Kehidupan suku Aborigin di Australia memang menarik untuk ditelusuri, apalagi bagi setiap penonton yang memiliki keinginan yang sangat luas dalam mengembangkan ilmu antropologinya, Ten Canoes adalah pilihan yang tepat sebagai bahan untuk pembelajaran. Ten Canoes adalaf film yang mengangkat kehidupan suku Aborigin sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Kehidupan yang indah dan kuno itu disajikan dengan sangat sederhana dan voice over menarasikan alur ceritanya.
Melalui pendekatan yang sedemikian, Ten Canoes menyajikan suatu tuturan budaya yang spiritualis, dan sangat lekat dengan akar akar kebudayaan, seperti bagaimana tanah mereka tercipta, aturan aturan yang diterapkan, serta bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain.


Ada kepolosan alamiah yang disandang oleh mereka, ada kesenian yang melekat dalam peradabannya, serta ada keteguhan yang menyertai sistem hukum yang sudah lama mereka tegakkan. Sehingga Ten Canoes begitu apik dalam menelaah sisi yang mereka miliki sehingga kita penontonnya yang juga tergolong multi ras sangat mudah menikmati semua sisi sajian ini.Terlebih dengan banyaknya kita menemui persamaan pola hidup nenek moyang kita dizaman dulu dengan mereka, yang menjadikan semua itu terlihat cukup menyenangkan.Bicara tentang menyenangkan itu sendiri, Ten Canoes hadir dengan selipan selipan yang humoris dan bisa membuat anda tertawa terbahak bahak, karena tingkah laku pola mereka yang sangat alami, lucu dan sangat kuno.

Ten Canoespun tak ada ubahnya merupakan sajian antropologis yang sangat teduh, alami, dengan shot shot apik yang puitis disana sini , yang sempat mengingatkan saya dengan The New World, Ten Canoes berada pada sentuhan yang mengagumkan untuk mencapai semua itu.Kisahnya pun sangat unik,dongeng tentang masa lalu dimana berisikan ilmu sihir, penculikan, balas dendam dan cinta yang penuh dengan kekeliruan.

Namun Ten Canoes sangat disayangkan Voice Over Ten Canoes memakai bahasa Inggris, sehingga ada rasa yang kurang sedap jika elemen orisinilitas diperdebatkan. Rasanya film tentang budaya harus mengangkat bahasa budaya sebagai bagian dari peradaban budaya, misalnya film tentang budaya batak mungkin akan sangat menyenangkan jika bahasa batak diperdendangkan, sehingga ada feel yang masuk dengan utuh dan menyeluruh disana.Tapi tak apa apa , mungkin pemakaian bahasa inggris tentu dalam rangka internasionalisasi film ini.

Ten Canoes dengan upaya sang sutradara Rolf De Heer telah mampu mengangkat kultur budaya Aborigin ke pentas internasional, hebatnya pujian melimpah menghapiri cerita ini.Saya masih berharap sineas negara indonesia mau untuk memproduksi film sejenis, tentu ada harapan yang besar ketika kita tahu identitas kita sebagai negara multi ras dan budaya,sehingga itu semua rasanya bukan angan angan.Bertindak lokal maka hasilnya mengglobal.

Directed by Rolf De Heer Cast Crusoe Kurddal Jamie Gulpilil Richard Birrinbirrin Duration 90 Minutes Country Australia Language English
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE

.....................
B







"Ketika Harry bertemu dengan Sally" begitulah nafas title dari kisah ini, entahlah ketika saya memiliki niatan

untuk mengulas kembali kisahnya, ada banyak hal yang tampak sangat menyenangkan untuk diceritakan kembali,
ada keabadian yang tak lekang oleh roda waktu, ada nuansa jadul yang mejadi tenaga kisah ini, serta ada tampak sebuah metoda kisah yang sepertinya sudah berpuluh ribu judul film , mini seri, serial ataupun sinetron mengangkat tema yang sejenis. Namun lucunya tak satupun yang bisa seabadi When harry Met Sally.Oh itu benar.., seakan akan kita dengan mudahnya menarik kesimpulan dari pengamatan itu bahwa When Harry Met Sally adalah basis dari romantic comedy dijagat sinema dunia.

"ketika Harry bertemu dengan Sally" tak ada yang dinamakan itu sudah takdir, tidak ada pemakaian istilah "love
at the first sight" semua bergulir dengan proses naratif,perkenalan secara antar pribadi.Dimulai dimasa masa muda, ketika Sally menolong pacar sahabatnya untuk memberikan tumpangan mobil dari Chicago menuju New York.
pacarnya bernama Harry Burns (Billy Crystal) pria yang lancar sekali berbicara, seakan akan mengetahui banyak hal didunia ini, sedangkan Sally (Meg Ryan) adalah gadis manis yang cerdas,ia mengenyam pendidikan jurnalistik dan berkeinginan menjadi wartawan.Maka dimulailah road movie dan mereka pun bersahabat, penuh obrolan yang sangat argumentatif, dimata kita Harry mungkin pria yang seolah olah mengetahui banyak hal tentang wanita, pun dalam urusan seks, Sally mungkin terlihat sama, ia sangat cerdas dan cekatan, segala sesuatunya penuh perhatian, pun dalam urusan makan ketika mereka turun dirumah makan, segala sesuatunya harus dipinggir, sangat otentik.
Cerita disajikan sangat menarik,naskah olahan Nora Ephorn sangat bernaas.Hingga akhirnya mereka telah sampai di Ne york lalu merekapun berpisah

Lima tahun lamanya mereka berpisah dan bertemu kembali disuatu bandara.Sally sudah berpacaran dan ia seorang jurnalis di majalah The News, sedangkan Harry adalah seorang konsultan yang akan segera menikah.Mereka masih sama saja, obrolannya penuh perdebatan dan tentunya mengalir dengan cukup kocak, namun sayang diceritakan Sally akhirnya putus, dan Harrypun bercerai.Namun dalam hal ini mereka bertolak belakang,sally terlihat biasa saja dalam menghadapi keadaan walau ia memang masih bersedih, namun hal itu tidak berlaku pada Harry, ia masih sangat menginginkan sang istri yang menceraikannya.

"ketika Harry bertemu dengan Sally" tentu mungkin kita akan tahu seperti apa rupa akhir kisah ini.ceritanya mungkin terlihat klise- bahwa memang hidup ini penuh dengan keklisean, tetapi sesungguhnya When Harry Met Sally mencoba menguntai ragam argumentasi yang sejak awal dibangun tadi menjadi sebuah penemuan antara keklisean dan keabadian.Hidup adalah klise dan keklisean adalah keabadian,dan hal itulah yang sepertinya selalu dijumpai dalam kehidupan yang nyata dan dapat diterima jika sesungguhnya itu dijalankan.Inilah unsur yang sangat dekat dengan diri kita dan rasa rasanya kitalah subyek dari kesemua konten itu.Dan disinilah kita secara tidak langsung merenungi arti sebuah pertemuan, apa itu persahabatan,apa itu makna cinta yang kerap dinilai menghancurkan dan ternyata tanpa kita sadari kita sudah membangunnya, hingga kita dapat melihat bahwa hey itulah keabadian hidup ini yang akan kita rasakan dan kita nikmati sampai kita tua.
Coba lihat klip transisi antar bagian film dimana diselipkan beberapa pasangan orang tua yang menceritakan cerita awal kisah mereka, ya saya tertawa bahagia- sangat sederhana namun penuh momen dan makna yang menghantarkan mereka pada keabadian cinta.Letak inilah yang saya sukai dan nikmati.

Rob reiner berhasil membangun chemistry yang sangat kuat diantara Billy Crystal dan Meg Ryan, Billy Crystal tak ada ubahnya sebagai komedian yang sangat kocak, hingga sampai saat inipun dia dikenal sebagai presenter oscar yang paling disukai, sedangkan Meg Ryan semakin mengkilap sebagai Ratunya romantic Comedy, kiprah dia yang lalu pasti bakal yang merindukannya. Selain Rob Reiner sesungguhnya pujian melimpah harus disematkan kepada Nora Ephorn yang juga dikenal dengan menyutradari Sleepless In Seattle (1993) yang juga sangat fenomenal.
Nora Ephron membangun When Harry Met Sally dengan naskah naskah yang bernaas, begitu mengalir dan cukup deras dengan teori teori yang banyak dicari dalam urusan percintaan.Adegan favorite saya di When Harry And Sally tentu disaat Sally bersimulasi orgasme didepan Harry didalam sebuah restoran.Harry sebagai perwakilan seorang pria tidak mempercayai wanita mampu memalsukan orgasme mereka dan selama ini pria selalu yakin telah memuaskan mereka.Setelah bersimulasi seorang Pengunjung disebelahnya mengatakan pada pelayan "I'll have what's she's having".Dan naskah penutupnya pun sarat makna, "apakah seharusnya kita melupakan teman lama, dan jikalau itu telah terjadi apakah kita harus mengingat mereka kembali, yang sesungguhnya tidak akan pernah terjadi karena kita telah melupakannya..." jawaban Sally diakhir percakapan itu sangat tak terlupakan.
directed by Rob Neider cast Billy Crystal, Meg Ryan, Carrie Fisher,Bruno Kirby Screenplay Nora Ephron RunTime 96 Minutes Year 1989 Country USA
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
A+


Sungguh sebuah tantangan untuk memparafrasekan kembali apa sebenarnya isi dan kandungan Syndromes And a Century ini dan menguraikannya dalam susunan kata kata yang menjelaskan (atau mungkin malah saya mengaburkan) meta meaning didalamnya. ya makna dibalik makna, ketika desain setiap scene yang bergerak didalamnya bukanlah alur yang mengindikasikan suatu pergerakan plot melainkan suatu sajian komparasi atau perbandingan yang penuh dengan geliat gambar gambar metafor dalam kadar yang teramat tinggi-disitulah kita mulai diperkenalkan sentuhan sentuhan yang rasanya teramat khas dan idealis.Dari konteks komparasi itulah memberikan suatu kebebasan bagi sang sutradara untuk bereksperimen sepuasnya yang menghasilkan gaya bertutur yang tidak menggebu gebu dan tampak sedikit arogan, seperti bagaimana penempatan kredit title yang tidak lazim, shot yang terlalu memubazirkan waktu yang menguji ketahanan audiens, sampai pada aspek aspek lain yang intinya memungkinkan setiap audiens selalu menggerutu.Dari konteks komparasi itu jugalah audiens menerima ragam interpretasi, yang dihasilkan oleh unsur realisme (lari dari kenyataan) yang sangat pekat dan selalu membayang bayangi setiap lini ceritanya.

Sebelum menghumbar lebih panjang, saya perkenalkan dahulu sang sutradara bernama Apichatpong weerestakhul, sutradara yang paling dihormati dijagat persinemaan film seni.Dalam bahasa saya sebelumnya 'saya senang sekali menggunakan istilah "sutradara serumpun kita" karena ini adalah salah satu usaha saya untuk mengakrabkan diri dengan persinemaan disana. Mungkin secara geografis kita lebih dekat dengan Malaysia ataupun dengan Vietnam namun entah mengapa Thailand sesungguhnya adalah saudara yang paling mengerti apa yang dibutuhkan negara ini dalam membangkitkan persinemaan.ketika menyaksikan perkampungan yang kerap dijadikan elemen penyerta disetiap shotnya, hinggap nuansa pedesaan yang tenang dan jauh dari hingar bingar kota.Elemen itulah yang selalu saya nikmati terlebih ceritanya dituturkan dalam pembawaan yang tenang, setiap karakter dihidupkan oleh apa yang mereka ucapkan, dan hal yang paling saya senangi adalah guyonan yang begitu jenaka.

Melalui Syndromes And A Century ia mendedikasikan film ini kepada orang tuanya yang seorang dokter melalui sebuah hasil dari memori pada pengamatannya dulu disebuah rumah sakit pedesaan.Film ini menceritakan dua kisah yang disajikan secara terpisah namun memiliki kedekatan dan kemiripan naskah yang sama- yakni dua orang dokter Dr.Toey (Nantarat Sawaddikul) dan Dr.nohng (Jaruchai Iamaram).Yang satu berlatar belakang pedesaan sedangkan yang satu lainnyaberlatar belatar kota namun terpisah selama rentang tiga puluh tahun lamanya.

Disinilah komparasi dimulai walau hal itu dimulai di pertengahan cerita.Yang diklinik pedesaan mengisahkan seorang dokter wanita yang ditaksir seorang laki laki, tidak ada hubungan yang terjalin karena arahnya tidak kesana.Si wanita malah menceritakan pria lain yang ia sukai yang membuatnya jatuh cinta.Kita akan disuguhkan elemen elemen sosialnya seperti apa, ada rasa malu malu,kesopanan masih dijunjung tinggi terlihat dengan banjirnya ucapan "pardon me" dari mulut mereka,begitu juga dengan sikap pacaran antara dua makhluk berbeda gender, ada kelekatan alamiah yang hidup disini.Ketika dokter dan pasien berkonsultasipun juga sama, kedekatannya hangat sekali, ketika menghadapi pasien yang lebih tua ada perlakuan yang sangat santun.Begitu juga dengan orang orang dilingkungan kliniknya, seperti orang orang yang senam bersama sama, hadir canda disana sini.
Masih bersetting dipedesaan mengisahkan seorang dokter gigi dan pasiennya diruangan operasi.Ada nuansa kedekatan dan keakraban yang begitu natural hinggap diantara pasien dan dokter.Sang pasien pun bisa berpanjang lebar tentang kehidupan pribadinya sebagai seorang biksu sedangkan sang dokter mengisahkan dirinya adalah seorang penyanyi yang sudah memiliki album hits.Adegan dokter gigi menyanyi nyanyi sambil tertawa tawa kecil pada pasien dieksekusi begitu baik sebagai penggambaran kedesaannya.


Kemudian adalah kisah yang kedua,kita kembali lagi pada awal adegan yang persis sama dengan adegan pembuka yakni sebuah tanya jawab seorang dokter dan dua orang pemuda, kali ini settingnya sangat modern, mewah dan canggih.Adegannya pun sama, seorang pasien yang berkonsultasi dengan dokter, orang orangnya sama, dokter giginya sama, dan pasien dokter giginyapun sama.Namun tidak ada kedekatan yang terjalin disini, adegan ketika dokter gigi terlihat dingin menghadapi pasiennya dihadirkan dengan begitu sunyi, tidak ada tawa lagi.Interaksi antara pria dan wanita disinipun sangat kurang pantas, tidak ada lagi hubungan yang malu malu, tidak ada etiket yang baik disini seperti mereka berciuman satu sama lain, mereka mengendap ngendap seperti menyembunyikan hal tabu tersebut.lingkungannya juga demikian, sudah sangat modern, aerobik modern dan gaya perkotaan yang modern, tidak ada interaksi yang terlihat,tidak ada kebersamaan yang terlintas walau saya menilai kebersamaan itu ada karena keakraban, kejenakaan begitu tergerus oleh waktu.


salah satu shot terbaik "Syndromes And A Century"

Sebagaimana yang telah saya tuturkan tadi tentang isi dan kandungan, penterjemahan sepintas tadi mungkin boleh dianggap sebagai isi, namun benarkah isi selalu sinergis dengan kandungan?Nah inilah kehebatan Apicatphong weerestakhul. Metafora terlalu riuh bergerak gerik disini dan sangat dekat dengan realisme.Saya tidak tahu dengan pasti hubungan yang tepat antara metafora dan realisme, siapa membangun siapa atau siapa dibangun oleh siapa.Dari sinilah saya menyimpulkan keantah berantahannya, antah berantah tidak bervalensi secara negatif, antah berantah itu membangun suatu pengalaman sinematik yang luar biasa walau kerap tidak memuaskan.contohnya tema reinkarnasi (walau dalam porsi yang sedikit) sesungguhnya merupakan elemen yang memperkuat identitas pedesaan itu seperti apa.Ada harapan yang amat kekal yang berkaitan dengan waktu ketika dokter yang diceritakan merindukan mendiang abangnya tersebut ingin berharap berjumpa kembali hanya untuk meminta maaf.Pasien yang mendengarnya tersebut pergi dengan nada keheningan,tetap dengan tanpa penjelasan yang perlu, namun didalam hati tentu menyembul nyembul kegundahan, takut ketika persepsi personal itu salah, karena terlalu kentalnya ambiguitas yang melekat- sehingga hal itu tak ubahnya memecah belah pandangan.
Ada banyak shot shot yang mungkin terlihat sangat persimbolan dan perlambangan. seperti gambar diatas, ketika salah satu pasien buntung berjalan dikoridor, terlihat sangat menghentak. Sedangkan ibu ibu yang melihat kamera ketika orang orang disekitarnya memperhatikan seorang pasien adalah pencapaian scene paling puncak bagi saya, sebuah puncak keambiguan yang sesungguhnya sangat menggetarkan.
Syndromes And A Century, dengan segala kompleksitas unsur yang diusungnya sesungguhnya begitu nikmat untuk diobrolkan panjang lebar.Dan memang tidak ada salahnya anda mencobanya suatu waktu.

Directed by Apichatppong Weerestakhul Cast Arkanae Cherkam,Jaruchai Iamaram,Sakda Kaewbuadee, Sin Kaewpakpint Duration 105 Minutes Country Thailand, France, Austria Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
A+



Writing (Original Screenplay)

Dari jauh jauh hari saya sudah memprediksi naskah David Seidler "The King's Speech" akan mengunci kategori yang satu ini.Naskah Mike Leigh yang merupakan satu satunya harapan dari si single fighter Another Year nampaknya tidak bisa diremehkan.Begitu juga dengan naskah Inception yang juga tidak gentar menghadapai The King's Speech, lihat! Dengan begitu mengejutkannya Inception memborong Original Screenplay dari Writers Guild Award (WGA).Yups kapan lagi kita bisa diarahkan oleh suatu rekonstuksi mimpi yang begitu menakjubkan dari dunia sinema? Ada sisi originalitas dan dobrakisme yang dimiliki oleh Christopher Noland dan tidak dimiliki kandidat lain. So kategori utama ini jelaslah akan menjadi harapan paling besar untuk anda anda yang mengaku Nolanisme.
Should Win :Inception
Will Win :Tke King's Speech

Writing (Adapted Screenplay)
Aaron Sorkin terlampau berjaya disini, dan jika ditelisik kekuatan pesaing pesaingnya lagi, tidak akan memberikan perlawanan yang berarti.Naskahnya yang kebut kebutan namun tetap mensinergikan unsur serius dan hiburan adalah poin paling gampang diingat dari sini.Ya kita tidak perlu berpikir banyak serta meragukan apakah Aaron Sorkin yang bakal menaiki tangga podium nanti.
Should Win :The Social Network
Will Win :The Social Network

Visual Effects
Kelima kandidat memberikan tayangan visual yang sangat mengejutkan.Ada yang diperkuat dengan keartistikannya, sedangkan yang lain diperkuat dengan design produksinya.Namun hal yang terpenting sesungguhnya ialah bahwa kekuatan cerita tidak boleh dikesampingkan walau sehebat apapun sajian visual yang memanjakan mata anda. Maka dari itu tipis harapan untuk "Hereafter" Clint Eastwood dan "Alice In Wonderland" Tim Burton. Khusus untuk Iron Man 2 saya belum mau menontonnya jadi saya tidak akan ngoceh apa apa.Tersisa dua kandidat “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1” dan “Inception”. Saya rela jika Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 yang disebut sebut seri terdahsyat akan mendapatkan yang satu ini.Namun apalah daya lawannya terlalu kuat.
Should Win :Inception
Will Win :Inception

Sound Mixing
Roger Ebert dengan beraninya memilih The Social Network untuk kategori yang satu ini. Tahukah Anda saya juga akan melontarkan nada yang sama, Social Network menyajikan setiap alur dengan kesunyian dan kemeriahan dengan batas batas sound mixing yang menawan.Pembawaannya begitu tenang dan menghadirkan suatu titik kepuasan jika menyaksikannya.Masalahnya adalah benarkah kategori ini bisa disabet dari tangan pesaing lain yang bergenre action semisal Inception? Ah saya masih optimistis untuk itu.
Should Win :The Social Network
Will Win :Inception

Sound Editing
Nah kategori ini mudah saja. Richard King perwakilan sound department Inception yang paling anyar disini.Setelah kemenangannya yang lalu di Master and Commander: The Far Side of the World dan The Dark Knight rasanya beliau akan merayakan pesta dirumah untuk piala Oscar ketiganya.
Should Win : Inception
Will Win : Inception

Music (Original Song)
Kategori ini yang saya favoritkan karena lagu adalah bagian dari hidup saya dan semua orang pada umumnya.Jadi bicara bagian dari hidup itu rasanya "We Belong Together" Randy Newman untuk Toy Story 3 memenuhi kriteria tadi.Ketika persahabatan kepada mainan mainan tersebut yang menghadirkan romansa,tawa,canda dan keharuan membaur dalam saat saat perpisahan yang menggetarkan hati, Toy Story 3 sudah memiliki reputasi klasik oleh siapapun yang pernah bersamanya termasuk juri Oscar disini.Tapi tunggu dulu, sepekan ini saya juga terjebak dengan tembang surga yang syahdunya begitu meluluhkan hati “If I Rise” dari“127 Hours” musik oleh A.R. Rahman ( Lyric by Dido and Rollo Armstrong).Namun Oscar begitu ramah terhadap lagu lagu country belakangan ini, seperti kemenangan "The Weary Kind" Ryan Bingham tahun lalu (Oh memang lagu ini luar biasa sekali liriknya).Namun “Coming Home” dari “Country Strong” harus banyak banyak minum air karena sepertinya tahun ini bukan tahunnya lagu lagu country. Dua lagu tadi yang jadi sorotan dunia.
Should Win : If I Rise
Will Win :We Belong Together

Music (Original Score) Saya sempat menahan nafas sesaat ketika BAFTA menolak Trent Reznor dan Atticus Ross dilima besarnya.Namun akhirnya lega juga karena sudah mengetahui bahwa tidak ada kaitannya sama sekali BAFTA dan AMPAS, sehingga scoring sebrilian ini tetap selamat dipenjaringan Oscar.Scoring “127 Hours” A.R. Rahman menjadi pilihan kedua saya.Sebenarnya saya adalah penggemar Alexandre Despalt (Fantastic Mr Fox, Ghost Writer).Saya salah satu yang jengkel berat mengapa scoring Up - Giacchino yang bisa menang tahun lalu bukannya Desplat. di Mr Fox.Ini pendapat pribadi namun scoring Fantastic Mr Fox begitu khas dan unik.Saya malah lebih rela scoring Fantastic Mr Fox ini kalah dengan Scoring Where The Wild Things Are dari Carter Burwell (Hehehe).
(Back to topic) Yups tidak ada lagi bantahan Trent Reznor dan Atticus Ross yang akan naik kepodium menerima piala paman bugil itu.
Should Win : The Social Network - Trent Reznor dan Atticus Ross
Will Win :The Social Network - Trent Reznor dan Atticus Ross

Makeup
Tiga kandidat didalamnya belum ditonton namun suaranya terbelah dua.Ropeof Silicon mengatakan Barney's Version yang akan menang karena profil film ini lebih melesat dengan kemenangan Paul Giamatti di Golden Globe (memangnya ngaruh?) sedangkan suara terbanyak mengatakan The Wolfman paling menonjol dalam urusan make up sehingga layak dimenangkan. Ngapain pusing pusing? Toh ini khan kategori hiburan.
Should Win :The Wolfman
Will Win :The Wolfman

Foreign Language Film
Nah ini dia kategori yang paling sering saya soroti selama sebulan ini, begitu menantang untuk membedah siapakah yang akan menang.Yups dengan latar belakang penyeleksian yang begitu ketat dan tampak menguras hati dan tenaga, maka sudilah kita semua memberikan standing applouse untuk siapapun yang menang disini.Foreign Language adalah barometer perkembangan film film internasional diluar Hollywood dan Inggris, termasuk Indonesia tentunya.Hanya saja semangat Indonesia untuk tembus kategori ini masih terlalu kerdil loyo dan tidak bergairah.
(Let's the main point) In A Better World bukan jagoan disini.Mentang mentang sudah menang di Golden Globe, apa bisa melenggang begitu saja di Oscar? Huuh...Dua terkuat datang dari Biutiful dan Incendies. Saya sering mengkaji (Hallaahh..) peta kekuatan dua film ini dan seberapa mampukah keduanya bersaing memenangkan piala ini. Biutiful tampak begitu cantik dengan kehebatan Javier Bardem di leading actor? Oh ini kerap jadi parameter sederhana untuk menebak Biutiful yang akan menang? Ah apa se simple itu? Analisis saya (eh sok sekali..): Leading actor Javier BArdem sama sekali tidak berpengaruh terhadap suara juri Oscar dan saya benar benar skeptis besar. Kecuali anda mintanya dengan kondisi "Life Is Beautiful" tahun 1999 lalu ketika film ini dinominasikan dibest pictures dan roberto benigni dinominasikan best actor bahkan memenangkannya.
Nah INCENDIES bagi saya satu dua tingkat lebih berpeluang disini.Terlebih saya mendapat banyak dukungan dari Roger Ebert dan situs Ropeof silicon yang mengutarakan hal yang sama. Namun toh tanggal 27 Februari nanti kita akan menyaksikan apa analisis saya benar benar BENAR atau benar benar SALAH. Itu sisi menariknya..
Should Win : INCENDIES
Will Win : INCENDIES

Film Editing
Hahaha buat yang pro TSN rasanya bolehlah sedikit angkuh dan sangar disini...
Should Win :THE SOCIAL NETWORK
Will WIn :THE SOCIAL NETWORK

Documentary (Feature)
Acuan saya cuman satu yakni film dokumenter manakah yang menang DOCUMENTARY SCREENPLAY di Writers Guild Award. Inside Job yang memilikinya
Should Win :INSIDE JOB
Will WIn :INSIDE JOB

Costume Design
Collen Atwood, Sandy Powel dan Jenny Beavan yang paling senior disini.Namun kali ini saya harus menyingkirkan Sandy Powel untuk filmnya The Tempest, sehingga tersisa dua Collen Atwood untuk Alice In Wonderland dan Jenny Beavan untuk The King's Speech. Jenny Beavan sedikit beruntung lantaran ia merancang kostum untuk film high profil The King's Speech.Dan bisa saja itu mempengaruhi juri Oscar.Namun perasaan saya tidak enak dengan kostum The King's Speech dan lebih menyukai kostum ALice In Wonderland, terlebih kemenangannya di BAFTA kemarin.
Should Win :Alice iN Wonderland
Will Win : Alice In WOnderland
Cinematography
Sinematographer yang saya cintai Roger Deakins sudah lama memimpikan piala OScar pertamanya.Sembilan kali dinominasikan sepanjang hidupnya sembilan kali pula ia tidak bisa menang.Kejam kau Oscar.
Should Win :Roger Deakins - True Grit
Will Win :Roger Deakins- True Grit

Art Direction
Lagi lagi pertarungan Alice in WOnderland dan The King's Speech..Namun hati saya beda kali ini. King's Speech cukup kuat untuk menutup wajah Alice In WOnderland.Tim Burton telah kehilangan magis artistiknya, tentu Oscar juga pasti menyadari hal itu.
Should Win :King's Speech
Will Win :King's Speech

Animated Feature Film
Of Course Woody And Friends...
Should Win :Toy story 3
Will Win : Toy story 3

Actress in a Supporting Role
Masih memang memperdebatkan pecahnya suara The Fighter untuk Amy Adams dan Melissa Leo.. Hainlee Steinfeld siap membuntuti dari arah belakang dan kebetulan saya menyukainya. Bagi saya Hainlee Steinfeld pemenangnya disini, namun apa mungkin Oscar perdananya muncul dinominasi perdananya pula, terlebih umurnya masih belia.Sedangkan Jacki Weaver dan Helena Bonham Carter kurang berpotensi disini.Khusus Helena Bonham Carter- kemenangannya di BAFTA adalah keberuntungan semata hehehe.
Should Win :Heinlee Steinfeld - The Fighter
Will Win : Melissa Leo - The Fighter

Actor in a Supporting Role
Kalau kebanyakan orang mengatakan Christian Bale yang luar biasa disini, saya malah tetap nempel dengan John Hawkes.Namun ini tahunnya Bale dan saya sudah sejak lama looh menunggu Bale di kancah penghargaan besar.Ini saat yang tepat dimoment yang tepat.
Should Win :Christian Bale - The Fighter
Will Win : Christian Bale - The Fighter

Actress In Leading Role
Natalie Portman memang melejit disini, namun empat kandidat lain telah menampilkan performa yang briliant dan hal itu pantas diapresiasi.Anette Bening yang sudah saya sukai dari awal, Nicole kidman yang sudah kembali se memorable lagi sejak The Hours dulu, Jennifer Lawrence yang begitu dingin jika melihat berapa tahun umurnya, dan istri mendiang Heath Ledger "Michelle Williams" yang total gila dengan adegan dewasanya yang frontal. I LOVE YOU LADY.....
Should Win : Michelle Williams - Blue Valentine
Will WIn : Natalie Portman - Black Swan

Actor in a Leading Role
Tetaplah fokus diduel "Sigagap bicara versus Si Fasih Bicara" walau nampaknya sudah ketahuan siapa yang akan menang dan mendapat standing ovation yang menggelegar nantinya.
Should Win :Collin Firth - The King's Speech
Will Win : Collin Firth - The King's Speech

Directing
Yups akhirnya kita mencapai kategori utama yang sangat amat bergengsi.Achievement Of Directing. Tetap tulisan saya ini sangat subyektif dengan jagoan saya David Fincher - The Social Network.Social Network adalah pencapaian directing paling menggelegar bagi saya. Cukup lega sebenarnya ketika Christopher Noland DITENDANG dari wilayah ini, sehingga memudahkan saya untuk mengambil keputusan.
Should Win :David Fincher - The Social Network
Will Win : David Fincher - The Social Network

Best Motion Picture
Tidak ragu ragu lagi saya menyatakan diri saya sebagai #TEAMTSN yang PRO The Social Network. Entahlah mengapa ketika juri juri penghargaan yang lain mempermudah jalan The King's Speech untuk melenggang sebagai juara, apakah Oscar memang tipikal juri yang ikut ikutan kena arus.Ah kalau begitu Oscar memang kerap mengecewakan hati saya. Hati ini semakin ciut ketika King's Speech adalah kandidat yang mengangkat tema yang sangat bersahaja kepada selera Oscar. Kisah bangsawan terkenal Duke Of York, Latar Belakang Perang dunia II, ada embel embel NAzi pula..Lengkaplah sudah...mengharuskan TeamTSN merapatkan barisan (well tetap berdoa maksudnya...)
Should win : The Social Network
Will win : The King's Speech


Recap :
# King's Speech Wins 4 #The Social Network Wins 4 #The Fighter Wins 2 #Toy Story 3 Wins 2 #Inception wins 3 #Alice In Wonderland Wins 1 #Incendies Wins 1 ##Black Swan Wins 1 #Wlfman wins 1 #Inside Job WIns 1 #True Grit Wins 1


Diberdayakan oleh Blogger.