Ini adalah salah satu program movie marathon saya selama beberapa hari ini.Jadi saya mau bercuap cuap dengan anda, semoga sudi membaca.
Tidak banyak film baru yang saya simak beberapa hari ini karena artikel ini akan cukup didominasi film film lama dan sangat terkenal dizamannya.sebenarnya saya ingin mereview satu persatu atau kalau boleh mempostingnya khusus dengan tajuk “Layar Jadul” namun karena keterbatasan energi dan daya aktif otak (efek negative libur panjang) jadi saya akan gabungin dengan film film yang masih fresh. Saya mulai dari Mother And Child (2009/A) salah satu film yang lagi lagi lumayan kupandang sebelah mata pada tahun lalu karena judulnya yang terang benderang itu tuh.Ibu dan Anak, didalam hati pasti terbersit “pasti ceritanya yah gitu gitu aja”. Tapi tanpa disangka sangka Mother And Child adalah film yang sangat menggugah, heart warming dan film pertama yang sanggup meluberkan air mata saya (sampai membasahkan bantal guling) disepanjang tahun 2011 ini.Rodrigo Garcia begitu paham bagaimana menceritakan motherhood, childhood dan parenthood dengan menjalinnya dengan sangat mengena, mengandalkan kekuatan karakter, mengolah latar personal tanpa harus memakai teknik flash back.Disetiap kesempatan kita akan terguncang dan disatu kesempatan kita akan tersentuh, film ini nyatanya juga memiliki scoring yang nyesak dan soundtrack yang bagus tentu dengan sentuhan indie yang khas.Dan ternyata film ini sangaaaaat underated, aiih mengingatkan saya film kecil Please Give, hanya ajang kecil yang memperlombakannya dan sangat sedikit yang mengenalnya.Nah yang gini gini neh pantas saya timang.

The Good ,The Bad And The Ugly (1966/A) datang menyajikan pengalaman lain, sebuah kisah cowboy western yang sementara ini saya sebut sebagai film western terbaik sepanjang masa (belum nyoba Unforgiven) yang membuat perut saya ketawa terbahak bahak dengan geliat kocak Si Ugly (Elli Walach) ditengah dinginnya karakter The Good (Clint Eastwood) dan Sadisnya The Bad (Lee Van Cleef).Saya baru sadar setelah buka imdb ternyata Elli Walach masih hidup ternyata, dan menjadi cameo sebagai oldman yang ada ditepi pantai di Ghost Writer.Moga moga tetap sehat ya kek (fans).Masih ingat adegan ketika ia tertangkap basah oleh seorang koboy ketika Tuco,Si Ugly sedang mandi susu sebuah hotel ,tanpa diduga serangan balik mengarah ke sikoboy malang tersebut lewat aksi coolnya menyerang balik dengan senjata yang terendam di bath tubnya.And he says “When you want shoot, SHOOT! Don’t Talk”. Hihi best momentnya banyak siih bukan itu aja, tapi disitu keluar best quotenya.

Kemudian ada Archipelago (2010/A-) karya seorang “master art”-Joanna Hogg hadir sebagai film favorite saya pada pertengahan tahun ini,walau ada plot plot yang perlu saya simak lagi (biar dapat A+,film ini juga nanti akan dapat jatah review sendiri).Film yang sangat depresif ditengah keindahan alam yang melatarinya.Namun nyatanya magis khas Apichatpong Weerestakhul sepertinya cukup kentara disini, lihatlah penangkapan kameranya yang statis, bunyi kicauan burung disana sini, dan penguatan gambarnya yang condong pada pohon pohon yang hijau.

Beranjak kefilm yang baru saja saya simak yakni karya Martin Scorsese yang sering dibanding bandingin dengan Taxi Driver diforum forum pecinta film, Raging Bull (1980/A) yang menyadarkan saya oh ini ya nikmatnya film garapan Martin Scorsese.Mengisahkan drama diatas ring dan diluar ring seorang petinju kelas menengah Jake La Motte, yang memperkuat chemistry Robert Deniro sebagai anak kesayangan Martin Scorsese.Saya suka sinematographynya yang memakai layar hitam putih yang menambah kental tata artistic, belum lagi sentuhan glamournya dan drama yang disuguhkannya, walau agak depresif.Adegan ketika ia dihajar habis habisan oleh lawan tandingnya Ray namun ia tidak tumbang tumbang adalah yang paling memorable,makin mengesankan dengan perkataanya “You didn’t get me down Ray” menjadi sihir sinematik yang memuncak bagi saya.Disini Robert Deniro menerima Oscar keduanya.

Terakhir, saya memutuskan untuk bertarung menyaksikan Hamlet (1996/A). kenapa dibilang bertarung? soalnya ini adalah drama teatrikal yang memasang durasi 4 jam (bayangiin) yang membuat saya terkantuk kantuk dan mempausenya beberapa kali karena plotnya cukup pelan dan sentimentil.Kenneth Branagh yang menjadi Hamlet (dia juga yang menyutradarainya) terlihat mendominasi kisah ini, mengisahkan pembalasan dendam dirinya dan rahasia tersembunyi yang tengah meruanglingkupi pemimpin kerajaan.Keunggulan film ini sebenarnya ada pada letak naskahnya, dimana William Shakespeare ikut didalamnya yang menjadikannya banjir dialog ala pementasan yang cukup lebar dan terasa puitis disatu sisi, serta performa aktor aktor didalamnya yang menghafal dialog tanpa cut sama sekali.

Disini kita juga dapat menyaksikan Kate Winslet dengan acting tidak warasnya yang merebut antusias saya.Intinya Hamlet yang terkenal dengan quote legendarisnya “Tobe Or Not To Be “ itu berhasil mengeluarkan decak kagum saya.Hey gimana yang versi Ethan Hawke ya? Penasaran juga

Sekian dulu untuk artikel From “Mother And Child” To “Hamlet” ini, jangan lupakan artikel saya besok, yakni film film yang paling saya kejar selama ini (sampai kebawa mimpi euyy) apalagi kalau bukan HOWL dan SUBMARINE.Terima kasih


Dalam semangat menyuguhkan tayangan segar dan mutakhir yang diusungnya, Spike Jonze menghadirkan a short romance movie berdurasi 29 menit berjudul I’m Here. I’m Here sepertinya bergenre sci-fi ketika robot dan manusia sudah mulai hidup berdampingan dan robot mendapatkan perlakuan yang sama seperti halnya manusia,punya kesempatan kerja, boleh berkendara, memiliki apartment,bersuka ria ditaman, mendapatkan perawatan dirumah sakit atau menghadiri konser musik. Disini terlihat unik kalau ternyata robot bisa bermimpi atau bahkan masih ingat betul isi mimpi mereka, robot juga selera musik yang bagus.Mereka juga bisa bergaul dengan manusia, dan Spike Jonze tampaknya tidak memperlihatkan sisi intimidasi atau prasangka diantara robot dan manusia.Mereka bisa hidup berdampingan, bahkan sama sama menikmati pesta dan hang out bareng

Yang memfokuskan pada kisah sederhana pertemuan dua robot beda jenis yang saling mengisi satu sama lain dalam menguntai moment kebersamaan.Ialah Sheldon yang disuarakan oleh Andrew Garfield, robot berkepala kubus (saya awalnya mengira ini adalah manusia yang mengenakan kardus karton dikepalanya) seorang asisten perpustakaan disalah satu lokasi kota LA yang berkenalan dengan Francesca (Sienna Guillroy) robot lain yang berlawan jenis ketika hendak menanti bus untuk pulang.Fransesca dan teman temannyapun memberikan tumpangan pada Sheldon dan mengajaknya berkeliling kota bersamanya.Pun cerita semakin jelas dan semakin menarik ketika akhirnya Sheldon dan Fransesca semakin intim dan memiliki ketertarikan satu sama lain.Seperti yang kita harapkan juga, bumbu bumbu asmara diantara mereka akhirnya mekar juga.

Love Means Sacrifies, cinta antara Sheldon dan Fransesca penuh pengorbanan, penuh tuntutan yang terbilang baru dan unik yang terlihat begitu tulus.Ketulusan dan pengorbanan inilah yang tampak menjadi tergaet utama naskah yang juga ditulis oleh Jonze ini.

Walau terkesan datar datar saja, I’m Here sebenarnya masih terbungkus oleh atmosfir Where The Wild Things Are- karya spike Jonze sebelumnya , namun menanggalkan sisi keliaran dan mengambil sisi lain agar terlihat berbeda yakni romance.Sisi romantic ini menjurus pada sebuah ketulusan dan pengorbanan yang akan mengingatkan kita makna kedua point tersebut. Keunggulan I’m Here terlihat menonjol dalam urusan music yang melatarinya seperti menyaksikan cita rasa lagu selera Sofia Coppola seperti "Did You See the Words", terlihat sangat enerjik mensinegrikan momen moment dengan alur yang hendak dibangunnya.Boleh saya katakan cukup berkesan.This is a wonderful effort and takes just 29 minutes to say effectively what many full-length features fail to in two hours. A must watch .

Directed By Spike Jonze Cast Andrew Garfield Sienna Guillory and Annie Hardy Year 2010 Genre Drama, Romance, SCi Fi Duration 29 Minutes Country US


MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE

..........................................

B

..........................................



Days Of Heaven, dalam jiwa keteduhan dan kepuitisan yang terpendar cahaya kuning memerah yang meningkahi rimbunnya ladang gandum,dalam usaha mengkonstruksi suatu pembangunan karakter dari perjalanan atau sebutlah petualangan tiga anak manusia, yang menyisipkan asa, cita cita dan cinta yang terdengar dari lugunya narasi seorang gadis kecil - mensugestikan pada diri orang orang disekitarnya, hidup ini adalah surga yang sayang kalau tidak segera kita hinggapi, tak peduli himpitan ekonomi jika disitulah seseorang terpenuhi dengan orang orang yang ia sayangi.


Bill (Richard Gere) seorang buruh metal kabur setelah menghajar sampai pingsan bos tempat ia bekerja, ia kemudian kabur bersama kekasihnya Abby (Broke Adams) dan adiknya Linda (Linda Manz).Lucu memang hubungan antara Bill dan Abby tersebut, lantaran mereka tidak dinikahkan dan karena tidak ingin ada pergunjingan dimata orang lain maka mereka mengaku ngaku sebagai kakak adik.

Pergilah mereka bertiga merantau menuju Texas dengan kereta api yang menderu deru dan cukup dominan ditangkap kamera, sebagai pekerja ladang gandum.Ladang gandum tersebut adalah milik seorang pria yang masih muda (Sam Shepard) yang kaya (namanya tidak disebutkan) namun terlihat tidak mengharapkan banyak hal dalam kesehariannya.Dirinya penyendiri, tidak memiliki keluarga dan tidak banyak bergaul.Kabarnya ia mengidap penyakit dan mungkin saja ajal dengan cepat datang menjemputnya.Hidupnya berubah, ketika hatinya terpaut oleh kecantikan Abby kekasihnya Bill,seperti melihat ada sebongkah kehidupan yang ia inginkan dan harapkan dibalik rambut hitamnya yang tergerai indah walau agak kumal.Ia pun meminta agar Abby dan saudara saudaranya bersedia untuk tinggal bekerja untuknya.Pun berjalannya waktu Abby akhirnya menikahi petani kaya raya tersebut.Terjadilah drama cinta segitiga tersebut.Kisah cinta ini menghadirkan ironi yang tampak sembab dan muram yang amat menyayat hati karenaterlihat lebih menyudutkan dan melukai hati petani tersebut . Ada suara parau, nada kesesakan yang akhirnya memuncak menjadi batu peletup bencana yang tertancap pada amarah murka yang lebih besar.
Days Of Heaven tampak mempersinggungkan sisi kelam dibalik kontrasnya sisi keceriaan.Disatu sisi Days Of Heaven memang menyerupai The New World yakni asmara yang meruang lingkupi dua insan beda gender tersebut.The New World memang lebih condong pada aspek spiritualis , ketika kehilangan cinta terasa seperti kehilangan ilah dalam hidup, Days Of Heaven terlihat dalam kadar yang lebih sederhana .Ia adalah puisi sosial dari anak buruh yang penuh petualangan, merasakan sesekali saja bagaimana menjadi sedikit lebih kaya, bermalas malasan, tanpa harus bekerja dengan lebih keras.Days Of Heaven tidak melupakan Linda yang menjadi voice Over, ia memiliki cerita yang juga ingin ia sampaikan.

Sebagai karya yang sangat fundamentalis dari Terrence Malick- seorang kreator satu abad sekali menyuguhkan persinemaan, maka tidak sulit rasanya menerima Days Of Heaven sebagai karya paling puitik sepanjang masa.

Directed By Terrence Malick Cast Richard Gere Sam Shepard Amy Brooks Linda Mtaz Distributed By Paramount Pictures Country USA Year 1978 Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
...............................
A+
...............................


Shakespeare In Love (1998)

Kisah treatikal yang karena prestasinya membuahkan Academy menjadikannya ia dicibir oleh publik hingga kini.Personally film ini sebenarnya tidak konyol konyol amat euy, bagus malah walau tidak sampai segitunya memang dipuja puji diarena kualitas.Kisah Romeo And Juliet memang menjadi karya William Shakespeare yang sangat legendaris dan punya pengaruh yang kuat di dunia treatikal, rasanya era kini ya jika mencari tema untuk suatu pemanggungan, pasti akan terdengar “Romeo And Juliet aja “ dan dibarengi dengan nada anggukan anggota anggota lainnya "oh iyaa pasti asyiik", bahkan untuk sekedar informasi penulis sudah dua kali memerankan karakter Romeo di panggung sma dulu. B


Sideways (2004)
Nah menanti perilisan karya Alexandre Payne yang berjudul Descendants, ada baiknya mengetahui kiprah sutradara ini lewat Sideways yang menuai limpahan pujian.Okelah dimana ada yang memuji pasti ada juga yang memendam benci atau paling tidak “tidak suka”. Kelemahan Sideways menurut saya adalah terlalu berat sebelah memperkenalkan Miles sebagai penggila anggur ketimbang memperkenalkannya sebagai seorang novelis yang bercita cita tinggi.Sehingga pada saat naskah Miles ditolak mentah mentah oleh penerbit sayangnya tidak menghadirkan emosi yang memadai untuk turut memberikan hati bernama “simpati” padanya. Film ini hanya unggul dalam mengolah cerita tentang penggila anggur saja. B-


Letters From Iwo Jima (2006) & Flags Of Our Fathers (2006)
Proyek Clint Eastwood yang teramat ambisius ini bolehlah saya sambut begitu hangat.Mengingat Eastwood paham sekali ada asas “prespektif” yang harus menjadi landasan ini kisah dalam pandangan siapa. Letters From Iwo Jima tampil dengan menghantam dada yang amat nyelekit dan mengiris sembilu , sampai saya berkata “aduh ada ngak ya film perang yang happy, ngak tahan ma yang satu ini..”sedangkan Flags Of Our Fathers tampak begitu ramah dengan nada humanismenya dan tampak begitu cengeng karena traumatis akut dan pujaan “hero” yang disematnya , yang sayangnya tidak digali dengan begitu meyakinkan.Kedua film ini mengingatkan kita pentingnya mengingat sejarah dan menghargai darah dan airmata pahlawan. Letters From Iwo Jima (B+) dan Flags Of Our Father (C+)

My Kid Could Paint That (2007)
So don’t pretend that I was one of the snobbers in Indonesia karena mengulas film yang tidak banyak dikenal agar terlihat keren dan elitis. Enggak ya karena saya mau ngebela diri saya, film ini diputer di Trans 7 pada tengah malam ketika saya susah sekali tidur.Trans 7 memang dikenal memang tidak terlalu kerbek dalam urusan cinema taste, namun My Kid Could Paint That menghadirkan cerita lain.Ini adalah documenter yang disepanjang cerita mengingatkan kita pada Catfish, namun tidak menjurus padajejaring sosialnya melainkan focus pada bilah lain, yakni “Abby versi lain” yang berbakat melukis.Namanya Marla, yang mengharuskan kita dihadapkan pada suatu sisi mistery pada kejeniusan Marla melukis dengan guratan yang amat abstrak dan berestetika tinggi. Anda disuruh untuk memutuskan “is it Inspiration or is it manipulation”. A-


Diberdayakan oleh Blogger.