
Joan Rivers: A Piece of Work
Restrepo
The Tillman Story
Waiting For “Superman”


Cinta adalah sebuah kata yang tak berkesudahan untuk dibahas, tidak dalam puisi,novel,roman, opera sabun atau bahkan sinetron, cinta dieksplorasi dalam tiap lini sudut keinginan dan kedalaman imajinasi sang kreator.Apakah cinta itu tampak sangat menggetarkan dan menggairahkan? atau malah cinta diumbar sebagai skenario yang terlampau dipaksakan dan terlihat palsu. Luca Guadagnino dalam kesempatan kali ini dengan sangat tegas menggaungkan kalimat "I AM LOVE" sebagai kalimat yang tampak begitu agung dan dahsyat sebagai garis besar tema yang hendak dituturkan. Melalui potret karakter Emma yang diperankan dengan sangat apik oleh Tilda Swinton, cinta meletup menjadi sebongkah rasa yang begitu menggugah. Diceritakan Emma yang berasal dari Rusia menikahi Trancedi Recchi seorang industrialis Italia.Walau Emma terlihat tampak begitu bahagia dengan keluarga yang dibangunnya , Emma merasakan ada keterkungkungan yang selalu melanda hati dan jiwanya, ketika ia menyadari ada aspek kebebasan yang tidak ia dapatkan selama ini.Oleh karena itu ia begitu memahami putrinya Betta yang menyukai sesama jenis,ketika semua anggota keluarganya tidak ada yang akan mau mendengarkan kecuali dirinya, Emma benar benar menghargai cinta yang dimiliki putrinya tersebut.Cinta juga tampak begitu bijaksana, ketika kapitalisme masih membedakan siapa orang orang besar dan siapa kelompok kecil, cinta seorang Emma meleburkan semua batasan itu dengan sangat manusiawi.Tampak ketika pembantu setianya Ida diajak oleh Emma makan bersama, secara halus Emma mengatakan kepada kita cinta itu melepaskan atribut yang kita miliki.

Cerita semakin tajam ketika ia diperkenalkan oleh teman putranya Eduardo,Antonio seorang koki muda yang pada suatu kesempatan menghidangkan sebuah sajian istimewah dikeluarga Recchi.Ketika Emma mencicipi masakan dari Antonio , gairah yang selama ini tak ia dapatkan lagi tergugah dengan rasa yang memanjakan rongga mulut Emma dan diperlihatkan dengan shoot shoot fantasi yang membuat jiwa melayang layang. Emma pun sadar dari lubuk hati terdalam bahwa bumbu bumbu masakan Antonio membuat ia jatuh cinta kepadanya.terjalinlah hubungan gelap diantara keduanya.
Kenikmatan itu memuncak ketika cinta diantara keduanya adalah sebuah erotisme yang mendebarkan.Penonton diajak menyelami kenikmatan itu dengan atmosfir yang lepas dan menggairahkan, bercumbu dihamparan rumput yang hijau, ditemani aroma udara yang menyegarkan dan ditingkahi suara suara serangga nan alami.

Cerita terbongkar oleh Eduardo sang putra yang mengetahui perbuatan tabu sang ibu.Pun ia merasakan hal itu karena ia begitu mencintai keluarga yang ia miliki dan ditengah itu, Eduardo ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam.Didalam "I Am Love" cinta menjadi sebuah aspek kehidupan yang terlihat sangat jujur,ketika hembusannya menghempas dada seseorang, ia ingin direnggut,dimiliki dan diraih sebagai bagian dari kebebasan diri.Ia adalah detak jantung yang menggebu dan begitu rumit untuk dijelaskan secara terperinci, melalui Emma cinta dapat dijelaskan dalam tataran yang sesungguhnya.

kehadiran I Am Love tentu menawarkan suatu hasil yang mengejutkan bagi saya yang selama ini sedikit skeptis dengannya.I Am Love menawarkan cita rasa yang begitu kompleks dengan aroma Italia yang menawan dengan balutan score yang terdengar begitu empuk.Lihatlah arsitektur rumah keluarga Recchi ini begitu mempesona begitu juga dengan adegan menggebu gebu Emma membuntuti Antonio yang sampai membawa ia ke lanskape pegunungan yang hijau dan menyejukkan, dan saya senang warna orange yang ia kenakan melengkapi nuansa seksi film ini.

Directed by Luca Guadagnino Cast Tilda Swinton Falvio parenti Eduardo Gabbriellini Pippo Delbono Maria Paiato Genre Drama Romance Country Italy Running Time 12o minutes
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...............................................
A+












Suatu hari mejeng mejeng di Gramedia, kudapati buku berjudul "Kopi Merah Putih" yang memasang satu artikel yang menarik. tertulis dalam artikel tersebut, untuk melatih tentaranya, Amerika serikat membuat suatu tempat pelatihan khusus untuk simulasi pertempuran, lengkap dengan desa desa dan kota buatan.

Untuk membuat simulasi lebih realistis, disiapkan pula 800 pemain pelengkap yg akan beraksi sebagai wartwan,dokter,pasukan perdamaian dan lain lain lengkap dengan nama palsu sejarah dan karakternya.
Untuk tempat pembuatan simulasi ini, dua perusahaan film Hollywood direkrut untuk membantu menciptakan efek tembakan dan ledakan yang realistis, sekaligus melatih akting para pemainnya.

Bukan main. Kalau dulu Hollywood merekrut mantan militer sebagai konsultan untuk membantu membuat perang yang lebih realistis, sekarang militer justru merekrut Hollywood.

Sekarang mari kita bayangkan kalo angkatan bersenjata kita memutuskan untuk melakukan hal yang sama : merekrut perusahaan sinetron kita untuk membantu menciptakan simulasi pertempuran.

Apa jadinya?

* Simulasi pertempuran akan penuh jeritan,tangisan dan pertengkaran

*Dalam pertempuran tentu ada "kawan" dan "lawan". Kawan disini biasanya berwajah ganteng dan cantik, berhidung mancung dan berkulit putih mengenakan pakaian desiner mahal dan mengendarai mobil mewah.Sedangkan "lawannya" adalah sekelompok pria berpakaian jaket kulit dan jeans, mengendarai mobil jip butut dan selalu tertawa sendiri tanpa alasan yang jelas.


* Sebagai alternatif "lawan" bisa juga menggunakan figur seorang ibu bermake up tebal dan bersasak tinggi, yang selalu bercakap cakap dengan dirinya sendiri setiap kali ia membuat suatu rencana jahat.

*Strategi akan ditentukan oleh para Jendral. Namun keputusan tidak datang dengan cepat Setiap kali dihadapkan dengan masalah, Sang Jendral akan berdiri perlahan lahan, berjalan menuju jendela, menghela napas panjang dan matanya menerawang jauh ke cakrawala. Ia lalu akan bercerita tentang masa kecil,kisah cinta dan mimpi mimpinya, sebelum akhirnya membuat sebuah keputusan. ( hahahaaha..)

*Karena ini adalah simulasi pertempuran, tentunya akan ada tembak menembak. Tapi tidak usah banyak banyak. Mungkin satu dua tembakan saja. Sisa waktunya kemudian akan diisi dengan percakapan panjang yang tak habis habis dan pertengkaran yang tak jolas juntrungnya.

* Ketika pistol ditebakkan, akan ada jarak waktu yang lama antara ketika tembakan dilakukan dan suara letusannya.Begitu juga dengan kecepatan peluru. ada jarang yang cukup panjang antara waktu pistol ditembakkan hingga peluru akhirnya mengenai lawan.

*Ketika lawan tertembak, ia akan tersungkur ketanah dalam slow motion. Ia akan tersungkur beberapa kali, dengan sudut kamera tampak depan,tampak samping,dan tampak belakang. Semua dengan slow motion.

*Korban lalu akan berbaring sambil memegang luka didadanya. Ya, disinetron, walaupun Anda ditembak dari belakang sekalipun, luka anda akan muncul didada.

* Korban tembakan biasanya tidak akan langsung tewas. Ia akan berbicara tentang hidup,cinta dan penyesalan selama kurang lebih setengah jam sebelum akhirnya menghirup nafas penghabisan.

* Dalam 1 jam simulasi,55 menit waktu akan dihabiskan untuk membangun plot yg rumit dan penuh konflik. Tapi tak peduli betapa rumitnya, semua masalah akan selesai hanya dalam beberapa menit sebelum simulasi berakhir.dan 5 menit terakhir semua "lawan" akan secara ajaib cepat terbunuh,tertangkap, atau insaf dengan sendirinya.

*Pada akhir simulasi, merk merk pakaian,furniture,mobil,telepon genggam dan barang barang lainnya yang digunakan selama simulasi akan ditampilkan, diiringi dengan lagu yang sedang populer pada saat itu.


Tidak pernah menyangka sebuah home production sebesar Hollywood yang belakangan di cap sudah kehabisan bensin untuk membuahkan karya bagus dan sukses ,ternyata eh ternyata masih mampu menggarap sebuah drama keluarga dengan pendekatan yang fresh dan cukup memuaskan.Namun dibalik itu semua ternyata drama keluarga yang hendak disajikan tidaklah seperti yang ada didalam benak kita, tidaklah seperti drama drama keluarga yang seperti biasa seperti seorang anak dengan segala kerewelannya bertingkah dengan pola pola lucu nan menggemaskan, atau seorang suami yang sangat mencintai sang istri namun ajal memisahkan keduanya,Atau film film yang memperlihatkan ayah sebagai figur bagi seorang anak dan kehadirannya merupakan hal terpenting, atau...apalaah pikirin sendiri.
Yang ada adalah dua orang wanita lesbian yang mencintai satu sama lain dan membesarkan dua orang anak.(Bagi yang konservatif barangkali akan tidak lagi tertarik dengan ulasan ini.)
Kedua pasangan ini sepakat untuk menggunakan bantuan dari pria lain sebagai pendonor sperma.
Keluarga wanita lesbian memang terasa asing didengar di telinga kita orang timur-an bahkan dianggap tabu , namun ternyata keberadaan mereka bukanlah hal yang baru di Amerika sana.Keberadaan mereka sudah diterima dengan akal sehat oleh keluarga lain yang normal.


duet bintang besar Bening dan Moore

Kepala keluarga mereka bernama Nic (diperankan teramat apik oleh Anette Bening) dan pasangannya Jules (Julianne Moore). Nic adalah seorang dokter yang amat perfeksionis, banyak omong,banyak tanya,melarang anaknya menaiki kendaraan sepeda motor dan menjadi tauladan penting bagi kedua anak mereka Joni (Mia Wasikowska) dan Laser (John Hutcherson).Joni adalah putri pertama mereka dan karakternya teramat pemalu.Namun ia berprestasi bagus disekolah dan mendapat grade A dan beasiswa. Sedangkan Laser, anak baru gede berumur empat belas tahun yang sedikit sensitif, salah dalam pergaulan dan juga seperti halnya dengan Joni, mereka sama sama ingin dianggap tidak lagi seperti anak kecil yang terus diatur dan diperintah.
Sedangkan Jules adalah seorang lulusan arsitek namun belum dapat mewujudkan keahliannya dalam merancang sebuah desain taman impiannya karena waktunya habis tersita menjaga kedua anaknya.

Ke empat anggota keluarga tadi sangat solid, saling menyayangi, tidak merasa kekurangan satupun, saling memberi dan menasehati dan saling mendukung satu sama lain.Pun ketika sikecil Laser (maaf dia memang masih kecil bagi saya) sedikit bingung mengapa kedua orang tuanya menonton film gay keduanya berusaha untuk memperjelas hal itu. Dengarlah jawaban yang dituturkan oleh Jules tentang semua itu dengan naskah yang teoritis.Bagi saya itu terlihat sangat aneh dan lucu.
Tapi sebenarnya kedua anak ini pada akhirnya akan bertanya tanya siapa sih orang yang mendonor sperma kepada kedua orang tuanya dan hendak merencanakan pencarian ini tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.Akhirnya mereka menjumpai ayah biologis mereka yang ternyata adalah Paul (Mark Ruffalo) seorang petani tanaman organik yang juga membuka restaurant.

Dengan sendirinya perhatian kedua anak tersebut selalu tertuju pada Paul dan ketika kedua ibu mereka akhirnya mengetahui hal tersebut mereka dengan senang hati mengundangnya berjamu makan siang dikediaman mereka.Perbincangan hangat pun bertebaran disepanjang cerita, mulai dari bagaimana pertemuan Nic dan Jules lengkap dengan kekocakan lidahnya Jules, begitu juga dengan Paul yang menganggap sekolah tinggi tinggi tidaklah terlalu penting yang ditangkap keluarga itu pertanda kebanggaan diri yang berlebihan, sampai pada Joni yang masih malu malu disepanjang cerita.Dihidangkan dengan kebiasaan mereka meminum anggur dan mengobrol satu sama lain, timbullah perasaan dari Paul bahwa ia ada ikatan diantara merekaPun semakin tampak menyenangkan ketika Jules bisa bereksperiman terhadap cita citanya selama ini untuk membangun sebuah konstruksi taman milik Paul yang tidak terurus. Perhatian Jules dan kedua anak anaknya sudah tertuju pada Paul, dari poin inilah muncullah problema problema keluarga yang cukup menyentuh, ketika figur kedua ibu ini sudah retak dimata kedua anaknya yang begitu lugu dan diliputi perselingkuhan yang tidak mengenakkan.

Pada prosesnya sebuah gulir cerita menghadirkan suatu konsepsi baru terhadap stigma terhadap keluarga lesbian ini.Siapa bilang keluarga seperti ini tidak harmonis? Siapa bilang keluarga seperti ini kekurangan figur seorang ayah? Walaupun besar yang anggapan bahwa sang sutradara seperti hendak memperlihatkan landscape eksistensi keluarga lesbian ini menjadi tampak meyakinkan, namun film ini terasa sangat universal.Terlebih Anette Bening yang menjadi karakter paling memorable disini dimana sikap perfeksionis yang ia telah bangun dianggap lain oleh Jules, Jules yang mengatakan itulah senjata Nic untuk mengekang ia bak sebuah boneka yang terus mengurus rumah. Juga ketika Nic menyanyi lagu kesukaannya dengan Paul dengan sangat menghayati sekali.Ini adalah performa yang cukup tepat untuk obat rindu pasca American Beauty.Surprisee...
Directed By Lisa Cholodenko Cast Annete Bening Julianne Moore Mark Ruffalo Mia Wasikowska John Hutcherson Running Time 106 minutes Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA
.......................................
B+









Diberdayakan oleh Blogger.