Days Of Heaven, dalam jiwa keteduhan dan kepuitisan yang terpendar cahaya kuning memerah yang meningkahi rimbunnya ladang gandum,dalam usaha mengkonstruksi suatu pembangunan karakter dari perjalanan atau sebutlah petualangan tiga anak manusia, yang menyisipkan asa, cita cita dan cinta yang terdengar dari lugunya narasi seorang gadis kecil - mensugestikan pada diri orang orang disekitarnya, hidup ini adalah surga yang sayang kalau tidak segera kita hinggapi, tak peduli himpitan ekonomi jika disitulah seseorang terpenuhi dengan orang orang yang ia sayangi.


Bill (Richard Gere) seorang buruh metal kabur setelah menghajar sampai pingsan bos tempat ia bekerja, ia kemudian kabur bersama kekasihnya Abby (Broke Adams) dan adiknya Linda (Linda Manz).Lucu memang hubungan antara Bill dan Abby tersebut, lantaran mereka tidak dinikahkan dan karena tidak ingin ada pergunjingan dimata orang lain maka mereka mengaku ngaku sebagai kakak adik.

Pergilah mereka bertiga merantau menuju Texas dengan kereta api yang menderu deru dan cukup dominan ditangkap kamera, sebagai pekerja ladang gandum.Ladang gandum tersebut adalah milik seorang pria yang masih muda (Sam Shepard) yang kaya (namanya tidak disebutkan) namun terlihat tidak mengharapkan banyak hal dalam kesehariannya.Dirinya penyendiri, tidak memiliki keluarga dan tidak banyak bergaul.Kabarnya ia mengidap penyakit dan mungkin saja ajal dengan cepat datang menjemputnya.Hidupnya berubah, ketika hatinya terpaut oleh kecantikan Abby kekasihnya Bill,seperti melihat ada sebongkah kehidupan yang ia inginkan dan harapkan dibalik rambut hitamnya yang tergerai indah walau agak kumal.Ia pun meminta agar Abby dan saudara saudaranya bersedia untuk tinggal bekerja untuknya.Pun berjalannya waktu Abby akhirnya menikahi petani kaya raya tersebut.Terjadilah drama cinta segitiga tersebut.Kisah cinta ini menghadirkan ironi yang tampak sembab dan muram yang amat menyayat hati karenaterlihat lebih menyudutkan dan melukai hati petani tersebut . Ada suara parau, nada kesesakan yang akhirnya memuncak menjadi batu peletup bencana yang tertancap pada amarah murka yang lebih besar.
Days Of Heaven tampak mempersinggungkan sisi kelam dibalik kontrasnya sisi keceriaan.Disatu sisi Days Of Heaven memang menyerupai The New World yakni asmara yang meruang lingkupi dua insan beda gender tersebut.The New World memang lebih condong pada aspek spiritualis , ketika kehilangan cinta terasa seperti kehilangan ilah dalam hidup, Days Of Heaven terlihat dalam kadar yang lebih sederhana .Ia adalah puisi sosial dari anak buruh yang penuh petualangan, merasakan sesekali saja bagaimana menjadi sedikit lebih kaya, bermalas malasan, tanpa harus bekerja dengan lebih keras.Days Of Heaven tidak melupakan Linda yang menjadi voice Over, ia memiliki cerita yang juga ingin ia sampaikan.

Sebagai karya yang sangat fundamentalis dari Terrence Malick- seorang kreator satu abad sekali menyuguhkan persinemaan, maka tidak sulit rasanya menerima Days Of Heaven sebagai karya paling puitik sepanjang masa.

Directed By Terrence Malick Cast Richard Gere Sam Shepard Amy Brooks Linda Mtaz Distributed By Paramount Pictures Country USA Year 1978 Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...............................
A+
...............................


Shakespeare In Love (1998)

Kisah treatikal yang karena prestasinya membuahkan Academy menjadikannya ia dicibir oleh publik hingga kini.Personally film ini sebenarnya tidak konyol konyol amat euy, bagus malah walau tidak sampai segitunya memang dipuja puji diarena kualitas.Kisah Romeo And Juliet memang menjadi karya William Shakespeare yang sangat legendaris dan punya pengaruh yang kuat di dunia treatikal, rasanya era kini ya jika mencari tema untuk suatu pemanggungan, pasti akan terdengar “Romeo And Juliet aja “ dan dibarengi dengan nada anggukan anggota anggota lainnya "oh iyaa pasti asyiik", bahkan untuk sekedar informasi penulis sudah dua kali memerankan karakter Romeo di panggung sma dulu. B


Sideways (2004)
Nah menanti perilisan karya Alexandre Payne yang berjudul Descendants, ada baiknya mengetahui kiprah sutradara ini lewat Sideways yang menuai limpahan pujian.Okelah dimana ada yang memuji pasti ada juga yang memendam benci atau paling tidak “tidak suka”. Kelemahan Sideways menurut saya adalah terlalu berat sebelah memperkenalkan Miles sebagai penggila anggur ketimbang memperkenalkannya sebagai seorang novelis yang bercita cita tinggi.Sehingga pada saat naskah Miles ditolak mentah mentah oleh penerbit sayangnya tidak menghadirkan emosi yang memadai untuk turut memberikan hati bernama “simpati” padanya. Film ini hanya unggul dalam mengolah cerita tentang penggila anggur saja. B-


Letters From Iwo Jima (2006) & Flags Of Our Fathers (2006)
Proyek Clint Eastwood yang teramat ambisius ini bolehlah saya sambut begitu hangat.Mengingat Eastwood paham sekali ada asas “prespektif” yang harus menjadi landasan ini kisah dalam pandangan siapa. Letters From Iwo Jima tampil dengan menghantam dada yang amat nyelekit dan mengiris sembilu , sampai saya berkata “aduh ada ngak ya film perang yang happy, ngak tahan ma yang satu ini..”sedangkan Flags Of Our Fathers tampak begitu ramah dengan nada humanismenya dan tampak begitu cengeng karena traumatis akut dan pujaan “hero” yang disematnya , yang sayangnya tidak digali dengan begitu meyakinkan.Kedua film ini mengingatkan kita pentingnya mengingat sejarah dan menghargai darah dan airmata pahlawan. Letters From Iwo Jima (B+) dan Flags Of Our Father (C+)

My Kid Could Paint That (2007)
So don’t pretend that I was one of the snobbers in Indonesia karena mengulas film yang tidak banyak dikenal agar terlihat keren dan elitis. Enggak ya karena saya mau ngebela diri saya, film ini diputer di Trans 7 pada tengah malam ketika saya susah sekali tidur.Trans 7 memang dikenal memang tidak terlalu kerbek dalam urusan cinema taste, namun My Kid Could Paint That menghadirkan cerita lain.Ini adalah documenter yang disepanjang cerita mengingatkan kita pada Catfish, namun tidak menjurus padajejaring sosialnya melainkan focus pada bilah lain, yakni “Abby versi lain” yang berbakat melukis.Namanya Marla, yang mengharuskan kita dihadapkan pada suatu sisi mistery pada kejeniusan Marla melukis dengan guratan yang amat abstrak dan berestetika tinggi. Anda disuruh untuk memutuskan “is it Inspiration or is it manipulation”. A-



Cukup lama juga menjadi ayah tiri untuk karya Jean Pierre Jeunet ini, suatu hal yang mungkin ada baiknya mulai dari detik awal ini ditanggalkan sesegera mungkin dari kebisaan mengapresiasi sinema. Tentu ini menyangkut magnet yang menyisa dikepala saya yang benar benar menghibur diri saya dan dilain sisi nyatanya mencampur baur dengan rasa cukup menyesal karena lama menyepelekannya (underated juga ternyata).

Nyatanya Micmacs hadir sebagai karya yang terlihat sangat menghibur, terasa enerjik disatu sisi serta terlihat serius dalam menawarkan aspek kesungguhan dalam pemroduksian.Ya ini hanyalah proyek main main saja, namun jangan salah sering sekali sineas yang lupa proyek main main tersebut yang mananya disebut main main.

Jean pun memulai film ini dengan bisu dan minim kata, yang dimana itu cukup memperlihatkan sentuhan kelas festivalnya, ditambah dengan mengandalkan olahan gambar manis, serta grafis yang begitu sempurna.

Ini adalah kisah tentang balas dendam yang memadukan sisi komikal, lucu lucuan serta olahan artistik setting tempat dibangunnya cerita, apalagi kalau bukan kota Paris yang disempanjang cerita seakan akan saya ingin berdansa dengan olahan musiknya yang mengingatkan saya pada Ratatouille.


Maka jadilah Bazil (tokoh utama) pria melarat,kumuh dan dekil yang awalnya diperlihatkan begitu menderita dengan luka dikepalanya,kehilangan pekerjaan dan rumahnya, serta kadang kadang terhuyung huyung secara spontan kalau pistol menempel dikepalanya,mengepalai aksi balas dendam dirinya, dengan dibantu oleh sekelompok dealer pengrajin barang rongsokan yang ia temui,yang unik dan cukup treatikal.Ada kalkulator seorang gadis berkacamata yang jenius dibidang matematika dan statistika, bahkan luar kepala menghitung elevasi suatu benda.Ada juga Buster, pria tua yang ceria yang tengah mengidam idamkan dirinya kelak tercatat di Guiness Record, serta elastic girl yang meliuk kesana kemari dengan sangat fleksibel bak karet, dan lain lain yang sepertinya tidak perlu dijelasin. Menggunakan sisi konfrontasi atau bahasa gaulnya “kompor” serta aksi aksi scenario yang menghadirkan gelak tawa, ini semua merupakan paket hiburan yang cukup sederhana da lumayan lezat.


Seperti kata saya diatas Micmacs salah satu bukti kuat bahwa film komedi yang memperlihatkan kontrasnya sisi fun, lucu lucuan bukan berarti digarap dengan apa adanya.Micmacs dibalut dengan perban yang sangat memikat yang mungkin menjadi penyebab begitu mudahnya saya menyukai ini,coba lihat bagaimana film ini juga begitu ramah dengan permainan grafis yang begitu halus, sinematografi yang cukup mencolok serta pergerakan kamera yang terlihat professional. Jadi tertarikkah anda menyaksikannya?

Directed By Jean-Pierre Jeunet Writers Jean-Pierre Jeunet Cast Dany Boon André Dussollier Nicolas Marié Genre Comedy

Moan And New Line Cinema Score

....................................

B+

....................................


Hai readers...,finally i back.Siapa yang merindukanku? (krik krik :D) Kurang lebih dua tiga bulan saya sengaja vakum dulu dari urusan review me review dan ugh rasanya senaang sekali akhirnya segala urusan perkuliahan dapat terlaksana dengan baik (mudah mudahan nilainya cum shot eh cum laude maksudnyaa LOL).*mikir apaan sih.
Oke review ini mungkin adalah sebuah permulaan untuk pemanasan artikel selanjutnya, kali ini berupa short review aja soalnya agak mumet membuat long review ,yang saya saksikan selama satu bulan ini yang tentunya masih menyisakan ingatan segar dikepala saya, entah itu bagus, tidak bagus atau beberapa hal kecil yang ingin saya ungkap.Kumulai aja ya ndes dari Source Code (C-) yang sedikit timpang dari ekspektasi yang kuharapkan. Saya tidak mempermasalahkan idenya sih, unik malah, cuman ya ada hal hal yang terlihat lemah, baik itu konsep sinematiknya, tone penceritaannya,kemudian terlalu ramah gimana gitu mengeksplorasi sisi humanisme yang sayangnya tidak sedap terlihat.Adegan menelepon papanya itu membuat perasaan saya berkecamuk, dalam hati apakah saya harus ikut merasakan keharuan ketika pada saat yang bersamaan pula otak harus berpikir keras?Ngak banget khan.Kemudian ada juga Temptation Of St.Tony (A-) salah satu pengalaman pertama menyaksikan film yang agak beda.Di sutradarai oleh Veiko Õunpuu yang terkenal dengan ahlinya film seni (sok tahu neh) yang menampilkan olahan gambar hitam putih yang sarat sisi artistik.Sinematografinya itu sangat kuat loh huwaa acung jempol deh.
Hmm walaupun memang sih ceritanya sangat ngelantur dan sedikit berantakan.Kadang mengisahkan kisah cinta, kemudian pemecahan teka teki namun eh ujung ujungnya malah kanibalisme.Ngak lucu banget khan? Yang pasti seusai menyaksikan kisah ini, gravitasi artistiknya akan tetap meletup didada anda dalam waktu yang cukup lama. Kemudian saya juga ingat nonton film lokal (hey saya masih peduli looh itupun karena tv swasta menayangkannya) yang judulnya agak terlalu dipermanis yakni I Know What You Did On Facebook. Kisahnya ngak susah ditebak, gimana asyiknya kaula muda ngutak ngatik facebook, chattinglaah, update statusslaah syukur syukur dapat gebetan. Walau ceritanya masih tergolong jelek, IKnow What You Did On Facebook paling tidak memperlihatkan kreatifitas penggunaan teknik kamera (ya syukur syukur kameramennya orang Indo kalo orang luar ngak nyampe deh pujian ini), soalny saya ngelihat sinematographernya seperti bereksperimen gimana gitu dalam tiap tiap babak,walau ngak stabil tetap poin ini yang cukup saya suka.bisa disaksikan sendiri maksud saya ituuh. Oh ya film ini dengan percaya dirinya mengcopy scoring American Beauty looh. Edan! Buat malu aja tuh sutradaranya. Ngak bisa buat scoring laen apa? *berkacak pinggang*. Kemudian saya nonton Days Of Heaven juga, film paling monumental yang pernah saya rasakan, namun khusus film tersebut dan juga ada beberapa film lain yang akan dapat jatah review sendiri sendiri.Tungguin ya... Nah kemudian saya barusan aja nonton dua film sekaligus Crash (D) dan Brokeback Mountain (A+).
Tujuannya sih cuman satu ya tahulah (seperti gosip yang banyak beredar) "Siapa yang merampas siapa dan Siapa yang dirampas oleh siapa" oh ternyata memang Ampas itu galau gimana gitu untuk menimang Brokeback Mountain dapet best pictures, ya karena gak mau dibilang gay kali ya makanya isu rasialisme yang diusung Crash jadi jawaranya kemaren.Tiga tahun yang lalu sih udah menyimak Crash cuman ngak tuntas, akhirnya menyisakan suatu pengalaman sinema yang konyol bukan main. Entahlah padahal saya suka dengan tata teknisnya tapi ceritanya itu kotbah sekalii, kemudian sesi sesi dimana hati ingin diajak ikut menangis ngak keluar sama sekali, serasa pemaksaan.Mengecewakan. Beda dengan Brokeback Mountain yang juga udah lama banget ngak ditonton ternyata masih menyisakan kesesakan yang amat mendalam.Salah satu film terbaik dekade lalu.Sempat juga menyaksikan Million Dollar Baby yang lumayan saya suka, karena ada tone yang ditolak jauh jauh dari film ini, yakni riuh rendah pantang menyerah yang rasanya udah berjamur jika dipakai kembali. Film ini berakhir pada tataran yang membuat hati meringis.Disini juga Morgan Freeman menang Oscar.Loh kog ngak istimewah ya? Perannya malah beda tipis ama yang di Bruce Almighty.nasib memang yaa. Terakhir saya menyaksikan Ordinary People (A) yang juga kayaknya berembel embel Oscar Winners. Tapi yang ini benar benar Oscar Winners menurut saya. Sangat membuat hati ini meradang, emosi dicampur kedukaan menyaksikan suatu pergumulan suatu keluarga. Ini malah saya anggap segelintir dari pemenang Oscar yang paling tidak memalukan. Hehehehe.. Oke sampai sekian, sori bahasanya agak non formal... thanks :D




Diberdayakan oleh Blogger.