Sungguh sebuah tantangan untuk memparafrasekan kembali apa sebenarnya isi dan kandungan Syndromes And a Century ini dan menguraikannya dalam susunan kata kata yang menjelaskan (atau mungkin malah saya mengaburkan) meta meaning didalamnya. ya makna dibalik makna, ketika desain setiap scene yang bergerak didalamnya bukanlah alur yang mengindikasikan suatu pergerakan plot melainkan suatu sajian komparasi atau perbandingan yang penuh dengan geliat gambar gambar metafor dalam kadar yang teramat tinggi-disitulah kita mulai diperkenalkan sentuhan sentuhan yang rasanya teramat khas dan idealis.Dari konteks komparasi itulah memberikan suatu kebebasan bagi sang sutradara untuk bereksperimen sepuasnya yang menghasilkan gaya bertutur yang tidak menggebu gebu dan tampak sedikit arogan, seperti bagaimana penempatan kredit title yang tidak lazim, shot yang terlalu memubazirkan waktu yang menguji ketahanan audiens, sampai pada aspek aspek lain yang intinya memungkinkan setiap audiens selalu menggerutu.Dari konteks komparasi itu jugalah audiens menerima ragam interpretasi, yang dihasilkan oleh unsur realisme (lari dari kenyataan) yang sangat pekat dan selalu membayang bayangi setiap lini ceritanya.

Sebelum menghumbar lebih panjang, saya perkenalkan dahulu sang sutradara bernama Apichatpong weerestakhul, sutradara yang paling dihormati dijagat persinemaan film seni.Dalam bahasa saya sebelumnya 'saya senang sekali menggunakan istilah "sutradara serumpun kita" karena ini adalah salah satu usaha saya untuk mengakrabkan diri dengan persinemaan disana. Mungkin secara geografis kita lebih dekat dengan Malaysia ataupun dengan Vietnam namun entah mengapa Thailand sesungguhnya adalah saudara yang paling mengerti apa yang dibutuhkan negara ini dalam membangkitkan persinemaan.ketika menyaksikan perkampungan yang kerap dijadikan elemen penyerta disetiap shotnya, hinggap nuansa pedesaan yang tenang dan jauh dari hingar bingar kota.Elemen itulah yang selalu saya nikmati terlebih ceritanya dituturkan dalam pembawaan yang tenang, setiap karakter dihidupkan oleh apa yang mereka ucapkan, dan hal yang paling saya senangi adalah guyonan yang begitu jenaka.

Melalui Syndromes And A Century ia mendedikasikan film ini kepada orang tuanya yang seorang dokter melalui sebuah hasil dari memori pada pengamatannya dulu disebuah rumah sakit pedesaan.Film ini menceritakan dua kisah yang disajikan secara terpisah namun memiliki kedekatan dan kemiripan naskah yang sama- yakni dua orang dokter Dr.Toey (Nantarat Sawaddikul) dan Dr.nohng (Jaruchai Iamaram).Yang satu berlatar belakang pedesaan sedangkan yang satu lainnyaberlatar belatar kota namun terpisah selama rentang tiga puluh tahun lamanya.

Disinilah komparasi dimulai walau hal itu dimulai di pertengahan cerita.Yang diklinik pedesaan mengisahkan seorang dokter wanita yang ditaksir seorang laki laki, tidak ada hubungan yang terjalin karena arahnya tidak kesana.Si wanita malah menceritakan pria lain yang ia sukai yang membuatnya jatuh cinta.Kita akan disuguhkan elemen elemen sosialnya seperti apa, ada rasa malu malu,kesopanan masih dijunjung tinggi terlihat dengan banjirnya ucapan "pardon me" dari mulut mereka,begitu juga dengan sikap pacaran antara dua makhluk berbeda gender, ada kelekatan alamiah yang hidup disini.Ketika dokter dan pasien berkonsultasipun juga sama, kedekatannya hangat sekali, ketika menghadapi pasien yang lebih tua ada perlakuan yang sangat santun.Begitu juga dengan orang orang dilingkungan kliniknya, seperti orang orang yang senam bersama sama, hadir canda disana sini.
Masih bersetting dipedesaan mengisahkan seorang dokter gigi dan pasiennya diruangan operasi.Ada nuansa kedekatan dan keakraban yang begitu natural hinggap diantara pasien dan dokter.Sang pasien pun bisa berpanjang lebar tentang kehidupan pribadinya sebagai seorang biksu sedangkan sang dokter mengisahkan dirinya adalah seorang penyanyi yang sudah memiliki album hits.Adegan dokter gigi menyanyi nyanyi sambil tertawa tawa kecil pada pasien dieksekusi begitu baik sebagai penggambaran kedesaannya.


Kemudian adalah kisah yang kedua,kita kembali lagi pada awal adegan yang persis sama dengan adegan pembuka yakni sebuah tanya jawab seorang dokter dan dua orang pemuda, kali ini settingnya sangat modern, mewah dan canggih.Adegannya pun sama, seorang pasien yang berkonsultasi dengan dokter, orang orangnya sama, dokter giginya sama, dan pasien dokter giginyapun sama.Namun tidak ada kedekatan yang terjalin disini, adegan ketika dokter gigi terlihat dingin menghadapi pasiennya dihadirkan dengan begitu sunyi, tidak ada tawa lagi.Interaksi antara pria dan wanita disinipun sangat kurang pantas, tidak ada lagi hubungan yang malu malu, tidak ada etiket yang baik disini seperti mereka berciuman satu sama lain, mereka mengendap ngendap seperti menyembunyikan hal tabu tersebut.lingkungannya juga demikian, sudah sangat modern, aerobik modern dan gaya perkotaan yang modern, tidak ada interaksi yang terlihat,tidak ada kebersamaan yang terlintas walau saya menilai kebersamaan itu ada karena keakraban, kejenakaan begitu tergerus oleh waktu.


salah satu shot terbaik "Syndromes And A Century"

Sebagaimana yang telah saya tuturkan tadi tentang isi dan kandungan, penterjemahan sepintas tadi mungkin boleh dianggap sebagai isi, namun benarkah isi selalu sinergis dengan kandungan?Nah inilah kehebatan Apicatphong weerestakhul. Metafora terlalu riuh bergerak gerik disini dan sangat dekat dengan realisme.Saya tidak tahu dengan pasti hubungan yang tepat antara metafora dan realisme, siapa membangun siapa atau siapa dibangun oleh siapa.Dari sinilah saya menyimpulkan keantah berantahannya, antah berantah tidak bervalensi secara negatif, antah berantah itu membangun suatu pengalaman sinematik yang luar biasa walau kerap tidak memuaskan.contohnya tema reinkarnasi (walau dalam porsi yang sedikit) sesungguhnya merupakan elemen yang memperkuat identitas pedesaan itu seperti apa.Ada harapan yang amat kekal yang berkaitan dengan waktu ketika dokter yang diceritakan merindukan mendiang abangnya tersebut ingin berharap berjumpa kembali hanya untuk meminta maaf.Pasien yang mendengarnya tersebut pergi dengan nada keheningan,tetap dengan tanpa penjelasan yang perlu, namun didalam hati tentu menyembul nyembul kegundahan, takut ketika persepsi personal itu salah, karena terlalu kentalnya ambiguitas yang melekat- sehingga hal itu tak ubahnya memecah belah pandangan.
Ada banyak shot shot yang mungkin terlihat sangat persimbolan dan perlambangan. seperti gambar diatas, ketika salah satu pasien buntung berjalan dikoridor, terlihat sangat menghentak. Sedangkan ibu ibu yang melihat kamera ketika orang orang disekitarnya memperhatikan seorang pasien adalah pencapaian scene paling puncak bagi saya, sebuah puncak keambiguan yang sesungguhnya sangat menggetarkan.
Syndromes And A Century, dengan segala kompleksitas unsur yang diusungnya sesungguhnya begitu nikmat untuk diobrolkan panjang lebar.Dan memang tidak ada salahnya anda mencobanya suatu waktu.

Directed by Apichatppong Weerestakhul Cast Arkanae Cherkam,Jaruchai Iamaram,Sakda Kaewbuadee, Sin Kaewpakpint Duration 105 Minutes Country Thailand, France, Austria Genre Drama
MOAN AND NEW LINE CINEMA SCORE
A+


Diberdayakan oleh Blogger.