Bagaimana menceritakan sejarah penting terbentuknya Amerika dengan memadukan dua unsur yang sangat puitis "cinta dan alam". Cinta yang pada hakikatnya adalah kesempurnaan insani dalam menemukan ilah dalam hidup adalah butir butir yang sungguh gersang tanpa dituntun perlahan lahan dengan eksotika alam.Alam yang memiliki kekhusyukkan suara suara jiwa, deru kesejukan yang tiada tara dan tempat dimana manusia dapat berdampingan dengannya adalah seperangkat kesyahduan bila digenggam dengan hati yang murni. Mereka menjelma menjadi palungan kasih sayang yang begitu estetis dimana keterikatan didalamnya merupakan kebutuhan yang kekal dan manusiawi. Mereka memberi kehidupan satu sama lain, segalanya mereka miliki dan segalanya telah tercukupi. Tidak ada keinginan daging, rasa kepemilikan dan tidak ada kepalsuan hidup. Segalanya menceritakan ritme yang jernih, hidup dalam kebersamaan dan melebur dalam refleksi perenungan yang mendalam.

Cinta adalah falsafah hidup yang begitu kelam bila seseorang kehilangan kehadirannya. Melalui potret potret meditatif, cinta adalah kasih sayang yang begitu besar jabarannya dan begitu agung kekuatan yang telah Ia berikan kepada seseorang. Kehilangannya adalah kekosongan yang begitu menyedihkan yang tidak diberikan sang sutradara secara eksplisit seperti menangis meraung raung, ia hadir sebagai mahkota hidup yang memiliki tempat lain untuk dihayati, ia memiliki tempat lain untuk diceritakan dan butuh tempat lain untuk diperlihatkan sebagai tiang hidup yang hampir terlepas. Melalui "The Naturals'' suku Indian asli penghuni daratan Amerika kita diperlihatkan betapa alam dan manusia yang merupakan populasi yang hadir secara berdampingan dan bersinergi satu sama lain adalah sebuah keintiman indah dan meneduhkan. Mereka dilindungi oleh roh ibu mereka sebagaimana ibu yang melindungi putra putri mereka dalam gangguan dunia luar. Mereka berlari lari kedalam pelukan Bunda melalui kepercayaan yang mereka miliki yang merupakan ajaran alamiah disuku mereka. Mereka adalah kabut yang mampu hinggap dan berteman dengan pepohonan yang memiliki perlindungan.
Hingga pada akhirnya sampailah orang orang Inggris di daratan yang diberi nama Virginia dari sebuah ekspedisi panjang perjalanan menemukan "dunia baru" . Ada konteks pergesekan diantara persinggungan orang orang Inggris dengan alam yang begitu misterius. Kehadiran mereka seperti sebuah perjalanan menuju penghakiman dari bangsa The Naturals yang melihat mereka adalah sebuah ancaman.Lantas apakah ancaman memang benar benar datang dan dimiliki The Naturals?

Terreance Malick yang sebelumnya membuatku terhenyak begitu dalam dengan naskah paling puitik sepanjang sejarah "Thin Red Line" memberikan pemandangan yang teramat mempesona dan melibatkan unsur unsur alam sebagai metoda yang paling ampuh untuk menterjemahkan roda cerita. Walau sebenarnya cerita sama sekali tidak menjurus kesana ia begitu memahami adanya pergulatan seni dan aspek meditatif yang kentara didalamnya agar kiranya mampu menebus sebuah konklusi yang memiliki sarat sarat alamiah dan sekali lagi "perenungan". Inilah yang menjadi ciri khasnya yang merupakan arena paling gemilang yang akhirnya mampu membawa ia sebagai sineas didunia yang monumental.

Ada kalanya sebelum menonton The New World, kita hendaknya menyiapkan pikiran yang murni dan menghilangkan keegoan yang selama ini ada dalam diri kita. Hal ini sangat menjadi prasyarat yang amatlah penting bagaimana mempersiapkan diri kita untuk meleburkan diri dengan dunia yang tampak sangat menyesakkan dan membosankan.Ia hadir membutuhkan proses mencerna yang alami dari para nomaters. Ia memiliki unsur unsur yang akan kita sadari secara perlahan lahan, yang tanpa dengan sengaja tercium aroma kesejukan dan ketentraman yang begitu khidmat. Dari situlah klimaks pengelanaan sinema akan mencapai tiitik yang sangat gemilang dan tidaklah terlalu berlebihan seluruh dunia menganggap New World adalah film terbaik selama satu dekade ini.

Directed by Terreance Malick Cast Colin Farrel Q'orianka Kilcher Christopher Plummer Christian Bale Country USA/ UK Running Time 135 minutes Distributed By New Line Cinema
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
.......................
A+



Certified Copy Kita mulai dari karya Abbas Kiarostami ini yang membawa Juliette Binoche menjadi best actress di Cannes.Melihat "Trailer dan Poster" nya jelas sumbu api tahun ini hampir dipastikan sangat marak.Kalau AMPAS tidak konservatif lagi dalam menyeleksi nominator Oscar dari wilayah independen, Juliette Binoche pasti tidak merasa sesial Charlotte Gainsbourg yang berakting habis habisan.



Uncle Bonmee who Can Recall His Past Lives Garis besar post ini sebenarnya digagaskan oleh kehadiran poster Uncle Bonmee yang akhirnya kelar juga. Melihatnya sepintas terutama aspek saturasi warnanya seperti mengingatkan poster filmnya Julian Schnabel.

Blue Valentine Michelle Willams sudah cukup lama tidak terdengar kabarnya , terakhir saya melihatnya di Deception sebagai gadis penggoda sayangnya tidak begitu berarti sebagai obat rindu. Melalui film yang di berikan review positive dari beberapa situs ternama ini,tidak khayal lagi film ini hadir membawa kerinduan tersendiri kepada istri almarhum Ledger ini.


Map Of The Sound Of Tokyo Jelas yang membuat film ini tampak menarik yakni dibintangi oleh "Rinko Kikuchi" ya mudah mudahan tidak sulit mendapatkan dvd nya.



Like You Know It All (Jal aljido mothamyeonseo) Salah Satu daftar dari film Korea yang boleh saya pertimbangkan mengingat saya tahu cara mereka menggarap film sangat manis bahkan eksekusinya bisa berbalik terlalu kejam.



Never Let Me Go film yang tidak pernah saya duga bertema thriller tentang perdagangan organ manusia dari tiga orang karakternya yang memiliki kaitan emosional sebagai sahabat. Hmm teringat Sympathy For Mr.Vengeance-nya Chan Wook



127 Hours Film yang sepertinya mengingatkan kita pada Into The Wild nya Sean Penn tampil dengan Poster dan Trailer yang menawarkan jiwa adventoures. Pantas jadi bahan bibir pergunjingan Oscar.


SOMEWHERE Sofia Coppola yang memboyong Golden Lion diajang Venice kemarin mendapat puja puji dari ketua dewan juri Tarantino "Film ini memang mempesona kami sejak awal," tutur Tarantino.
Film ini (spoiler alert!!) menampilkan kisah Johnny Marco, aktor Hollywood yang hidupnya berantakan. Namun, pada akhirnya, ia bisa memperbaikinya berkat bantuan Cleo, anak perempuannya yang masih berusia 11 tahun.


Winters Bone memiliki harapan besar memang menjadi inti dari kegiatan ini. Winters Bone yang sejak awal sudah lari super kencang dikancah festival Sundance tetap pantas dinanti sebagai kandidat perhelatan akbar nanti.Kalau Precious saja yang sama sama meraih Grand Jury Price kebagian tempat sebagai nominator best pictures Oscar.., kenapa Winter's Bone tidak?


Black Swan Aronofsky yang begitu terampil mengarahkan Mickey Rourke tahun 2008 lalu jelas menjadi label yang sangat dibutuhkan Portman untuk unjuk kemampuan ditahun ini.Aku mendukungmu Portman

The Grand Master Kehadiran Wong Kar Wai tahun ini mentasbihkan tahun ini sangat sangat ramai dibanjiri film film yang dilabeli sutradara kenamaan.Kita lihat saja akankah Wong Kar Wai mampu berbicara banyak disini.

Nantikan 11 Poster Film Parade lain yang akan diposting tidak lama lagi. Intinya tahun ini begitu meriah hanya saja cara me list daftar seperti ini ada kurangnya juga siih. Apa itu? Lum tentu posternya keluar, contohnya Tree Of Life, In The Qing Dynasty dan Turin Horse.
So What Movie that You Are Waiting???


Dua pagelaran Film Festival ternama didunia akhirnya diumumkan. Cannes yang sudah lebih dahulu digelar memberikan kemenangan yang sangat menggembirakan buat sutradara serumpun kita "Apichatpong Weerasethakul" yang memang sudah familiar dimata international. Sutradara yang sudah berlalu lalang dalam membuahkan karya art house itu disambut meriah oleh juri juri Cannes yang diketuai oleh sutradara gotik Tim Burton.Tahun inilah saatnya beliau sudah harus dipertimbangkan oleh juri Hollywood khususnya Ampas yang juga tersiar kabar mendaftarkan "Uncle Bonmee Who Can Recall His Past Lives" masuk dalam Oscar Entries.

Nah untuk Venice Film Festival sendiri yang dikomandani Quentine Tarantino dimenangkan oleh "Somewhere"by Sofia Coppola. Kemenangan tersebut jelas membuka jalan film yang paling saya nanti ini semakin mantap.

Hasil lain yang ternyata diluar dugaan Black Swan yang diarahkan oleh Darren Aronofsky tidak berhasil mengantarkan Natalie Portman menjadi best actress.Padahal untuk seorang Aronofsky ia begitu paham bagaimana membuat aktornya tampil diatas rata rata. Lihat saja Mickey Rourke dan Ellen Burstyn yang tidak begitu sulit meraih atensi. Well walau masih terlalu awal menduga duga Natalie Portman tetap saya unggulkan tidak hanya meraih puja puji tapi berbuah piala bergengsi.
Inilah daftar pemenang Cannes dan Venice Film Festival. Harap maklum bila daftar Cannes sudah tidak update lagi lantaran saya berkeinginan menunggu hasil Venice dan mempostnya secara bersamaan.

CANNES FILM FESTIVAL LIST OF WINNERS

PALME d'OR
Uncle Bonmee Who Can Recall his PAst Lives,
Thailand

Grand Prize
Of Gods Of Men ,
France

Jury Prize A Screaming Man, Chad

Best Director
Mathieu Amalric "On Tour",
France

Best Actor (tie)
Javier Bardem "Beautiful"
Mexico, Elio Germano "La Nostra Vita" Italia

Best Actress
Juliette Binoche "Certified Copy"
Iran

Best Screenplay
Lee Chand Dong "Poetry"
South Korea

Camera d'Or
Michael Rowe "Ano Bisiesto" Mexico

Best Short Film
Chienne d'Histoire

IN COMPETITION

“Another Year,” U.K., Mike Leigh
“Biutiful,” Spain-Mexico, Alejandro Gonzalez Inarritu
“Burnt by the Sun 2,” Germany-France-Russia, Nikita Mikhalkov
“Certified Copy,” France-Italy-Iran, Abbas Kiarostami
“Fair Game,” U.S., Doug Liman
“Hors-la-loi,” France-Belgium-Algeria, Rachid Bouchareb
“The Housemaid,” South Korea, Im Sang-soo
“La nostra vita,” Italy-France, Daniele Luchetti
“La Princesse de Montpensier,” France, Bertrand Tavernier
“Of Gods and Men,” France, Xavier Beauvois
“Outrage,” Japan, Takeshi Kitano
“Poetry,” South Korea, Lee Chang-dong
“A Screaming Man,” France-Belgium-Chad, Mahamat-Saleh Haroun
“Tournee,” France, Mathieu Amalric
“Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives,” Spain-Thailand-Germany-U.K.-France, Apichatpong Weerasethakul
“You, My Joy,” Ukraine-Germany, Sergey Loznitsa

UN CERTAIN REGARD

“Adrienn Pal,” Hungary-Netherlands-France-Austria, Agnes Kocsis
“Aurora,” Romania, Cristi Puiu
“Blue Valentine,” U.S., Derek Cianfrance
“Chatroom,” U.K., Hideo Nakata
“Chongqing Blues,” China, Wang Xiaoshuai
“The City Below,” Germany-France, Christoph Hochhausler
“Film Socialisme,” Switzerland-France, Jean-Luc Godard
“Ha Ha Ha,” South Korea, Hong Sang-soo
“Les Amours imaginaires,” Canada, Xavier Dolan
“Life Above All,” France, Oliver Schmitz
“Los labios,” Argentina, Ivan Fund, Santiago Loza
“Octubre,” Peru, Daniel Vega
“Qu’est-il arrive a Simon Werner?,” France, Fabrice Gobert
“Rebecca H.,” France, Lodge Kerrigan
“R U There,” Taiwan, David Verbeek
“The Strange Case of Angelica,” Portugal, Manoel de Oliveira
“Tuesday, After Christmas,” Romania, Radu Muntean
“Udaan,” India, Vikramaditya Motwane

OUT OF COMPETITION

“Robin Hood,” U.S.-U.K., Ridley Scott
“Tamara Drewe,” U.K., Stephen Frears
“Wall Street 2: Money Never Sleeps,” U.S., Oliver Stone
“You Will Meet a Tall Dark Stranger,” U.K.-Spain, Woody Allen

MIDNIGHT SCREENINGS

“Kaboom,” U.S.-France, Gregg Araki
“L’autre monde,” France, Gilles Marchand

SPECIAL SCREENINGS

“Abel,” Mexico, Diego Luna
“Chantrapas,” France, Otar Iosseliani
“Draquila — L’Italia che trema,” Italy, Sabina Guzzanti
“Inside Job,” U.S., Charles Ferguson
“Nostalgia de la luz,” France, Patricio Guzman
“Over Your Cities Grass Will Grow,” Netherlands, Sophie Fiennes



VENICE FILM FESTIVAL LIST OF WINNERS

BEST FILM GOLDEN LION

- "Somewhere" directed by Sofia Coppola (United States)

SPECIAL LION (CAREER AWARD)

- Monte Hellman for "Road to Nowhere" (United States)

BEST DIRECTOR SILVER LION

- Alex de la Iglesia for "Balada Triste de Trompeta" (Spain)

SPECIAL JURY PRIZE

- "Essential Killing" directed by Jerzy Skolimowski (Poland)

BEST FIRST FEATURE

- "Cogunluk" by Seren Yuce (Turkey)

BEST ACTRESS

- Ariane Labed in "Attenberg" (Greece)

BEST ACTOR

- Vincent Gallo in "Essential Killing" (Poland)

EMERGING PERFORMER

- Mila Kunis in "Black Swan" (United States)

BEST SCREENPLAY

- "Balada Triste de Trompeta" (The Last Circus), written and directed by Alex de la Iglesia (Spain)

(Editing by Michael Roddy)



Pasca penyutradaraannya lewat "Bronson" yang menghasilkan sentuhan absurditas, sutradara eksentrik asal negeri Denmark Nicolas Winding Refn memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya mengarahkan kisah berbau kolosal dari tanah skotlandia "Vallhalla Rising".Nicolas Winding Refn mengakui proses pembuatan film yang bertitik tumpu pada kematangan akting Mad Mikklesen(well kita mengenalnya sebagai lawan judi Bond di Casino Royale) ini membutuhkan waktu selama empat tahun sehingga imajinasi yang ia harapkan sesuai dengan hasil akhir yang tercipta.Film independent yang sempat menjadi bahan diskusi banyak kalangan lantaran kesadisan scene scene didalamnya ini sukses menjadi 13 Most Anticipated Movie Toronto International Film Festival 2010. Sebenarnya Nicolas Winding Refn bukanlah penghasil film film laku dan komersil paling tidak namanya sudah cukup dikenal dengan film Push yang mengambil setting setting di Copenhagen. Harus diakui juga bahwa masa masa kejayaan film film indpenden tahun ini sedang melambung. Dibanjiri oleh ragam tema, ragam asal negarayang memproduksi dan satu lagi ragam style. Sudah tidak dapat dibantah lagi style seorang sutradara sangat dibutuhkan dalam memberikan kesan yang kuat dimata audiencenya. Apakah Valhalla Rising memenuhi kriteria tersebut. Jawabannya "sangat".

Alkisah seorang bekas pejuang suku Viking bernama One Eye ditawan dan dipaksa berkelahi habis habisan untuk memenangkan perjudian atasannya. Dari hasil perjudian itulah ia bisa bertahan hidup dan mendapatkan makanan. Seorang anak dekil bernama Are secara rutin ditugaskan mengantarkan makanan dan air kepadanya yang tinggal disebuah kerengkeng kayu. Didalam kerengkeng tersebut ia tetap dijaga ketat oleh beberapa penjaga yang mengitarinya.
One Eye yang ternyata bisu disepanjang alur cerita diperlihatkan memiliki kemampuan lebih dalam menerawang kejadian kejadian yang akan terjadi kedepan. Dengan visualisasi yang sangat kental berwarna merah pekat, ia merencanakan meloloskan diri dengan sisa sebuah mata panah yang terletak didalam sebuah kolam tempat dia berendam.Dengan perencanaan yang sangat rapi dan menegangkan One Eye berhasil memutuskan tali yang melilit lehernya selama digiring dipendakian dan membunuh semua serdadu serdadu tersebut (jangan lupakan adegan merobek isi perut yang membuat tubuh mual) kecuali Are yang lantas mau mengikutinya kearah mana ia berjalan. Ditengah pengelanaan merekaberdua menuju jalan pulang mereka bertemu dengan rombongan suku Viking lain yang sedang beristirahat. Suku Viking tersebut akan mengadakan perjalanan jauh menuju Yerusallem, Tanah Suci mereka yang telah dikuasai oleh pihak lain.Mereka akan mengadakan perang besar sesuai dengan apa yang mereka percayai bahwa dengan mengorbankan darah dan daging mereka, dosa dosa yang telah mereka perbuat akan diampuni. Pemimpin kaum Viking itu membujuk One Eye untuk bergabung dengan mereka. Mereka berdua akhirnya mengikut kaum tersebut menuju tanah Yerussalem.

Perjalanan yang menggunakan kapal kayu tersebut membutuhkan waktu yang teramat lama. Kelaparan,rasa haus dan penderitaan melanda mereka. Tidak ada yang bisa dikonsumsi. Pun demikian salah satu dari mereka nekat meminum air laut yang memiliki kadar garam yang meracuni tubuh dan mati seketika.Mereka pun bertanya tanya dalam hati apakah yang akan terjadi selanjutnya? apakah mereka sampai di tanah Suci tersebut? atau mereka salah haluan...
Apakah ketersesatan mereka disebabkan membonceng sibisu yang misterius yang sempat dikatakan Are , One Eye "
datang dari neraka...."

"kelam, sadis namun indah" menyaksikan Valhalla Rising kita seperti menyimak potret potret khas Terreance Malick dengan nuansa horor.Ya kita kenal beliau adalah sutradara yang paling lihai dalam urusan ini. Dan olahan Winding Refn dengan jalinan naskah yang tidak memadai ditambah referensi yang rumit ia mengajak kita untuk mengambil esensi bernilai sebuah sinema berupa gambar gambar yang teruntai dari satu frame ke frame lain. Kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang begitu panjang dan tidak terselesaikan yakni "siapa Valhalla yang dimaksud?" begitu juga dengan karakter One Eye yang misterius tentang asal usul dan tujuannya didalam. Ada gagasan gagasan yang sangat filosofis yang dibangun sang sutradara dalam menghadirkan konflik didalamnya. Sebuah sajian yang begitu tinggi pemahamannya. Walau bagi saya setting dan waktu film ini tampak tidak begitu akurat, Valhalla Rising tampak menjanjikan sebagai karya yang pantas diapresiasi walau dengan tanda kutip tidak semua bisa dengan mudah menyukainya.

Film ini juga dihadirkan dalam enam chapter dengan maksud mendongkrak keintensan ceritanya yang dinilai tidak biasa , apalagi durasinya yang hanya sembilan puluh menit serasa begitu berharga setiap gambar yang ditake.Adegan sadis didalamnya tampil begitu indah dan dengan memamfaatkan pebukitan Eropa yang menjulang, sang sinematogapher dengan jeli tidak mensiasiakan begitu saja scene tersebut.

Valhalla Rising adalah sebuah pencapaian yang sangat mengagumkan selama saya menyaksikan kehadiran film film paruh awal ini, ia tampil dengan luar biasa. Andai durasinya diperpanjang dan dijadikan sebuah
epic movie tidak bisa disangkal lagi film ini akan diingat sebagai karya yang monumental.


Directed by Nicolas Winding Refn, Cast Mad Mikelssen, Maarten Stevenson, Grodon Brown, Andrew Flanagan, Gary Lewis,Alexandre Morton Screenplay Ray Jacobsen, Nicolas Winding Refn Running Time 93 menit Company BBC Films Country Denmark,UK
.................................
New Line Cinema Score
A-




Diberdayakan oleh Blogger.