Tidak pernah saya sangka sebelumnya bahwa saya sangat bersemangat menanti peluncuran Harry Potter And Deathly Hallow Part2 15 Juli nanti, itupun kalau kisruh kenaikan pajak film import sudah menemui titik terang.Setelah Deathly Hallow Part 1 menuai pujian melimpah (termasuk dari saya yang memberinya score A-) maka akhirnya battle dari francise paling dahsyat
satu dekade ini mencapai puncaknya.Ngomongin Deathly Hallow walau sedikit aneh memang mengapa ada saja orang yang tidak menyukai tone drama yang diusungnya , tetap saja saya menganggapnya berhasil dan layak deh disebut seri Harry Potter paling dahsyat bersanding Prisoner Of Azkaban yang juga sangat dark dan kelam.

Posting ini akan membahas screenshot dari trailernya yan belum lama ini akhirnya dirilis.Dahsyat? Oh tentu saja.Itu sebabnya saya membuat artikel ini khusus untuk membuat screenshot paling menawan dari trailer tersebut.Karena saya sudah lama tidak membuat list dan sudah kebelet ingin membuat list, ya akhirnya ada daftar iseng disini.Penasaran? Langsung saja deh...

HONORABLE MENTION




Lanjut ke 10 besar....
#10
Voldemort beraksi dengan permainan sihirnya.Cukup membuat mulut ternganga

#9
Bagaimana melukiskan ini? Saya hanya paham jika sudah menontonnya kali ya.Tapi ini sangat tricky

#8
Api menyambar nyambar disana sini dari seekor naga putih yang entah beritikad baik atau buruk.

#8
Tidaak hero kita sepertinya mengalami saat saat tersulit menghadapi kekuatan Voldemort.Penempatan shotnya sangat dramatis dengan batu batu reruntuhan disana sini

#7
Menjadi shot pembuka di trailer resminya.Dua orang gadis saling bertemu dipadang rerumputan.Dalam trailernya shot diperlihatkan goyang seperti ingin memperlihatkan kalau ini adalah dunia imajinasi

#6
Didalam trailernya screenshot ini ditampilkan dalam bentuk slow motion.Well anda tahulah cita rasa slow motion itu seperti apa.Gurih

#5

Wah bakal dipastikan menjadi adegan dimenit menit terakhir dalam battle.Shotnya direkam dari atas dan memperlihatkan hero kita terjatuh bersama Voldemort.Sepertinya juga akan menjadi adegan paling penting

#4
Teringat dengan shot sebuah film besar, apa ya? Oh No Country For Old Men. Anda mungkin setuju

#3
Mungkin shot seperti ini pernah dipakai Lord Of The Ring. Perpaduan ranah artistik fantasi.

#2
Terlihat biasa saja memang.Tapi sesunggunya dalam klip trailernya ada petir yang datang membayangi latarnya.Ada rumah tua dan seorang pria (guess who is he?) Cita rasa kelam dan dark tetap terasa.Saya mengatakannya inilah Harry Potter
#1
Saya yakin ini kelanjutan shot diperingkat #7.Ketika saya melihat shot paling menawan dari trailer Harry Potter ini, saya langsung bertanya tanya sekaligus berdecak kagum "hey apakah Harry Potter ini film festival?" hanya ada satu tangan kanan terbentang( entah milik siapa ) yang memunculkan bunga yang muncul perlahan. Ada unsur filosofis yang kentara yang sepertinya hendak dibangun didalam filmnya, Saya menyebutnya Lars Von Trier sekaliii...



Sekiaan untuk list ecek ecek itu sekarang nikmati videonya dibawah ini






Biutiful (2010)

Sebagai kali pertamanya seorang Alenjandro Innaritu melepas ciri khasnya sebagai spesialist film berfragmen, tentu ada rasa penasaran akut yang disandang oleh film ini. Apalagi ketika diketahui bahwa ia akhirnya memutuskan berpisah dengan rekan sejatinya Guillermo Ariaga,sang penulis yang paling paham seperti apa ciri khas dan idealisme dia.Sehingga berjalanlah kisah terbaru berjudul Biutiful ini yang menyorot sisi humanis sang tokoh utama Uxbal (Javier Bardem) lengkap dengan sisi kelam yang penuh sesak dan menghantam dada.Tata sinematografi semakin maju, begitu juga dengan lagu latar khas Gustavo Santaolalla, walau implisit namun mampu menghidupkan ritme kemuraman dan kesepian dengan apik.
Walau sebenarnya terbilang cukup bagus, namun sayang Biutiful sebenarnya adalah karyanya yang paling lemah, tidak merasakan kekuatan disetiap sesi penceritaan.Hey kamu Innaritu, kembalilah pada style fragmen yang kamu miliki, dari situlah kamu dipuja puji.. (C+)

Blue Valentine (2010)
Tahun 2010 lalu memang penuh cinta, masih sama dengan Everyone Else (2010) yang mengisahkan naik turunnya pasangan muda,Blue Valentine juga mempertanyakan cinta sejati dan komitmen dalam menjalin hubungan diantara sepasang kekasih (Dean dan Cindy) sampai akhirnya mereka memutuskan untuk naik ke jenjang pernikahan.Cinta itu tak selalu manis, suatu ketika cinta itu tak ubahnya rasa yang begitu pahit.
Adegan disaat Dean bermain ukulele dan Cindy menari tap dance adalah momen romansa yang tak terlupakan dan mau saya tiru. (B)

Illusionist (2010)
Rindu rasanya animasi kontemporer seperti ini, gambarnya begitu tereksplorasi dengan cermat dan istimewah, ada seni dan keartistikan yang tampil dominan didalamnya.Naskah yang hanya sedikit justru malah menjadi pengalaman yang teramat mengasyikkan. Kisahnya juga sangat menyentuh ketika profesi sebagai pesulap bukanlah jalan yang tepat untuk dijadikan alat mencari nafkah.Sehabis menonton Illusionist coba anda singgung dengan Toy Story 3 , saya akan berkata "saya menjadi ragu dengan kehebatan Toy Story 3". (B+)

Poetry (2010)
Sebagai orang yang pernah menggandrungi kegiatan menulis puisi, Poetry bak refleksi diri yang sangat personal, begitu sulit memang menulis puisi ketika tidak dapat menghadirkan inspirasi. Inspirasi itu sesungguhnya harus didapat ketika sisi kemanusiaan,kecintaan dan kedukaan sudah terkoyak...Lee Chang Dong memang auteur Korea yang sangat bersinar, ia paham sekali bagaimana membuat hati saya bisa teriris iris.Walau sebenarnya banyak sesi yang flat, namun dari situlah saya bisa mengambil kekuatan penceritaannya.Tak heran jika nanti film ini muncul di list terbaik 2011 saya
(A-)




Kehidupan suku Aborigin di Australia memang menarik untuk ditelusuri, apalagi bagi setiap penonton yang memiliki keinginan yang sangat luas dalam mengembangkan ilmu antropologinya, Ten Canoes adalah pilihan yang tepat sebagai bahan untuk pembelajaran. Ten Canoes adalaf film yang mengangkat kehidupan suku Aborigin sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Kehidupan yang indah dan kuno itu disajikan dengan sangat sederhana dan voice over menarasikan alur ceritanya.
Melalui pendekatan yang sedemikian, Ten Canoes menyajikan suatu tuturan budaya yang spiritualis, dan sangat lekat dengan akar akar kebudayaan, seperti bagaimana tanah mereka tercipta, aturan aturan yang diterapkan, serta bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain.


Ada kepolosan alamiah yang disandang oleh mereka, ada kesenian yang melekat dalam peradabannya, serta ada keteguhan yang menyertai sistem hukum yang sudah lama mereka tegakkan. Sehingga Ten Canoes begitu apik dalam menelaah sisi yang mereka miliki sehingga kita penontonnya yang juga tergolong multi ras sangat mudah menikmati semua sisi sajian ini.Terlebih dengan banyaknya kita menemui persamaan pola hidup nenek moyang kita dizaman dulu dengan mereka, yang menjadikan semua itu terlihat cukup menyenangkan.Bicara tentang menyenangkan itu sendiri, Ten Canoes hadir dengan selipan selipan yang humoris dan bisa membuat anda tertawa terbahak bahak, karena tingkah laku pola mereka yang sangat alami, lucu dan sangat kuno.

Ten Canoespun tak ada ubahnya merupakan sajian antropologis yang sangat teduh, alami, dengan shot shot apik yang puitis disana sini , yang sempat mengingatkan saya dengan The New World, Ten Canoes berada pada sentuhan yang mengagumkan untuk mencapai semua itu.Kisahnya pun sangat unik,dongeng tentang masa lalu dimana berisikan ilmu sihir, penculikan, balas dendam dan cinta yang penuh dengan kekeliruan.

Namun Ten Canoes sangat disayangkan Voice Over Ten Canoes memakai bahasa Inggris, sehingga ada rasa yang kurang sedap jika elemen orisinilitas diperdebatkan. Rasanya film tentang budaya harus mengangkat bahasa budaya sebagai bagian dari peradaban budaya, misalnya film tentang budaya batak mungkin akan sangat menyenangkan jika bahasa batak diperdendangkan, sehingga ada feel yang masuk dengan utuh dan menyeluruh disana.Tapi tak apa apa , mungkin pemakaian bahasa inggris tentu dalam rangka internasionalisasi film ini.

Ten Canoes dengan upaya sang sutradara Rolf De Heer telah mampu mengangkat kultur budaya Aborigin ke pentas internasional, hebatnya pujian melimpah menghapiri cerita ini.Saya masih berharap sineas negara indonesia mau untuk memproduksi film sejenis, tentu ada harapan yang besar ketika kita tahu identitas kita sebagai negara multi ras dan budaya,sehingga itu semua rasanya bukan angan angan.Bertindak lokal maka hasilnya mengglobal.

Directed by Rolf De Heer Cast Crusoe Kurddal Jamie Gulpilil Richard Birrinbirrin Duration 90 Minutes Country Australia Language English
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE

.....................
B







"Ketika Harry bertemu dengan Sally" begitulah nafas title dari kisah ini, entahlah ketika saya memiliki niatan

untuk mengulas kembali kisahnya, ada banyak hal yang tampak sangat menyenangkan untuk diceritakan kembali,
ada keabadian yang tak lekang oleh roda waktu, ada nuansa jadul yang mejadi tenaga kisah ini, serta ada tampak sebuah metoda kisah yang sepertinya sudah berpuluh ribu judul film , mini seri, serial ataupun sinetron mengangkat tema yang sejenis. Namun lucunya tak satupun yang bisa seabadi When harry Met Sally.Oh itu benar.., seakan akan kita dengan mudahnya menarik kesimpulan dari pengamatan itu bahwa When Harry Met Sally adalah basis dari romantic comedy dijagat sinema dunia.

"ketika Harry bertemu dengan Sally" tak ada yang dinamakan itu sudah takdir, tidak ada pemakaian istilah "love
at the first sight" semua bergulir dengan proses naratif,perkenalan secara antar pribadi.Dimulai dimasa masa muda, ketika Sally menolong pacar sahabatnya untuk memberikan tumpangan mobil dari Chicago menuju New York.
pacarnya bernama Harry Burns (Billy Crystal) pria yang lancar sekali berbicara, seakan akan mengetahui banyak hal didunia ini, sedangkan Sally (Meg Ryan) adalah gadis manis yang cerdas,ia mengenyam pendidikan jurnalistik dan berkeinginan menjadi wartawan.Maka dimulailah road movie dan mereka pun bersahabat, penuh obrolan yang sangat argumentatif, dimata kita Harry mungkin pria yang seolah olah mengetahui banyak hal tentang wanita, pun dalam urusan seks, Sally mungkin terlihat sama, ia sangat cerdas dan cekatan, segala sesuatunya penuh perhatian, pun dalam urusan makan ketika mereka turun dirumah makan, segala sesuatunya harus dipinggir, sangat otentik.
Cerita disajikan sangat menarik,naskah olahan Nora Ephorn sangat bernaas.Hingga akhirnya mereka telah sampai di Ne york lalu merekapun berpisah

Lima tahun lamanya mereka berpisah dan bertemu kembali disuatu bandara.Sally sudah berpacaran dan ia seorang jurnalis di majalah The News, sedangkan Harry adalah seorang konsultan yang akan segera menikah.Mereka masih sama saja, obrolannya penuh perdebatan dan tentunya mengalir dengan cukup kocak, namun sayang diceritakan Sally akhirnya putus, dan Harrypun bercerai.Namun dalam hal ini mereka bertolak belakang,sally terlihat biasa saja dalam menghadapi keadaan walau ia memang masih bersedih, namun hal itu tidak berlaku pada Harry, ia masih sangat menginginkan sang istri yang menceraikannya.

"ketika Harry bertemu dengan Sally" tentu mungkin kita akan tahu seperti apa rupa akhir kisah ini.ceritanya mungkin terlihat klise- bahwa memang hidup ini penuh dengan keklisean, tetapi sesungguhnya When Harry Met Sally mencoba menguntai ragam argumentasi yang sejak awal dibangun tadi menjadi sebuah penemuan antara keklisean dan keabadian.Hidup adalah klise dan keklisean adalah keabadian,dan hal itulah yang sepertinya selalu dijumpai dalam kehidupan yang nyata dan dapat diterima jika sesungguhnya itu dijalankan.Inilah unsur yang sangat dekat dengan diri kita dan rasa rasanya kitalah subyek dari kesemua konten itu.Dan disinilah kita secara tidak langsung merenungi arti sebuah pertemuan, apa itu persahabatan,apa itu makna cinta yang kerap dinilai menghancurkan dan ternyata tanpa kita sadari kita sudah membangunnya, hingga kita dapat melihat bahwa hey itulah keabadian hidup ini yang akan kita rasakan dan kita nikmati sampai kita tua.
Coba lihat klip transisi antar bagian film dimana diselipkan beberapa pasangan orang tua yang menceritakan cerita awal kisah mereka, ya saya tertawa bahagia- sangat sederhana namun penuh momen dan makna yang menghantarkan mereka pada keabadian cinta.Letak inilah yang saya sukai dan nikmati.

Rob reiner berhasil membangun chemistry yang sangat kuat diantara Billy Crystal dan Meg Ryan, Billy Crystal tak ada ubahnya sebagai komedian yang sangat kocak, hingga sampai saat inipun dia dikenal sebagai presenter oscar yang paling disukai, sedangkan Meg Ryan semakin mengkilap sebagai Ratunya romantic Comedy, kiprah dia yang lalu pasti bakal yang merindukannya. Selain Rob Reiner sesungguhnya pujian melimpah harus disematkan kepada Nora Ephorn yang juga dikenal dengan menyutradari Sleepless In Seattle (1993) yang juga sangat fenomenal.
Nora Ephron membangun When Harry Met Sally dengan naskah naskah yang bernaas, begitu mengalir dan cukup deras dengan teori teori yang banyak dicari dalam urusan percintaan.Adegan favorite saya di When Harry And Sally tentu disaat Sally bersimulasi orgasme didepan Harry didalam sebuah restoran.Harry sebagai perwakilan seorang pria tidak mempercayai wanita mampu memalsukan orgasme mereka dan selama ini pria selalu yakin telah memuaskan mereka.Setelah bersimulasi seorang Pengunjung disebelahnya mengatakan pada pelayan "I'll have what's she's having".Dan naskah penutupnya pun sarat makna, "apakah seharusnya kita melupakan teman lama, dan jikalau itu telah terjadi apakah kita harus mengingat mereka kembali, yang sesungguhnya tidak akan pernah terjadi karena kita telah melupakannya..." jawaban Sally diakhir percakapan itu sangat tak terlupakan.
directed by Rob Neider cast Billy Crystal, Meg Ryan, Carrie Fisher,Bruno Kirby Screenplay Nora Ephron RunTime 96 Minutes Year 1989 Country USA
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
A+


Diberdayakan oleh Blogger.